.:: Home > Berita
EKSPLORASI LAUT DALAM HALMAHERA
(29-01-2011) www.kompas.com

Menindaklanjuti ekspedisi laut dalam di perairan Sangihe Talaud, Sulawesi Utara, dalam Exploration Sangihe Talaud atau Index-Satal pada tahun 2010, Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat akan melanjutkan ekspedisi yang sama di wilayah perairan Halmahera, Maluku Utara, pada sekitar bulan Juni atau Juli tahun 2011.

Hal itu dikemukakan Koordinator Tim Periset Indonesia dalam Index-Satal 2010 Sugianta Wirasantosa seusai diskusi webchat via internet di acara ”Live from the Seafloor! A Dynamic Look at the US-Indonesia Science and Technology Partnership”, Jumat (7/1) di Jakarta.

”Itu baru kira-kira karena masih didiskusikan bagaimana aspek sainsnya. Yang jelas, kami memilih wilayah timur karena masih banyak biota ekosistem laut dalam yang belum kita ketahui,” kata Sugianta.

Seperti halnya Sangihe Talaud, perairan Halmahera juga dinilai menarik karena termasuk wilayah coral triangle. Kepala National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Jane Lubchenco mengaku pihaknya tengah mempersiapkan ekspedisi yang kedua dengan tetap menggunakan peralatan remotely operated vehicle (ROV) dari Kapal Okeanos Explorer milik AS.

”Eksplorasi ini penting apalagi jika dikaitkan dengan keamanan pangan. Kita harus memahami dan memanfaatkan laut dan kekayaannya agar kelangsungan laut dan biotanya terjaga. Kita harus mengerti bagaimana mengatur perikanan dan ekosistem laut,” kata Lubchenco, seorang ahli lingkungan dan ekologi laut itu.

Lubchenco juga berharap, hasil temuan ekspedisi laut para periset pada tahun lalu akan bisa digunakan baik oleh Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah AS untuk menyusun kebijakan terkait kelautan dan perikanan. ”Data hasil ekspedisi sudah ada. Analisis para periset sudah ada. Kini terserah kepada pemerintah mau diapakan hasil itu,” ujarnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad yang juga hadir mengakui belum memberi perhatian penuh pada studi kelautan dan perikanan. Karena itu, ia berencana menambah studi-studi dan institusi pendidikan khusus kelautan dan perikanan sekaligus meningkatkan kerja sama dengan berbagai negara seperti AS.

”Ilmu pengetahuan tidak bisa lagi ditutupi menjadi milik kita sendiri, termasuk kekayaan laut. Yang bisa kita lakukan adalah membuka pintu selebar-lebarnya dan menempatkan orang-orang kita dalam eksplorasi. Hasil- nya juga kita yang pegang,” ujarnya.

Kerja sama dengan AS ini penting, kata Sugianta, karena Indonesia tidak mampu mengeksplorasi laut dalam hingga kedalaman 6.000 meter. Kemampuan kapal Indonesia hanya bisa sampai kedalaman 2.000 meter.

Padahal, laut dalam menjadi titik pertemuan lempeng-lempeng tektonik penting bagi Indonesia yang berada di wilayah cincin api.

”Selama ini, kita belum pernah mendapatkan gambar lengkap. Hanya kira-kira saja,” tuturnya.

Utusan Khusus Gedung Putih untuk Bidang Sains dan Teknologi Bruce Alberts mengingatkan, kerja sama dalam bidang sains dan teknologi seharusnya gencar dilakukan karena otomatis akan merangsang minat para siswa dan peneliti muda.

”Kami berharap para peneliti muda dan siswa bisa tertarik setelah melihat hasil-hasil eksplorasi laut dalam yang dipublikasikan di internet. Bahkan, mereka bisa mengikuti perjalanan eksplorasi dalam real time,” kata ahli biokimia itu.

Harapan yang sama dikemukakan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Scot Marciel. Untuk kerja sama yang kedua dari kedua negara tersebut, pada tahun 2011 akan dimulai program pertukaran peneliti muda, yaitu mereka yang berusia 35 tahun-40 tahun.