.:: Home > Berita
TIM SURVEI DATANGI TALAGA LINA
(16-09-2009) Administrator

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Halmahera Utara terus melakukan pendataan terhadap setiap lokasi yang dianggap layak untuk dijadikan obyek wisata. Setelah sebelumnya melakukan survey air terjun dikawasan Mede-Mamuya maka kali ini giliran Talaga Lina di kecamatan Kao Barat yang didatangi tim survei.

Tim survei yang terdiri dari 19 staf Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dengan dipimpin langsung oleh Kepala Dinas, Drs. E.J. Papilaya, MTP pada 15 September 2009 yang lalu berangkat meninjau lokasi danau yang dipercaya sebagai tempat asal-mula suku Tobelo itu.

Talaga Lina terletak di pertengahan jalan antara Kusuri dan Wangongira. Dari jalan utama, lokasi telaga berjarak sekitar 16 Km dengan medan yang datar dan sedikit menanjak. Dari 16 Km tersebut, 10 Km diantaranya dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan beroda empat dan sisanya dengan berjalan kaki. Dari Tobelo, perjalanan menuju lokasi akan memakan waktu sekitar 2 jam.

Talaga Lina sendiri bukanlah telaga yang besar apalagi bila dibandingkan dengan talaga Duma di Galela. Ukurannya juga masih lebih kecil dibandingkan talaga Paca. Namun cerita bahwa talaga Lina merupakan tempat asal-mula suku Tobelo tentunya menarik untuk ditelusuri. Bukti bahwa cerita tersebut bukan sekedar mitos sedikit banyak terbukti oleh bahasa yang digunakan. Meskipun hanya berjumlah sekitar 20 KK, penduduk yang mendiami lokasi sekitar talaga menggunakan bahasa Tobaru dan Tobelo Boe (bahasa Tobelo yang lebih halus) dalam berkomunikasi.

Dari sisi keasriannya, talaga Lina dapat dikatakan memiliki kondisi yang sangat asri. Lokasinya yang jauh dari keramaian membuat telaga yang dikelilingi oleh pepohonan bambu dan sagu itu memiliki nilai tersendiri. Meskipun pada umumnya semua telaga yang terdapat di Halmahera Utara masih tergolong asri, namun apa yang ditawarkan telaga Lina yang terpencil akan memberikan nuansa berbeda. Philemon Kuat, salah seorang staf yang ikut serta dalam perjalanan kali ini mengatakan bahwa kehidupan di telaga Lina mengingatkannya pada situasi kampung halamannya pada era 70-an.

Talaga Lina sendiri dapat dikatakan memberikan kehidupan bagi masyarakat setempat. Beragam keong dan ikan air tawar seperti mujair dan nila banyak terdapat di sana. Tak heran apabila masyakat dari desa tetangga seperti dari desa Kai, Wangongira dan Birinoa sering datang ke tempat ini untuk ikut menikmati hasilnya. Bagi anda yang tertarik dengan wisata sejarah maka mengunjungi telaga Lina sudah tentu harus masuk dalam daftar lokasi yang harus dikunjungi.

Tim survei sendiri berada di lokasi selama hampir 5 jam sebelum akhirnya kembali pulang ke Tobelo.