Loloda, Toma Ngara Ma Beno

Pengantar

Perjalanan waktu yang panjang dari kehidupan manusia di daerah ini hingga keberadaan kita saat ini, cenderung secara alamiah maupun tindakan ketidaksadaran manusia melunturkan fakta-fakta sejarah.

Oleh karena itu, kesadaran untuk menguak kembali fakta-fakta historis sebagai landasan berpijak ke depan yang lebih baik adalah tindakan yang sangat bijaksana. Tindakan ini merupakan salah satu makna belajar sejarah, yakni menjadi manusia yang bijaksana dalam berpikir dan bertindak.

Mengacu pada topik di atas, maka makna belajar sejarah dari tulisan ini paling tidak dapat menggugah kesadaran akan nilai-nilai sejarah tanpa harus terjebak pada romantisme masa lalu.

Untuk itu bagi generasi Loloda, adalah sesuatu yang tidak berlebihan jika mempelajari sejarahnya sekaligus merekonstruksi nlai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai upaya merancanag bagun masa depan negerinya yang lebih baik.

Loloda dalam Kerumunan Politik di Masa Lalu

Perkembangan sejarah Maluku Utara telah memperlihatkan bahwa Loloda merupakan sebuah kawasan dengan komunitas masyarakat yang pada awalnya terbentuk melalui jaringan kekuasaan tradisional. Kondisi ini adalah sesuatu yang tidak bisa dipungkiri karena wilayah ini pernah dilegitimasi melalui organisasi politik yang berbentuk kerajaan.

Dalam catatan sejarah politik di Maluku Utara, dijelaskan bahwa Kerajaan Loloda merupakan salah satu Kerajaan Maluku yang tidak terkonfigurasi dalam kesatuan Moloku Kie Raha (Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo). Kenyataan ini disebabkan Kerajaan Loloda tidak sempat menghadiri pertemuan Raja-raja Maluku di Pulau Moti (Moti Staten Verbond) pada tahun 1322 yang diprakarsai oleh Raja/Kolano Ternate Sida Arief Malamo.

Tidak dijelaskan secara jelas dalam sumber tertulis kapan Kerajaan Loloda ini terbenuk. Sejarawan Paramita Abdurrahman mencatat bahwa menurut sumber dari Nagara Kartagama Majapahit sebagamna ditulis oleh MPU Prapnca menyebutkan bahwa pada masa paling awal telah berkuasa seorang Kolano di Loloda Halmahera.

Menurut Pemerhati Sejarah lokal Abdul Hamid Hasan dalam bukunya "Aroma Sejarah dan Budaya Ternate" mengungkapkan bahwa secara umum Kerajaan-kerajaan Maluku termasuk Kerajaan Loloda dan Kerajaan Moro berdiri pada abad ke-13. Bahkan disebutkan juga bahwa dua kerajaan ini adalah yang tertua di Halmahera.

Dalam Kroniek Van Het Rijk Batjan (Kronik Kerajaan Bacan) sebagaimana ditulis oleh Coolchaas, dikisahkan bahwa Kerajaan Loloda didirikan oleh Kaicil Komalo Besy, putera Sultan Bacan yang pertama Said Muhammad Baqir Bin Jafar Shadik yang bergelar Sri Maharaja yang bertahta di bukit Sigara dengan perkawinannya dengan Boki Topowo dari Galela.

Menurut cerita masyarakat Loloda mengungkapkan bahwa Kerajaan Loloda didirikan oleh seorang tokoh legendaris yang datang dari Ternate via Galela. Tokoh ini berama Kolano Tolo alias Kolano Usman Malamo. Peristiwa kedatangan Raja Loloda ini berkaitan dngan meletusnya Gunung Tarakani di Galela (cerita lain menyebut Gunung Mamuya) yang kemudian mendorong tokoh ini menyingkir ke Loloda. Dari inilah yag kemudian menjadi cikal-bakal nama Loloda yang dalam bahasa Galela disebut Loda yang berarti pindah atau hijrah. Sebelumnya nama Loloda adalah Jiko Mabirahi.

Dari beberapa versi di atas menunjukkan bahwa keberadaan Loloda dalam sejarah kekuasaan politik di Maluku jelas merupakan suatu keniscayaan sejarah. Sebagai Kerajaan yang tidak mengikuti Persekutuan Moti (Moti Staten Verbond) tahun 1322 sebagaimana disebutkan di atas, maka Kerajaan Loloda pun kemudian tidak terlalu mendominasi panggung sejarah Maluku Utara. Hal ini adalah sesuatu yang tidak bisa dipungkiri karena sesungguhnya pengaruh politik Kerajaan Loloda juga tidak teralalu signifikan dalam percaturan politik Kerajaan-kerajaan Maluku ketika itu.

Ketika datangnya bangsa Portugis di Maluku pada abad ke-16, pengaruh Kerajaan Loloda sudah tidak berpengaruh untuk kepentingan Portugis. Dari sejumlah sumber yang ada, hanya mengungkapkan bahwa kepentingan Portugis di Halmahera Utara lebih menonjol pada kawasan Kerajaan Moro yang belakangan terbagi menjadi Moro-Tia dan Moro-Tai (Moro Daratan dan Moro diseberang Lautan). Kondisi ini terekam dari pengaruh Missi Ordo Jesuit Khatolik yang pada akhirnya berhasil membaptis sebagian orang-orang Moro termasuk Raja Moro di Mamuya dengan nama baptisan Don Joao de Mamuya.

Ketika Sultan Baabullah Datu Sjah berhasil mengusir Portugis dari Maluku, Kerajaan Moro kemudian dianeksasi dan digabungkan kedalam wilayah Kesultanan Ternate. Peristiwa ini terjadi pada perempatan terakhir abad ke-16. Dengan demikian maka riwayat Kerajaan Moro pun praktis berakhir. Sementara Kerajaan Loloda masih tetap eksis sebagai salah satu Kerajaan Maluku di Utara Halmahera. Sebagai Kerajaan Maluku yang terletak di Utara Halmahera, Kerajaan Loloda berkedudukan sebagai "Ngara Mabeno" (Dinding Pintu) yang berfungsi sebagai penjaga Pintu dari Utara.

Dalam memori serah terima jabatan Gubernur VOC Maluku dari Robertus Padtgbrugge (1677-1682) kepada penggantinya Gubernur Yacob Loobs (1682-1684), secara jelas telah menyampaikan kedudukan Raja-raja Maluku yakni: Loloda, Ngara Mabeno (Dinding Pintu), Jailolo, Jiko maklano (Penguasa Teluk), Tidore, Kie Makolano (Penguasa Pegunungan), Ternate, Alam Makolano (Penguasa Maluku) dan Bacan, Dehe Makolano (Penguasa Daerah Ujung). Dari memori ini menunjukan bahwa sampai abad ke-17, Kerajaan Loloda tersebut masih tetap eksis dan berintegrasi sebagai salah satu Kerajaan Maluku sebagaimana halnya Kerajaan Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo.

Bahkan bila dikaji secara objektif, bisa dijelaskan bahwa eksistensi Kerajaan Jailolo-lah yang kemudian berakhir pada abad ini juga yakni pada pada tahun 1684 ketika wafatnya Pangeran Jailolo Kaicil Alam. Perlu juga ditambahkan bahwa sebelum wafat, Kaicil Alam telah ditempatkan sebagai kerabat Kesultanan Ternate karena dinikahi dengan Boki Gamalama adik Sultan Sibori Amsterdam Ternate. Setelah Kacil Alam wafat, maka Jailolo yang sebelumnya berstatus sebagai Kerajaan menurun menjadi Distrik dibawah otoritas Kesultanan Ternate dengan Kepaa Distrik atau Hoofh Distrik bergelar Sangaji Jailolo.

Sementara status dan pengaruh politik Kerajaan Loloda baru mengalami degradasi pada Abad ke-18. Kondisi ini bisa dilihat bahwa secara politis, dalam abad ke-18 ini Maluku Utara hanya terbagi kedalam tiga kerajaan yang mempunyai hubungan formal dengan VOC yang berkepentingan mengamankan monopoli rempah-rempah. Ketiga kerajaan tersebut adalah: Ternate. Tidore dan Bacan. Sedangkan Kerajaan Loloda seakan-akan disetarakan statusnya setingkat Distrik seperti halnya Kerajaan Jailolo yang telah menjadi Distrik sejak abad ke-17.

Hal ini bisa dilihat berdasarkan sumber sejarah yang tersedia menjelaskan bahwa dalam abad ke-18 ini terdapat sembilan Distrik di Halmahera Utara yang berada dibawah Kesultanan Ternate, yakni (1) Galela (2) Tobelo (3) Kau (4) Loloda (5) Gamkonora (6) Tolofuo (7) Tobaru (8) Sahu dan (9) Jailolo. Juga terdapat satu Distrik di Zazirah selatan yakni Distrik Gane. Dalam sumber ini lebih jelas diungkapkan bahwa Penguasa Loloda tidak pernah menyandang gelar Kepala Distrik atau yang biasa disebut Sangaji, tetapi Penguasa Loloda tetap menggunakan gelar Kolano Loloda. Ini menunjukan bahwa ada upaya Penguasa Loloda untuk mempertahankan integritas Kerajaannya. Sementara di Jailolo, Kepala Distriknya tetap menggunakan gelar Sangaji Jailolo.

Status Jailolo kemudian mengalami kontroversi antara Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore ketika Sultan Nuku sengaja membangkitkan kembali Kerajaan Jailolo pada tahun 1796 dengan mengangkat Jogugu Kesultanan Tidore dengan gelar Muhammad Arif Billa sebagai Sultan Jailolo. Sebelum memangku jabatan Jogugu, Muhammad Arif Billa pernah memangku jabatan Sangaji Tahane Makian sehingga ia sering disebut Jogugu Tahane.

Upaya Nuku untuk menghidupkan kembali Kerajaan Jailolo ini merupakan inspirasi dari cita-cita pendahulunya yakni Sultan Syaifuddin yang pernah berinisiatif untuk menghidupkan kembali Kerajaan Jailolo sebagai salah satu pilar pranata politik di Maluku. Akan tetapi inisiatif Sultan Sayifudin ketika itu tidak pernah ditanggapi oleh VOC maupun Kesultanan Ternate sebagai patner kepercayaannya.

Keberadaan Kerajaan Jailolo yang dibentuk oleh Nuku dengan mengangkat Muhammad Arif Billa sebagai Sultan Jailolo sesungguhnya menimbulkan kontroversi antara sebagian orang-orang Alifuru yang telah menjadi kawula Kesultanan Ternate dan sebagian lainnya yang menyatakan setia kepada Nuku. Hal ini terjadi karena Muhammad Arif Billa bukan berasal dari keturunan Raja-raja Jailolo. Akan tetapi menurut Nuku, bahwa pengangkatan Muhammad Arif Billa sebagai Sultan Jailolo adalah sah.

Dalam satu suratnya kepada Gezaghebber Ternate, Nuku menjelaskan bahwa pengangkatan Raja Jailolo itu didukung tidak saja oleh para Bobato negeri Soa-sio dan negeri-negeri lainnya di Pulau Tidore, tetapi juga oleh para Bobato Halmahera Timur (Maba, Weda, Patani) dan beberapa Bobato di Halmahera Utara termasuk Raja Loloda dan anggota bangsawan Ternate yang melarikan diri ke Tidore.

Dalam uraian Surat Nuku kepada Gesaghebber Ternate di atas, bisa dikatakan bahwa Kerajaan Loloda dalam pandangan Nuku pun masih memiliki kekuasaan atas wilayahnya. Sedangkan fungsi Kesultanan Jailolo yang baru dibentuknya itu pada prinsipnya berada dibawah Nuku dalam mengimbangi hegemoni terhadap Kerajaan-kerajaan Maluku lainnya terutama Ternate. Sementara dimata Kesultanan Ternate, bisa dikatakan bahwa status Jailolo tetap merupakan sebuah Distrik yang berada dibawah otoritasnya.

Eksistensi Kerajaan Jailolo yang dibentuk oleh Nuku di atas ternyata tidak berlangsung lama. Setelah Nuku wafat pada tahun 1805, integritas Kerajaan Jailolo inipun terancam dan mendorong Raja Jailolo Muhammad Arif Billa bersama keluarga dan pengikutnya meningalkan Jailolo. Mereka memburu hutan belantara menuju pedalaman Timur Halmahera dan akhirnya Muhammad Arif Billa tewas akibat terjatuh di sebuah jurang yang sangat berbahaya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1807.

Setelah Muhammad Arif Billa wafat, puteranya Kimalaha Sugi mendeklarasikan dirinya sebagai Sultan Jailolo dihadapan pengikutnya dengan gelar Muhammad Asgar. Ketika Inggris berkuasa di Maluku (1810-1817), Muhammad Asgar tidak diakui sebagai Sultan Jailolo karena ia belum pernah diangkat oleh satu penguasa yang berhak, dan menurut Inggris ia tidak berhak menggunakan gelar Sultan Jailolo. Ia kemudian ditangkap dan di asingkan ke Seram Utara.

Dari peristiwa inilah keluarga dan pengikut Muhammad Asgar kemudian mengungsi ke Seram Utara untuk bergabung dengan Muhammad Asgar yang dianggap sebagai Rajanya. Akan tetapi ketika Inggris menyerahkan kembali kekuasaan di Maluku kepada Belanda pada tahun 1817, Muhammad Asgar kemudian diserahkan kepada Belanda. Ketika Muhammad Asgar mengajukan permohonan kepada Panitia pengambil alih kekuasaan dari Inggris kepada Belanda-agar dibebaskan dan diperkenankan untuk kembali memimpin masyarkatnya di Halmahera, ia pun kemudian diasingkan lagi oleh Belanda ke Jepara.

Setelah Muhammad Asgar diasingkan ke Jepara, adiknya Hajudin menyatakan dirinya sebagai Sultan Jailolo terhadap pengikutnya. Ia dan pengikutnya meminta kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mengakui sebagai Sultan Jailolo. Permintaan itu dilakukan melalui tekanan dan aksi-aksi, akan tetapi upaya mereka tidak pernah ditanggapi oleh pihak Belanda bahkan Hajudin dinyatakan statusnya sebaai buron dan pembangkan.

Pengakuan Pemerintah Hindia Belanda tehadap Kerajaan Jailolo sebagamana yang diupayakan oleh Hajudin dan pengikutnya di atas, baru membuahkan hasil ketika Pitter Merkus menjabat sebagai Gubernur Maluku (1822-1828). Akan tetapi Gubernur Pitter Merkus mengusulkan agar Kerajaan Jailolo yang akan dibentuk berlokasi di suatu koloni wilayah di Seram Pasir bukan di Halmahera. Usulan ini akhirnya diterima oleh Hajudin, namun kedudukan Sultannya diserahkan kepada kakaknya Muhammad Asgar yang berada di Jepara. Berdasarkan permintaan Hajudin tersebut, pada tahun 1825 Pemerintah Hindia Belanda pun mengembalikan Muhammad Asgar ke Ambon dan pada tangal 25 Januari 1826, Muhammad Asgar dilantik sebagai Sultan Jailolo yang akhirnya dikenal dalam sejarah sebagai Kerajaan Jailolo di pengasingan Seram.

Sebagai Kerajaan yang memiliki hubungan politik dengan Belanda, Kerajaan Jailolo di pengasingan Seram inipun praktis berada dbawah kendali Pemerintah Hindia Belanda. Ketika Muhammad Asgar dan pengikutnya membangkan ingin kembali membangun kekuasaannya di Jailolo Halmahera, pada tahun 1830 Pemerintah Hindia pun kemudian melikuidasi Kerajaan Jailolo di Pengasingan Seram ini. Muhammad Asgar dan keluarganya kemudian diasingkan ke Cianjur Jawa Barat. Peristiwa ini menandakan berkahirnya Kerajaan Jailolo babak kedua.

Sementara Status Jailolo di Halmahera tetap merupakan sebuah Distrik dibawah otoritas Kesultanan Ternate dengan Kepaa Distrik bergelar Sangaji Jailolo. Pada tahun 1868, status Distrik Jailolo berubah menjadi Soa/Kampung dengan Kepala Kampung bergelar Fanyira Jailolo.

Belakangan pada tahun 1886, Dano Hasa Baba seorang bangsawan asal Ternate berupaya untuk menghidupkan kembali Kerajaan Jailolo. Ia meminta kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mengakuinya sebagai Sultan Jailolo. Akan tetapi permintaannya tidak pernah mendapat respon positif bahkan ia dianggap menjadi pembangkan.

Dano Hasan kemudian ditangkap dan diasingkan ke Pulau Muntok Sumatera. Sementara status Loloda tetap dipandang sebagai sebuah Distrik meskipun Penguasa Loloda tidak pernah menyandang gelar Kepala Distrik atau sangaji tetapi senantiasa memakai titel Kolano Loloda.

Dalam Suarat Gezaghebber Ternate tertanggal 8 September 1808 yang memuat laporan tahunan kepada Gubernument, menjelaskan bahwa Kepala Distrik Loloda yang memakai titel Kolano Loloda memiliki perangkat Pemerintahan seperti pada Kerajaan Ternate yakni Bobato Madopolo yang lengkap yang terdiri dari Jogugu, Kapita Laut, Hakim sampai pada Sowohi dan Jabatan-jabatan dibawah lainya. Kenyataan ini menunjukan bahwa pada abad ke-19 ini, Kerajaan Loloda masih tetap eksis, hanya saja peranan politiknya tidak bisa mengimbangi kekuatan politik Kerajaan Ternate, Tidore dan Bacan. Bahkan Loloda seakan-akan berada dibawah Kesultanan Ternate dalam membangun hubungan politik dan ekonomi dengan Belanda.

Dalam Silsilah Raja-raja Loloda maupun sumber-sumber lisan masyarakat Loloda, mengungkapkan bahwa Kerajaan Loloda baru berakhir pada awal abad ke-20 yakni pada tahun 1908. Dalam sejarah masyarakat Loloda, tahun 1908 dikenang dengan sebutan Kolano Madodogu (Masa Raja terakhir). Peristiwa ini berkaitan dengan pergolakan politik di internal kerajaan dan pengaruh kebijakan Pemerintah Hindia Belanda terhadap pembayaran Balasting (Pajak Diri).

Diungkapkan dalam kisah ini bahwa ketika wafatnya Kolano Sunia dalam bilangan awal abad ke-20 ini, terjadi perebutan Tahta Kolano Loloda oleh empat orang Kaicil (Jongofa) yakni Jongofa Arafane, Jongofa Syamsudin, Jongofa Nasu dimana ketiganya merupakan putera dari Kolano Sunia dan Jongofa Koyoa yang merupakan putera dari Kapita Lau Dumba. Dalam perebutan ini, Jongofa Syamsuddin berhasil menduduki Tahta Kolano Loloda atas keinginan para Bobato dan pertimbangan Kesultanan Ternate maupun Belanda. Sementara Jongofa Arafane direstui sebagai Kapita Lau, Jongofa Nasu diberi penghormatan sebagai Kapita Lau Majojo (Kapita Lau Muda). Sementara Kayoa hanya berhak menyandang gelar Jongofa atau Kaicil.

Karena tidak merasa puas dengan kedudukannya, Koyoa pun kemudian memutuskan untuk tidak bergabung dengan keluarga Istana. Ketika dilakukan penagihan Balasting oleh pegawai utusan Belanda di Loloda, Kayoa mengajukan protes terhadap Kolano Syamsuddin karena dianggap tidak bijaksana menjadi seorang Kolano. Ia membiarkan pihak Belanda memungut pajak secara semena-mena terhadap rakyat. Menurut Kayoa, pembayaran Balasting atau pajak mesti diserahkan oleh rakyat kepada pihak kerajaan bukan kepada Belanda.

Aksi Kayoa ini diekspresikan dengan memprovokasi warga untuk menjatuhkan kewibawaan Kolano Syamsuddin. Ketika utusan/mantri Pajak Belanda sedang berada di dalam Keraton Loloda, seorang Kapita dari Soa Laba yang bernama Sikuru dengan dua rekannya Bagina dan Tasa dari Soa Bakun mendatangi Keraton sambil membunuh Mantri Pajak Belanda tersebut di hadapan Kolano Syamsuddin dan Joboki Habiba sebagai bentuk protes terhadap Kolano Syamsuddin. Kapita Sikuru, Bagina dan Tasa adalah pesuruh Kaicil Kayoa.

Akibat pembunuhan terhadap Mantri Pajak Belanda di atas, menimbulkan amarah pihak Belanda karena dianggap menentang kebijakan Pemerintah Hindia. Belanda pun kemudian mendatangkan aparat keamanannya untuk meredah aksi yang dilakukan oleh tiga warga Loloda tersebut. Akan tetapi kedatangan aparat Belanda di Loloda tersebut sempat dihadang oleh Kapita Sikuru dari Soa Laba dan sekelompok masyarakat yang telah disiapkan oleh Kaicil Kayoa.

Perlawanan ini oleh masyarakat Loloda dikenang sebagai peristiwa Perang Laba (Gogoru Laba) tahun 1908. Perlawanan terhadap Belanda tersebut, mengakibatkan Kolano Syamsuddin diminta untuk mempertanggungjawabakan aksi warganya. Ia kemudian dibawa ke Ternate bersama permaisurinya Joboki Habiba dan anak-anaknya.

Karena tidak dapat mempertanggung jawabkan aksi yang dilakukan oleh warganya, Kolano Syamsuddin pun kemudian tidak diperkenankan kembali ke Loloda. Ia sempat dibawa ke Jawa dan baru diperkenankan kembali ke Ternate pada tahun 1915. Sementara Permaisurinya dan anak-anaknya tetap berada di Ternate. Joboki Habiba wafat pada tahun 1912 dan Kolano Syamsuddin wafat pada tahun 1915. Keadaan ini menggambarkan bahwa Kolano Syamsudin wafat setelah dikembalikan oleh Belanda dari pengasingan di Pulau Jawa.

Sementara di Jailolo, pemberontakan serupa baru terjadi pada tahun 1914 yang dipelopori oleh Kapita Banau. Atas pemberontakan tersebut, Kontrollir Belanda Aggerbek tewas terbunuh.

Sebagai akibat dari pemberontakan yang dilakukan oleh warga Jailolo tersebut di atas yang telah menjadi kawula Kesultanan Ternate mengakibatkan Sultan Ternate Muhammad Usman Sjah dituduh oleh Belanda terlibat dalam pemberontakannya. Atas tuduhan itu, maka melalui Keputusan (Besluit) Gubernument no. 47 tertanggal 23 September 1915, Sultan Muhammad Usman kemudian dinyatakan diberhentikannya sebagai Sultan Ternate. Ia dan putera tertuanya diasingkan ke Bandung dan baru diperkenankan kembali ke Ternate pada tahun 1933. Semasa dalam pengasingannya, Pemerintahan Kesultanan Ternate dijalankan oleh para Bobato. Hal ini berdasarkan Besluit Pemerintah Hindia Belanda no. 7 tangal 10 Mei 1916.

Setelah diasingkannya Kolano Syamsuddin sejak tahun 1908 ketika terjadi pergolakan di Loloda, maka mulai saat itulah Kerajaan Loloda pun berakhir. Loloda pun kemudian menjadi wilayah otoritas penuh dibawah Kesultanan Ternate, meskipun pada masa sebelumnya Loloda sudah merupakan bagian dari Kerajaan Ternate dalam membangun hubungan politik dan ekonomi dengan Belanda.

Berdasarkan sumber-sumber dari masyarakat Loloda, bahwa setelah berakhirnya kekuasaan Kolano Syamsuddin atas negeri Loloda, Pemerintahan di Loloda kemudian disesuaikan dengan menggunakan gelar Sangaji. Hal ini berbeda dengan masa sebelumnya, yakni Penguasa Loloda senantiasa memakai titel Kolano Loloda. Dijelaskan lebih lanjut bahwa para sangaji Loloda adalah orang-orang luar yang ditempatkan oleh pihak Kesultanan Ternate.

Belakangan pada tahun 1930, status Distrik Loloda dibagi menjadi empat Onder Distrik dengan Kepala Onderf Distrik (Hoof Onder Distrik) disebut Hamente (terkadang disebut Kepala Mente), yakni:

  1. Onder Distrik Soa-sio yang mencakup wilayah Loloda bagian Selatan dengan Kepala Onder Distrik atau Hamente dipegang oleh Kaicil Djami Bin Syamsuddin (Putera Kedua Kolano Syamsuddin),
  2. Onder Distrik Baja yang mencakup wilayah Loloda bagian Tengah dengan kepala Onder Distrik atau Hamente dipegang oleh Kaicil Puasa (Putera Kapita Lau Arafane),
  3. Onder Distrik Dama untuk wilayah Loloda bagian Kepulauan dengan Kepala Onder Distrik atau Hamente dipegang oleh Hammanur, dan
  4. Onder Distrik Dorume untuk Loloda bagian Utara.

Hal ini berdasarkan Zelf Bestuur Releging Pemerintah Hindia Belanda tahun 1930 yang tetap membagi Pemerintahan Maluku Utara kedalam tiga Swapraja Kesultanan yakni Swaparaja Kesultanan Ternate, Tidore dan Bacan. Tiap Swaparaja Kesultanan dibagi kedalam beberapa Distrik dan Distrik membawahi beberapa Onder Distrik.

Status Loloda setelah Kemerdekaan Indonesia

Pada masa-masa awal kemerdekaan Indonesia, Pemerintahan Maluku Utara masih menerapkan pola Pemerintahan sebelumnya yakni kolaborasi antara pola Pemerintahan ala kerajaan dan pola Pemerintahan Hindia Belanda. Pada fase ini daerah Maluku Utara masih berbentuk Keresidenan. Sedangkan pada tingkat bawah dinamakan Distrik dengan Kepala Distrik disebut Sangaji. Sementara Onder Distrik sudah tidak diberlakukan. Keadaan ini berlangsung sampai tahun 1960 saat perubahan nomenklatur dari nama Keresidenan menjadi Kabupaten dan Distrik berubah menjadi Kecamatan. Salah satu ciri yang membedakan dengan masa sebelum kemerdekaan adalah Kepala Keresidenan atau Residen pada masa setelah kemerdekaan ini dijabat oleh Sultan.

Adapun nama-nama Residen Maluku utara dimaksud adalah:

  1. Residen Iskandar Muhammad Djabir Sjah (Sultan Ternate) 1945-1954
  2. Residen Zainal Abidin Sjah (Sultan Tidore) 1954-1956
  3. Residen Dede Muksin Usman Sjah (Sultan Bacan) 1956-1960

Berkenaan dengan pola Pemerintahan di atas, maka pengangkatan dan penempatan para Kepala Distrik atau sangaji masih menjadi kewenangan Sultan yang juga sebagai Kepala Daerah atau Residen, tidak terkecuali bagi Distrik Loloda.

Status Loloda sebagai Distrik merupakan konsekuensi dari sistem penyetaraan status Kerajaan Loloda setingkat Distrik sejak abad ke-18 meskipun Kepala Distrik Loloda (Hoofh Distrik) senantiasa memakai titel Kolano Loloda. Akan tetapi satu hal yang berbeda setelah kemerdekaan Indonesia ini adalah terdapat kedudukan Sangaji Loloda dan juga ada kedudukan Jogugu Loloda.

Sangaji Loloda ditempatkan oleh Residen Maluku Utara saat itu yang juga selaku Sultan Ternate untuk menjalankan Pemerintahan Distrik. Sedangkan Jogugu Loloda dikukuhkan oleh Kesultanan Ternate sebagai Pemimpin masyarakat Adat di Loloda. Adapun Jogugu Loloda pada masa itu adalah Kaicil atau Jongofa Djami Bin Syamsuddin, putera kedua Kolano Syamsuddin (Raja Loloda terakhir).

Dalam kedudukannya sebagai Jogugu Loloda yang dikukuhkan oleh Kesultanan Ternate, keberadaannya dalam masyarakat Loloda, ia diangap sebagai Kolano. Hal ini dilakukan karena kebiasaan masyarkat Loloda yang mengangap seorang Jongofa adalah pewaris Tahta Kolano sebagaimana yang melekat pada Jongofa Hi. Djami Bin Syamsuddin. Oleh masyarakat Loloda ketika itu, ia mendapat penghormatan sebagaimana layaknya seorang Kolano. Ia tidak disebut sebagai Jogugu melainkan Jou Kolano. Realitas ini menunjukkan bahwa ketika Kerajaan Loloda disetarakan setingkat Distrik oleh Belanda dan Kesultanan Ternate pada abad ke-18, Penguasa Loloda tidak pernah menyandang gelar Kepala Distrik atau sangaji tetapi senantiasa menggunakan titel Kolano Loloda.

Ketika menjalankan fungsi dan perannya sebagai Jogugu yang juga diangap sebagai Kolano Loloda saat itu, ia dibantu oleh beberapa perangkat Bobato seperti kapita Lau yang disandang oleh Jongofa Syahjuan (Putera Kapita Lau Majojo, Nasu), Johukum Soa-sio yang disandang oleh Jongofa Nanggu (Putera sulung Kolano Syamsuddin) dan Imam Loloda, Umar Bin Malan. Sementara adiknya, Djama hanya memakai titel Jongofa (Putera bungsu Kolano Syamsuddin). Perangkat-perangkat Bobato ini memiliki kesamaan pada abad ke-18. Hal ini bisa dilihat dari uraian Surat Gezaghebber Ternate tertangal 8 September 1808 sebagaimana disebutkan di atas.

Meskipun fungsi Jogugu yang juga dianggap sebagai Kolano di atas terbatas pada masalah-masalah Pemerintahan, akan tetapi status sosialnya sangat berpengaruh terhadap masyarakat. Bahkan pengaruhnya lebih mendominasi peran Sangaji Loloda saat itu. Akan tetapi ketika ia wafat, maka kedudukan Jogugu atau Kolano Loloda ini pun praktis vakum. Tiga puteranya, masing-masing Jongofa Abd. Malik, Jongofa Maulud dan Jongofa Haibu pun tidak dapat mengambil fungsi dan peran Jogugu/Kolano Loloda di atas. Hal ini karena tidak ada inisiatif baik dari masyarakat Loloda maupun Kesultanan Ternate. Jogugu/Kolano Loloda ini wafat pada tahun 1977 di Ternate, tanah asal Ibunya dan dimakamkan dipekuburan keluarga Klan Jiko Ternate. Ibunya Joboki Habiba berasal dari Soa Moti Kasturian Kesultanan Ternate.

Dalam catatan sejarah politik Maluku Utara, Loloda termasuk salah satu Kerajaan Maluku yang tidak terkonfigurasi dalam kesatuan Kerajaan Moloku Kie Raha (Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo). Akan tetapi Kerajaan ini selalu gelap tertutup kabut sejarahnya lantaran pengaruhnya tidak terlalu signifikan dalam percaturan politik Kerajaan-kerajaan Maluku ketika itu.

Meskipun memiliki akses yang terbatas dalam kanca politik lokal, realitas sejarah juga telah menunjukkan bahwa kerajaan ini senantiasa eksis pada zamannya, dan cukup memberikan perkembangan khas tersendiri dalam pembentukan masyarakat dan budayanya. Setidaknya hal ini bisa dilihat dari penegasan identitas lokal masyarakat Adat Loloda.

Masyarakat Adat Loloda adalah bagian integral dari masyarakat Indonesia yang hidup berdasarkan asal-usul leluhurnya secara turun-temurun dalam suatu wilayah adat, dimana kehidupan sosial budayanya tidak terlepas dari pengaruh hukum adat dan lembaga adat. Adapun lembaga adatnya di-integrasikan kedalam satuan pemerintahan kerajaan. Kenyataan ini berlangsung selama berabad-abad hingga kemerdekaan Indonesia.

Setelah kemerekaan Indonesia, status dan struktur Kelembagaan Adat Kerajaan Moloku Loloda ini kemudian mengalami reduksi dari kepemimpinan Raja/Kolano menjadi setingkat Jogugu. Kondisi ini terjadi karena pengaruh Kesultanan Ternate yang mendominasi system politik local ketika itu. Jogugu Kerajaan Moloku Loloda tersebut diangkat oleh Kesultanan Ternate dari Putera Mahkota Kolano Loloda, Kaicil Hi. Djamilullah Bin Syamsuddin. Gelar Jogugu bisa disamakan dengan Mangkubumi.

Dalam meniatur Negara, Jogugu atau Mangkubumi disamakan dengan Jabatan Perdana Menteri. Dengan demikian, bisa diungkapkan bahwa setelah kemerdekaan Indonesia, Jogugu Loloda memegang peranan utama dalam kepemimpinan Lembaga Adat Kerajaan Moloku Loloda. Dalam menjalankan fungsinya, Jogugu Kerajaan Moloku Loloda didampingi oleh perangkat utamanya seperti Kapita Lau, Hukum Soa-sio, Tuli Lamo dan Sowohi. Kapita Lau dapat disamakan dengan Panglima Armada Laut. Hukum Soa-sio adalah Menteri Urusan Dalam Negei, Tuli Lamo sebagai Sekretaris dan Sowohi berfungsi sebagai Humas dan Protokoler.

Lembaga Adat Kerajaan Moloku Loloda dengan kepemimpinan Jogugu ini senantiasa eksis dizamannya hingga Jogugu tersebut wafat pada tahun 1977. Sejak saat itu Lembaga ini mulai vakum selama 31 tahun, dan baru pada tahun 1999 dibangkitkan kembali atas insiatif Kesultanan Ternate dengan mengangkat Kaicil (Pangeran) Bayan A. Syamsuddin sebagai Jogugu Kerajaan Moloku Loloda beserta perangkat Bobatonya. Akan tetapi pada tahun 2004 lalu, Jogugu Bayan A. Syamsuddin ini pun tutup usia, dan kelembagaan Adat Kerajaan Moloku Loloda dengan perangkat Bobato seperti Kapita Lau dan Hukum Soasio terkesan berjalan ditempat karena pengaruh usia yang telah lanjut.

Untuk mengisi kekosongan kedudukan Jogugu Kerajaan Moloku tersebut, maka sesuai Adat Se-Atorang, telah diorbitkan Kaicil (Pangeran) Lutfi M. Syamsuddin. A.Ptnh sebagai pengganti Jogugu Kerajaan Moloku Loloda. Penobatannya telah dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2008 dalam suatu Upacara Kebesaran Adat Loloda di Pendopo Kesultanan Ternate.

Status dan keberadaan Jogugu Loloda bersama Bobatonya di atas pada prinsipnya memiliki ciri yang tidak berbedah jauh pada Kesultanan Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo. Hal ini bisa dilihat dari kedudukan Tau raha (Komisi 4) pada Kesultanan-kesultanan di atas sebagai berikut:

Kesultanan Ternate

  1. Jogugu
  2. Tuli Lamo
  3. Hukum Soa-sio
  4. Hukum Sangaji

Kesultanan Tidore

  1. Jogugu
  2. Tuli Lamo
  3. Kapita Kie
  4. Hukum Soa-sio

Kesultanan Bacan

  1. Jogugu
  2. Tuli Lamo
  3. Qadhie
  4. Kapita Ngoga

Kesultanan Jailolo

  1. Jogugu
  2. Tuli Lamo
  3. Kapita Lau
  4. Qadhie

Sumber: Mudafar Sjah, 2005

Berdasarkan kedudukan Tau Raha pada masing-masing Kesultanan di atas, maka bisa digambarkan bahwa di Loloda juga terdapat Kedudukan Jogugu, Kapita Lau, Kapita Kie, Hukum dan lain sebagainya.

Akan tetapi pertanyaannya adalah dimanakah kedudukan Kolano Loloda? Pentingkah Kolano diorbitkan kembali sebagai lambang atau simbol kultural masyarakat Loloda? Jika penting, bukanlah sesuatu tanpa sadar dan berlebihan, tetapi merupakan suatu keniscayaan sejarah. Keberadaan lembaga adat dalam konteks sekarang ini seperti Lembaga Adat Kerajaan bukan lagi menjalankan kekuasaan politik, akan tetapi keberadaannya sebagai wahana pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya lokal.

Leave a comment

43 RESPONSES

  1. Yded WSH

    sejarah versi blanda

  2. Name*ruslan Syamsudd

    ☆SALAM SATU LOLODA☆ Tak ada guna kalu melihat sedara" saling menyalakan dikomentar satu sama lain tidakbada gunasma sekali itu dan itu hanya akan menyensakar kita sendiri sja.. kita haru bankit dari terkeburuakn, di saat ini kita loloda harus satu yaitu, satu hati, stu perasaan, satu pikiran untuk memikirkan bgmna keraraan kita kedepan.. kita mc loloda harus bersatu mengejayakan kerajaa kita sehinga di klangan mc dan juga penjuru dunia semua mengetahuii.. ♡ saya sangat banga dengan bapak mustafa mansur yng bekerja keras menulis sejara loloda, HARAPAN saya agar bapak tidak perna putus asa atas komentar" kurang enak di telinga bapak nd angaplah itu ujian buat bapak dalam memperjuankan kerajaan loloda .. Semoga ALLA melindungi sekeluwargamu dan di berikan kesehatan, rezeki yang melimpa. AMIIN

  3. Mustafa Mansur

    Yth. Para pembaca artikel Sjrh Krajaan Loloda. Mohon maag saya bru buka laman dari situs ini lagi. Sya sdh baca semua comen pembaca. Prinsipx saya mexambut baik apresiasi sekaligus kritikan pembaca. Perlu dipahami sejarah bukan dogeng atau mitos belaka, sejarah mengungkap fakta. Tapi mitos atau dogeng maupun cerita rakyat yg dituturkan oleh generasi saat ini adalah bentuk tradisi lisan yg hrus dipahami sebagai sumber2 sejarah. Begitu juga dgn dokumen tertulis adalah sumber sejarah yg semuax disebut data sejarah, blum menjadi fakta sejarah. Dlm ilmu sejarah, data bukanlah fakta, tapi fakta sdh data yg teruji baik melaui metode dan metodoligi ilmu sejarah. Fakta sendiri pun terbagi atas fakta keras dan fakta lunak. Fakta keras misalnya, pertemuan Moti thn 1322, Kerajaan Loloda tdk ikut. Fakta lunak misalx interpretasi sumber mengenai sebab2 ketidakhadiran Loloda dlm Pertemuan Moti. Ada yg bilang krn faktor alam, tapi tradisi lisan atau cerita orang tua2 Loloda justru mengatakan krn ada konspirasi besar dari Ternate utk tdk mengkalabui Raja Loloda agar terlambat datang. Kedua sumber itu memperlihatkan subjektifitasx masing2, krn itu apabila sumber ini diterima sbgai semua fakta, maka faktax disebut fakta lunak. Bgitu juga mengenai Perang Laba yg dikomplen oleh pembaca yg berasal dari Desa Laba Besar. Bahwa perang Laba thn 1908 atau dlm catatan Belanda terjadi pda thn 1909 itu adalah sumber sjrah yg menjdi fakta keras. Artixa bhwa peristiwa itu memang terjadi, tpi krn ada perbedaan versi mengenai motif dan dampak perang laba berdasarkan cerita generasi saat ini, maka apabila diuji berdasarkan metode dan diterima sbgai fakta, maka itu adalah fakta lunak. Tokoh2 yg dimaksud oleh pembaca ini sebenarx bukanlah tokoh sejarah dlm artian sebagai saksi dan pelaku sejarah, oleh krn mereka tdk hidup pada zaman peristiwa itu terjadi. Mereka adalak tokoh2 yg dianggap cakap sebgai narasumber oleh mereka mendpatkan cerita itu dari generasi sbelumx ( mungkin kakek atau cicit mereka). Krn itu informasi yg disampaikan oleh mereka merupakan bentuk tradisi lisan yg masih menjadi sumber sejarah. Sumber ini perlu diuji dgn metode ilmu sjrah dgn menggunakan kritik sumber baik internal maupun eksternal. Kritik ekternal dimaksudkan utk melihat kredibilitas sumber. Dlm hal ini apakah org yg memberikan informasi benar2 org yg dapat dipercaya atau memiliki pengetahuan ttg informasi itu atau tdk. Smentra kritik internal dilakukan utk melihat otensitas sumber, misalx klu dlm catatan hrus dilihat siapa penulis, jenis kertas yg digunakan dll. Klu dlm hal sumber lisan, maka yg dilihat antara lain apakah org yg memberikan informasi berada dlm keadaan fisik yg normal, misalx tdk kelainan jiwa dll. Jadi singkatx, artikel yg saya buat itu melalui tahapan metode dan metodologi ilmu sejarah, sehingga kebenaranx bisa dipertanggung jwabkan secara akademik. Tetapi hrus juga dipahami bhwa kebenaran bukanlah kebenaran mutlak. Krn ilmu sejarah adalah bgian dari ilmu sosial, maka kebenaranx bersifat dinamis. Artix kebenaran itu bisa diuji dlm ruang dan waktu, sepanjang ada sumber2 sejarah yg baru atau yg lain dapat diolah dgn pendekatan metode dan metodologi sehingga bisa menghadilkan fakta baru. Mohon maaf, saya tdk bermaksud menggurui tetapi ini adalah respon saya atas tanggapan pembaca. Saya berharap putera-puteri Loloda yg lain dpt menulis Sejarah Loloda dgn lebih baik dan jgn menulis dgn pendekatan emosional. Generasi Loloda saat ini bisa saja tdk mengakui Loloda bukanlah suatu kerajaan di masa lalu, tpi faktax sejarahx ada. Bhwa wilayah yg namax Loloda yg saat ini terbagi menjadi Kecamatan Loloda yg masuk Kab. Halbar, dan Kecamatan Loloda Utara dan Loloda Kepulauan yg maduk Kab. Halut, hrus diakui merupakan sisa2 wilayah Kerajaan Loloda yg dlm meniatur pemetintah Hindia Belanda mensetarakan dgn distrik. Kita bisa betdiskusi lebih lanjut.

  4. Mustafa Mansur

    Yth. Para pepmbaca artikel ttg Sejarah Kerajaan Loloda. Maaf saya baru buka lagi situs ini. Saya memberikan apresiasi atas semua comentar yg diberikan pembaca.

  5. Kardi Usman/ Kasus N

    Salam loloda, Intermezo... Pujian pretensius dapat mendidik kita jadi kerdil, sarkasme yg jujur dapat melahirkan pencerahan. Pertama saya ingin mengapresiasi tulisan yg dibuat bung Mustafa Mansur. Karna , telah mengangkat sejarah kerajaan loloda. Berdasarkan faktor-faktor dalam penelitian metodologi sejarah dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Dalam tulisan ini saya ingin mengkritisi beberapa komentar. Karna, kerangka berpikir sodara-sodara terlalu lemah dalam menafsirkan sejarah pada umumnya-khususnya loloda. Pertama : 1. Kepulauan Dagasuli P: "Sebuah Dongeng" apa yg saudara pahami ttg dongeng ? Yg saya ketahui dongeng hanya lahir dari mulut-ke-mulut dan tidak bisa dibuktikan secara empiris maupun faktual. Tapi sebaliknya sejarah bisa dibuktikan secara akademik ataupun teoritis. Ada beberapa indikasi mengenai ilmu ttg sejarah dan itu yg harus sodara pelajari sebab pengetahuan saudara ttg sejarah masih minim (lemah)! 2. Tiburu Apulea : "tidak ada kerajaan loloda" dan lebih menyedihkan lagi pernyataan yg dilontarkan Tiburu Apulea. Jelas sekali bukti nyata terlihat di depan mata bahwa kerajaan loloda hingga saat ini masih eksis dan dinamika pemerintahan raja loloda masih berjalan dengan baik. Hanya saja predikat yg melekat diatas nama raja loloda tidak lagi dinamakan dengan kesultanan tetapi jou gugu loloda. Mungkin buku yg saudara pelajari agak keliru atau sesat. Sebab menurut fakta, konfrensi yg berlangsung di Moti kerajaan loloda tidak sempat hadir dikarenakan faktor alam. Inilah penafsiran yg salah sehingga menjustifikasi kerajaan loloda tidak pernah ada. Pesan- masih banyak buku yg bolom anda baca. 3. Mancia Loloda : "lebih-objektif" mungkin pengetahuan anda masih minim ttg filsafat ilmu. Sebab anda masih belum mengetahui makna objektif dan subtektif. Objektif ini a/salah satu fakta yg dilihat atau sitafsir secara langsung tanpa melalui dugaan atau prasangka subyektif. Sedangkan subyektif a/ objek yg ditafsirkan langsung dari proyeksi manusia. Dalam hal ini jelas sekali fakta yg ditafsirkan dalam tulisan ini langsung secara objektif dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Pesan- banyak kontemplasi. 4. Turunan Bakun Malamo : "Omong Kosong dan Bualan" pertama-tama saya ingin memberi pesan kpd. Bakun Malamo, perbanyaklah mempelajari referensi sejarah saya kasian sekali "kona ya". Pernyataan anda sangat tidak ilmiah dan keluar dari pembahasan terkait dengan sejarah loloda. Jikalau sejarah loloda ini hanya omong kosong kenapa bisa terpampan dan menjadi Tesis di Universitas Padjajaran yg terkenal diseantero indonesia. Manakala pernyataan saya ini agak keluar atau menyimpang dari pembahasan ilmiah anda bisa koreksi dan anda bisa datang langsung batanya di Unpad. 5. CV Samudra Walamoi : "Negeri baku malawan" "kaum penghianat" sungguh saya sangat kasihan dengan manusia seperti Samudra Walamoi yg sok dewasa tapi bertingkah layaknya bocah. Diukur secara Historical dari abad ke-6sm hingga saat ini perdebatan/pertikaian itu hal yg lazim terjadi dalam pemerintahan. Bagimana bisa anda katakan negeri loloda a/ negeri baku malawan sedangkan itu hal yg lumrah dalam pemerintahan. Coba anda berkaca dibelahan bumi seperti terjadi di Unisoviet, Perancis, Jerman, Inggris bahkan ditimur tengah yg kita kenal dgn negara islam sekalipun pertikaian sudah biasa terjadi. Di Indoneaia pun kita temukan perbedaan paradigma sehingga terjadi perdebatan yg melahirkan konflik. Jadi perdebatan pertikaian konflik itu biasa terjadi. Dan anda perlu ketahui itu. Yg dimaksudkan dgn "Negeri kaum penghianat ini siapa ?" Apakah anda sendiri yg menghianati sejarah loloda ? Toh bukankah leon trochsky ,stalin dan lenin sekalipun yg memang memiliki pandangan ideologi yg sama tapi masih saling menghianati dalam hal memperebutkan kekuasaan. apalagi masyarakat loloda yg pada saat itu masih didominasi oleh pemerintah kolonial. Hal ini yg memicu terjadinya konflik dalam pemerintahan loloda. Bagimana ceritanya sodara mengenalisir masyarakat loloda sebagai negeri kaum penghianat. Ini kan fuma namanya, kaskado biru e. Saya tekankan sekali lagi bahwa masyarakat loloda bukanlah masyarakat penghianat tapi masyarakat yg kritis bila mana terjadi derifasi dalam pemerintahan itu sendiri. "Jika ini a/ suatu kebenaran, kenapa tidak harus diluruskan !" Aristoteles abad ke 6 sm.

  6. Jahar Hi. Rauf Dodeg

    sejarah kerajaan ngara mabeno banyak versi, ada yang mengatakan bahwa ngara mebeno didirikan oleh sala satu putra raja bacan, ada juga yang mengatakan didirikan oleh seorang tokoh Legendaris yang datang dari ternate melalui galela yang bernama Kolano Tolo atau Usman Malamo. kalau sinopsis terahir ini dibilang cerita rakyat loloda bisa jadi benar oleh masyarakat di Kedi/soasio oleh karena mereka merupakan orang-orang ternate yang ditempatkan untuk melanjutkan kepemimpinan bentukan ternate dan portugis (meraka berbahasa ternate), mereka yang di klem sebagai turunan raja-raja loloda ini tidak tahu berbahasa loloda kalaupun digenerasi sekarang (turunannya)sudah bisa bahasa loloda itupun campuran bahasa Ternate-Loloda.satu hal yang menarik dari cerita masyarakat kami adalah ketika saudara-saudara kami orang ternate datang ke kami (masyarakat ngara mabeno) diutara Loloda, diberitahu jika bepergian kekebun atau kehutan hendaknya tidak menggunakan bahasa ternate (apa makna dibalik ini). sejak kami kecilpun tidak pernah mendengar cerita heroiknya sultan bentukan atau karangan para sejarawan tempoe dulu, hanya satu yang kami ingat keberanian dari Kapita mologotu (putra salube) yang menurunkan Bendera Belanda dari Sonyie ici atas perintah yang dituahkan Dodego...wallahu alam bisawab.

  7. Ado Orang Loloda. Gu

    Bagimana Tara Bakumalawan orang pintar me otak ngonofu orang bodo me otak ngonofu. kalo tarangonofo dan tarabaku menjeling mata pasti akan jadi satu frekuensi hingga di titik kejayaan tapi apa sampai sekarang masi tetap sama denga abad 2o luan.

  8. CV.SAMUDERA WALOMOI

    COMENT : 1. Loloda Negeri baku malawang 2. Loloda Negeri tara baku akui 3. Loloda Negeri yg bnyk melahirkan anak2 bangsa yg Intelektual 4. Loloda Negeri yang kaya akan SDA 5. Loloda Negeri Kaum penghiyanat Kelima poit tsb menggambarkan loloda tidak akan menjadi sebuah daerah yg di perhitungkan di wilayah maluku utara dan dunia, kenapa demikian ? Sejarah menggambarkan sebuah perilaku manusia masa lampau di ambang perpecahan ( bakumalawang,baku khianat ) abad 16, kenapa dalam sejarah kerajaan loloda tidak ada kata puncak kejayaan kerajaan loloda mengapa? Sebuah pencapaian yang misterius ? Jawabannya tidak, mengapa tidak ? Karena ini adalah kesalahan manusia di abad 16 tsb,sehingga kerajaan loloda punah dan tenggelam di telan lautan nan dalam..tanpa sebuah medali yg berarti utk anak cucu. Sekarang di abad 21 apa yang terjadi ? Masih sama,,spt abad 16 yaitu kerajaan baku malawang.hey,,,,,!!! Sampai kapan kerajaan loloda ini baku malawang terus ? Sampai negeri loloda ini di luluh lantahkan? Di cerai beraikan? Mana stakeholder2 loloda yang di agung agungkan di kanca national ? Untuk itu saya sebagai putra walomoi menghimbau untuk semua kalangan rapatkan barisan satukan niat dan tujuan menggali nilai-nilai sejarah yang seluas-luasnya untuk masa depan loloda kedepannya,bukan untuk mencela,menjatuhkan semangat,pencari kebenaran. Sebagai generasi muda yg hidup di abad 21 kita dituntut bekerja keras guna memajukan loloda kearah yg lebih baik, agar kanca national dan kanca international bisa mengagumi bahwa loloda adalah sebuah wilayah yang kuat akan ketahanan pangannya & ketahanan kemaritimannya,nilai budaya dan kearifan lokalnya,,, abad 21 berimbas pada terpecahnya keutuhan loloda oleh tangan putra putri loloda itu sendiri, faktanya seperti yg kita ketahui bersama kerajaan loloda kini terbagi dalam dua wilayah,,keutuhan loloda selatan mengikuti kerajaan jailolo,dan wilayah utara kepulauan mengikuti kerajaan tobelo, ironisnya perpecahan ini di sebabkan oleh tokoh-tokoh Intelektual loloda itu sendiri, dan pada akhirnya loloda di jadikan sebagai tempat pembuangan sampah yg kotor,saya bukan berbicara mengarang suatu cerita tetapi ini adalah suatu Fenomena yg kita lihat bersama saat ini di abad 21.pertannyaan yang mendasar sampai kapan, loloda sampai pada puncak suatu kejayaan ????? Jawabannya adalah sampai wilayah loloda habis terpecah berai mengikuti dan bergabung oleh kerajaan2 lain yg ada di wilayah maluku kie raha. Kesimpulannya adalah jika ke tiga poin di atas( 1,2,5 ) tidak kita hilangkan maka loloda tidak akan pernah sampai disuatu puncak kejayaan,, dan loloda hanya akan menjadi sebuah wilayah yg terasingkan sepanjang masa......... Salam putra walomoi. :)

  9. Malut

    Foya ini

  10. Sofian Takofi

    Saya sangat setuju dengan penulis yang telah menemukan kotak hitam sejarah kerajaan loloda (ngara ma beno) yang telah pudar beberapa abad yang silam, sekalipun yang di angkat adalah sejarah sebab akibat dari sebuah kerajaan yang hilang. namun se causal apapun itu sebuah sejarah sebab tanpa sebab akibat dari sebuah sejara maka kita tidak mungkin mungkin mengungkapkan latar belakang sejarah itu sendiri saya mendukung apa yang anda tulis saat ini .Maju terus I Love Lonly.

  11. Sofian Takofi

    Penulis Yth, Perlu kita ketahui bahwa penulis cerita ini adalah saudara Mustafa Mansur . Bukan HasanudiSyamsudin , Saya telah membacanya dalam sebuah akun di internet. Namun disini perlu saya sampaikan bahwa kita jangan bertengkar dengan latar belakang sejarah kerajaan Loloda, dan jangan saling menjastis tentang siapa yang paling mengetahui dan yang paling benar, akan tetapi sebuah kebenaran akan terungkap apabila kita selaku masyarakat Loloda putra putri terbaik yang ilmiyah bergandeng tangan untuk lebih meneliti dan menggali lebih jauh lagi, sebab sebuah peradaban sejarah tidak tidak mungkin terjadi dan ada serta diakui jika hanya dilihat dari satu sisi atau sumber saja, namun apabila kita menggali lebih jauh dari berbagai sumber yang akurat serta ilmiyah maka saya yakin dan percaya sejara kerajaan loloda akan ter unkap, kata pepata jika kita ingin meraih hak kita, maka raihlah dengan ilmu , bukan dengan emosi.

  12. !S!WCRTESTINPUT00000

    !S!WCRTESTTEXTAREA000001!E!

  13. Farida Djuma

    Yth sang penulis yg kreative saya sebagai putri loloda asal saya dari desa laba besar loloda selatan untuk memasukan komentar kepada penulis tentang sejarah loloda bhwa yg anda tulis mengenai sejarah kerajan loloda blm jelas untuk kepada penulis tlong lebih teliti dan jika anda dlm akademis anda harus lebih banyak penelitian kepada sang tete moyang kita yg ada di loloda supaya penulis anda lebih telitih dan jelas terutama di beberapa desa yaitu bakun laba besar tase soasio lingua. Mungkin itu masukan dari saya sekian dan terimah kasih...... I love you loloda

  14. Farida Djuma

    I love you loloda

  15. Abram Suguro

    bersumber dari cerita nenek moyang kita dijadikan sebuah cerita sejarah.Namun perlu ada saran dan pendapat yang harus diterima oleh penulis. untuk mengangkat Loloda ke mata dunia dan menarik perhatian dunia melalui sejarah.dari sejarah, loloda dikenal. saya menghimbau kepada para penulis jangan berhenti menulis tapi menulislah dan terus menulis.

  16. Jahar Hi. Rauf Dodeg

    Sebagai putra ASLI ngara mabelo mengapresiasi tulisn ini sebagai bentuk kepedulian kita atas taggungjawab melakukan penelusuran dan pelurusan sejarah sebagai bukti dan identitas peradaban masa lalu dan kini, banyak cerita secara temurundari kakek moyang. Kita atas sejarah kolano ngara mabelo/kerajaan loloda, Istana, sistem dan stuktur pemerintahan, keabsahan raja raja paska hegemoni politik kerajaan ternate serta penguasa ternate-Belanda dan masih banyak lagi sikologi kesejarahan masyarakat loloda yang mesti diluruskan namun yang pasti keniscayaan ini akan ada bangkit bersama kecerdasan anak-anak Negeri "NGARA MABELO" disertai tiba masa diam yang panjang dari kubangan politik Masyarakat Loloda. Kapan?? Wallahualam. Pulau Doi.

  17. Wolden Ngosa_ Dako

    okey baik saya sebagai putra loloda asal saya dari desa laba besar loloda selatan untuk memasukkan komentar ini kepada penulis bawah yang saya dengar dari tete moyang kita itu menganai tentang sejarah loloda, itu kurang jelas, yang penulis. karena tete moyang kita yang telah diceritakan kepada kami mengenai persitiwa pertama kali itu terjadi di desa kulaba sekarang suda di ganti laba besar, ini kenapa perang kulaba di ganti dengan perang loloda ini penulis tidak terbuka kepada masyarakat kita loloda selatan, saya minta kepda penulis tolong konsilidasi di desa-desa khusus loloda seltan. strus saya mau tanyakan kepada penulis bahwa bapak penulis berarti bapak sudah menguasai bahasa loloda kini saya tanyakan kpada bapak kira-kira desa pertama kali di loloda itu kira-kira desa mana? dan kemudian bahasa loloda yang paling dominan/ asli di daerah loloda kira-kira desa mana? okey thanks,,,,,

  18. Ikchy

    helloooooo orang loloda saya ingin tanya ni apa betul di istana sultan ternate ada sala satu kamar yang tidak bisa dibuka oleh siyapapun. tapi isu terpencar sekarang yang bisa hanyala orang loloda. apa mungkin betul tidak,

  19. Kepulauan Dagasuli P

    yth sang penulis yang cermat dan kreative saya hanya menyampaikan tentang isi sejarah loloda bahwa yang anda tulis itu hanyalah sebua dongeng yang tak akurat. jadi jika anda menulis tolong lebih teletih lagi dan jika dalam akademis anda harus lebih banyak penilitian kepada sang tetemoyang kita yang ada di loloda. supaya lebih terikat dan nyambung. sebagai putra ngara mabeno sedikit pesemis dengan pendapat anda karena banyak anda ke liru tentang sejara kerajaan loloda

  20. Ikchy

    ngoji loloda manyawa ingin maw tanya dimana buku sejara aslinya yang terbuat dari papan dan mohon jika kepada penulis yang terhormat jika anda menulis sejara tolong anda jangan melebih leibihkan dan jangan di kurang kurangkan terimakasi dagasuli

  21. Mustafa Mansur

    Yth. Saudara Budiman Kapita Lime dari Fitako. Tulisan ini bukan dibuat oleh saudara Hasanudin Syamsuddin, tapi saya yang membuatnya. Saudara Hasanudin mengambil tulisan saya dan menggantikan nama saya selaku penulis. Jadi saya bertanggungjawab atas tulisan ini. Tulisan yg saya buat ini berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan metode sejarah, sehingga hasilnya bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Kita bisa berdiskusi lebih lanjut mengenai sejarah Loloda, prinsipnya saya sangat terbuka untuk itu. Mohon maaf kakanda.... Saya juga minta bantuan kakanda Kapita Lime untuk menghubungi opereter situs ini, agar menggantikan nama penulis dari saudara Hasanudin Syamsuddin ke nama saya (Mustafa Mansur), karena ini berhubungan dengan pertanggungjawaban moril, sosial dan akademik. Terima kasih kakanda.....

  22. Mustafa Mansur

    Yth. Pemda Halut. Tulisan yg ditampilkan dalam situs resmi Pemda Halut ini sebetulnya hasil karya saya, bukan saudara Hasanudinn Syamsuddin. Saya menulis itu dalam latar belakang saya selaku dosen dan peneliti sejarah pada jurusan sejarah Fakultas Sastra dan Budaya Unkhair Ternate. Saudara Hasanudin adalah sepupuh saya, dia mengambil tulisan saya yang terdapat pada facebook Kerajaan Loloda, dan menggantikan nama saya selaku penulis. Mohon diubah saja nama penulis dari saudara Hasanudin. Jika tidak dirubah, maka ini bisa disebut plagiat terhadap hasil karya orang lain.Terima kasih atas kerjasamanya. Hormat saya, Mustafa Mansur

  23. H.jafar Ibrahim 0921

    Mau tahu asal silsilah loloda silahkan hubungi pak haji jafar ibrahim asal kampung dagasuli no telp 0921-3123753 tx

  24. H.jafar Ibrahim 0921

    Mau tahu asal silsilah loloda silahkan hubungi pak haji jafar ibrahim asal kampung dagasuli no telp 0921-3123753 tx

  25. Faut Hi. Puasa Bin B

    Penulis YTh. Dimanakah Buku Kerajaan Al-Mulk yng asli brada dan Judulnya apa, dan d tulis diatas kertas atau di.,.. ? Kemudia apa Maksud dngan Buku Tembaga Emas ? Mohon penjelasan Bapak

  26. Budiman Kapita Lime

    Khusus kepada Saudara Hasanudin, Pengukuhan Kaicil Bayan Abdul Malik bukan inisiatif H. Mudafar Syah, tetapi itu keinginan masyarakat melalui para Bobato di Loloda, hanya saja Masyarakat Loloda menghargai kesultanan Ternate yang masih eksis sampai saat ini, selaku pemangku Adat tertinggi di Moloku Kie Raha sehingga masyarakat Loloda berkesimpulan untuk mengukuhkan Kaicil Bayan sebagai Jogugu Loloda

  27. Budiman Kapita Lime

    kepada Saudara- saudara pewaris Keturunan Kolano Loloda jangan serta merta memberikan dukungan terhadap penulisan Cikal Bakal Kolano Loloda tanpa ada Fakta- fakta yang nayta, itu sama hal memperlihatkan aib Loloda terhadap Dunia,,, Ingat itu

  28. Budiman Kapita Lime

    Saya berterima Kasi kepada Saudara- saudara yang mengangkat Sejarah Loloda tapi alangka baiknya mencari Fakta- Fakta yang akurat, terhadap beberapa teman yang mengisahkan tentang datangnya Kolano Usman itu masih keliru perlu memperhatikan bahwa Kolano Usman adalah seorang Sufi yang berasal dari Persia dan bukan Ternate, Kolano Usman adalah ahli Tauhid, yang mendarat di Pulau Tolo dan kemudian hijra ke Galela dan selanjutnya ke Loloda.

  29. Arifin Amat(phyno)

    Bagi saya loloda dalam masa kerajaan di moloku kieraha telah memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan daerah al-mulk ini. namun lagi-lagi loloda tenggelam dalam samudra yang dalam hingga kabarnyapun tak terdengar lagi, Kerajaan tertua dalam deretan kerajaan kesultanan moloku kieraha ini kemudian dimarjinalkan akibat karena kerajaan loloda yang tidak lagi tenar seperti kerajaan-kerajaan yang ada saat ini

  30. Ferdinatus Siom

    Sebagai salah satu putra ngara mabeno/Loloda,merasa bangga dan bertrima kasih,karen sudah bisa tahu bagaimana Loloda di masa lampau.Saya berharap agar anak-anak Loloda harus banyak belajar tentang Loloda.

  31. Ferdinatus Siom

    Sebagai salah satu putra ngara mabeno,merasa bangga dan slalu ingin tahu bagaimana Loloda di masa lampau.Untuk itu saya harus terus telusuri itu Loloda

  32. Mancia Loloda

    penulis yang terhormat..saya sangat bersukur pda anda.karena suda mau menulis sejarah loloda.tapi ada beberapa hal yang perlu di perhatikan pada saat anda menulis..saya cuma ingin mengatakan bahwa untuk menulis sebuah sejarah, maka kita harus memahami kausalitas dari sejarah itu sendiri,agar pemahaman kita tidak parsial bahkan marjinal dari konteks sejarah yang di tilis..dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada anda, saya sarankan agar untuk menulis( mengungkap) fakta sejarah loloda anda tidak seharusnya mutlak menggunakan referensipustaka yang sudah ada. tpi anda harus berinteraksi dengan tokoh-tokoh sejarah yang ada di loloda. karna sejarah loloda yang anda tulis terlalu banyak benang merah yang terputus. bahkan cikal bakal terjadinya kerajaan loloda anda tidak mengulas secarah terperinci.anda lebih memfokuskan pada pergolakan politik kolonialisme di maluku utara yang berimplikasi juga pada kesultanan loloda.jadi terlalu banyak mata rantai yang terputus....saya ingin menyampaikan bahwa anda harus lebih objektive dalam menulis sejarah loloda..!!!

  33. TURUNAN BAKUN MALAMO

    Saya harap penulis jangan terlalu subjektif menulis kerajaan loloda dengan membalikan berbagai fakta sejarah.kronologis nya hampir relefan dengan sejarah pergulatan loloda tetapi sayang Anda suda terlalu banyak membalik fakta sejarah dengan pikiran arogan anda..saya sarankan anda harus lebih banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh sejarah di loloda ketimbang menggunakan referensi yang konyol apalgi suda terlalu mempolitisir esensi sejarah yang sebenarnya..kasian orong-orang loloda pemehaman sejarah suda terlalu parsial bahkan marjinal itu karna orang-orang seperti anda suda yang membolak-balikan fakta sejarah,lalu selalu meaksakan arang orang-orang loloda percaya dengan omong kosong dan bualan anda....

  34. Sartika Hirto

    moloku kieraha adalah kaya akan sejarah di masa lalu tetapi lambat laun para anak cucu negeri kieraha ini mulai melupakan nilai sejarah dan budaya itu, olehnya saya berharap kepada pemda baik kabupaten maupun kota untuk bisa menjembatani dan memfasilitasinya sehingga negeri ini tetap ingat akan sejarah masa laluny. saya bangga dan memberikan apresiasi atas karya di atas tentang sejarah LOLODA, TOMA NGARA MA BENO. sukur dofu2.

  35. Jainul Yusup

    saya sebagai putra malut sangat bangga dengan sejarah negeri ini, saya berharap kepada pemda kab/kota maupun masyarakat Malut untuk mengangkat nilai-nilai sejarah dan budaya Moloku kie raha, untuk di kembangkan dan dilestarikan karena sebagai aset/potensi daerah, dan sejarah Loloda adalah sala satu contohnya. sukur dofu-dofu

  36. Saiful Hi. Soleman

    saya bangga sebagai putra ngara mabeno, untuk bisah mengugkap kembali kerajaan loloda yang sudah tenggelam 13 abat lalu, kerajaan loloda dengan sebutan ngara mebeno telah tergilas oleh sejarah.berbagai banyak versi ahli sejarah yang selalu meneliti tantang kerajaan loloda bahwa kerajaan loloda benar-benar ada, pendapat dan pandangan yang selalu berbeda.

  37. Rusli Rifai

    kami selaku generasi muda loloda mengucapkan terimah kasih pada semua penulis yang dengan keinginan luhur dapat menguak kembali fakta sejara loloda dan harapan kami dapat dikembangkan dan diimplementasikan,agar supaya kerajaan loloda hidup dalam keadaan nyata saat ini dan kedepan. tolong telusuri lebih jau terkait dengan penamaan loloda karna menurut cerita rayat penamaan loloda di ambil dari filosofi nama pencetus bahasa loloda pertama yaitu dola-dola

  38. JuslAN

    TOLONG DI TINJAU KEMBALI APA YANG TELAH DI SUSUN KARENA ADA BANYAK HAL YANG TERDAPAT KONTROFERSI APALAGI DALAM BUKU SEJARAH KESULTANAN. JANGAN MENCERITAKAN KESALAHAN YANG DI ANGGAP BENAR KARNA HAL YANG DI TULIS SANGAT TIDAK SINGKRONISASI DENGAN REALITA YANG ADA TERMASUK PROSES PENELITIAN YANG DI DAPAT

  39. Mustafa Mansur

    Mohon ditinjau kembali, mengenai penulis di atas. Bahwa tulisan itu adalah tulisan saya, yang secara kebetulan Sdr. Hasanudin yang juga sepupu saya yang memasukan tulisan saya ke situs ini. Saya menulis sejarah Kerajaan Loloda dengan latar belakang saya sebagai seorang akademisi sejarah pada Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Khairun.

  40. Afendi Abdullah

    Sebagai generasi Loloda,kami sangat mendukung upaya-upaya menggali dan mengungkap nilai-nilai sejarah dan budaya lokal masyarakat LOLODA. Harapan kami upaya-upaya ini terus ditingkatkan tentunya dengan terus mencari informasi-informasi yang akurat dan trus melakukan pelenitian-penelitian tentang fakta-fakta sejarah pada masa itu, sehingga dapat memperkaya khasanah pengetahuan kami.

  41. Tiburu Apulea

    Ada beberapa pokok pikiran, sbb: 1). Loloda tidak pernah menjadi kerajaan. Dosa sejarah masa lampau, khususnya Kesultanan yg ada di Maluku Utara ialah semua hal diceritakan/dikonstruksi kembali berdasarkan keinginan/hasrat yang didukung oleh otority destruktif. Kerajaan Loloda it's fable monarchy (kerajaan ngaje-ngaje moi). Kerajaan yg hanya ada dalam cerita. So, itu alasannya kenapa kerajaan Loloda pada dasarnya tidak pernah ada. 2). Loloda merupakan nama dari sekelompok komunitas yg memiliki keunikan tersendiri dengan subetnis yg ada di Maluku Utara (MU). Yg saya mau katakan ialah istilan/nama "LOLODA" tidak ada kaitannya dengan sosiolinguistik LODA (Galela), ataupun O'Daroka (Tobelo). Jadi jangan mengartikan Loloda dengan istilah yg tidak ada sangkut pautnya dengan Loloda itu sendiri. 3). Komunitas Loloda adalah komunitas orang-orag bebas yg tidak terikat dengan segala bentuk kerajaan dari dulu hingga sekarang. Akhir kata, kami tidak melupakan sejarah, kami hanya ingin mempertanyakan sejarah sebagai bentuk pencarian identitas kami. Pencarian identitas yg kami maksudkan tidak identik dengan pencarian bukti masa lampau untuk melegitimasi struktur sekarang ini, melainkan pencarian identitas yg kami maksudkan ialah mempertanyakan struktur dewasa ini dengan mengacu pada bukti-bukti masa lampau. Kalau mau menulis tentang Loloda sebaiknya baca buku "Loda'sche Teksten En Verhalen" tulisannya M. J. van Baarda Tkzzzzzzz

  42. Tiburu Apulea

    Ada beberapa pokok pikiran, sbb: 1). Loloda tidak pernah menjadi kerajaan. Dosa sejarah masa lampau, khususnya Kesultanan yg ada di Maluku Utara ialah semua hal diceritakan/dikonstruksi kembali berdasarkan keinginan/hasrat yang didukung oleh otority destruktif. Kerajaan Loloda it's fable monarchy (kerajaan ngaje-ngaje moi). Kerajaan yg hanya ada dalam cerita. So, itu alasannya kenapa kerajaan Loloda pada dasarnya tidak pernah ada. 2). Loloda merupakan nama dari sekelompok komunitas yg memiliki keunikan tersendiri dengan subetnis yg ada di Maluku Utara (MU). Yg saya mau katakan ialah istilan/nama "LOLODA" tidak ada kaitannya dengan sosiolinguistik LODA (Galela), ataupun O'Daroka (Tobelo). Jadi jangan mengartikan Loloda dengan istilah yg tidak ada sangkut pautnya dengan Loloda itu sendiri. 3). Komunitas Loloda adalah komunitas orang-orag bebas yg tidak terikat dengan segala bentuk kerajaan dari dulu hingga sekarang. Akhir kata, kami tidak melupakan sejarah, kami hanya ingin mempertanyakan sejarah sebagai bentuk pencarian identitas kami. Pencarian identitas yg kami maksudkan tidak identik dengan pencarian bukti masa lampau untuk melegitimasi struktur sekarang ini, melainkan pencarian identitas yg kami maksudkan ialah mempertanyakan struktur dewasa ini dengan mengacu pada bukti-bukti masa lampau. Kalau mau menulis tentang Loloda sebaiknya baca buku "Loda'sche Teksten En Verhalen" tulisannya M. J. van Baarda Tkzzzzzzz

  43. Hagaha

    sumber dri kepulauan rempah rempah perjalanan sejarah Maluku Utara 1250-1950 iyo toch ?