.:: Home > Artikel
TAMPILKAN ARTIKEL ANDA BERTEMAKAN HALMAHERA UTARA DI SINI!
Kami menerima artikel bertema Halmahera Utara untuk ditampilkan di situs ini.
Artikel dapat berupa pemikiran ataupun pengalaman anda selama berada di Halmahera Utara.
Artikel anda dapat dipublikasikan setelah terlebih dahulu mendaftar sebagai user.
KEBUDAYAAN SEBAGAI ALAT PEREKAT MASYARAKAT
(09-05-2009)  Administrator

Share

Penulis : Muksin Mustika


Dalam sejarah perjuangan bangsa para perintis telah dengan susah payah membangun dan mempertahankan bangsa ini. Membangun tentu membutuhkan proses yang panjang. Begitu juga di negeri Hibualamo. Pembangunan membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang mengedepankan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi dan golongan.

Berbicara tentang kebudayaan berarti tidak terlepas dari tuntutan harga diri atau jati diri anak bangsa terutama kita sebagai masyarakat Halmahera Utara. Kita sepakat bahwa jatuh bangunnya sebuah daerah terletak dari keutuhan sebuah budaya yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Secara nasional kebudayaan adalah pencerminan sebuah bangsa yang memberikan dampak positif dalam membangun bangsa yang demokratif dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Kebudayaan daerah merupakan bagian dari budaya bangsa yang perlu dipertahankan nilai-nilai kemanusiaannya. Seorang tokoh atau pemimpin perlu memahami tentang tata krama atau tatanan dalam memberikan arah dan kebijakan untuk memajukan pemerintah, pembangunan dan kemasyarakatan dimana dia berada.

Halmahera Utara memiliki potensi budaya dari berbagai suku dan agama. Karena penduduk di daerah ini sudah berasimilasi dengan suku-suku yang ada di Indonesia. Sehingga daerah ini disebut dengan daerah yang memiliki budaya supra etnis. Hal ini dapat dibuktikan diberbagai sektor, baik sebagai tenaga organik pada kantor pemerintahan atau sebagai pimpinan di instansi pemerintah, politisi, juga sebagai pemimpin organisasi dan juga sebagai tenaga pendidik ataupun tokoh agama. Saya yakin bahwa keragaman etnis, suku dan agama ini dapat menjadi satu kesatuan yang utuh dalam bingkai NKRI.


Masyarakat Halmahera Utara memiliki budaya yang sudah ada ratusan tahun dan sampai saat ini masih terjaga kelestariannya sebagai nilai-nilai budaya yang filosofis. Nilai-nilai budaya ini menjadi sebuah tatanan atau tradisi yang tetap dipertahankan. Baik secara seremonial ataupun secara resmi. Hibualamo sebagai rumah adat atau wadah yang diabadikan oleh masyarakat Halmahera Utara. Hibualamo menurut legenda merupakan sebuah rumah besar yang dihuni oleh keluarga besar penghuni negeri yang terhimpun dalam 10 suku dan tersebar di seluruh daratan Halmahera, Pulau Morotai dan Loloda.

Kebudayaan dapat dijadikan modal dasar dalam gerak dan langkah sesuai bidang tugas dan fungsi kita masing-masing sebab kebudayaan yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita sangat banyak memberikan sebuah kebenaran yang berdasar pada etika dan moral. Memang kita tahu bahwa untuk merubah perilaku manusia membutuhkan suatu proses. Hal ini bukanlah sekedar isapan jempol belaka tetapi benar-benar membangun sebuah budaya yang bisa diteladani oleh orang-orang di luar kita.

Kita tahu bersama bahwa akhir-akhir ini secara nasional sepertinya telah terjadi kulturasi budaya. Satu hal yang perlu dikoreksi adalah kurang peduli dan konsistennya mayarakat terhadap nilai-nilai kebudayaan sehingga bisa memunculkan berbagai dikonomi persepsi. Apakah dari kalangan masyarakat, mahasiswa, para politisi dan juga pemerintah pada hal kebudayaan adalah sebuah pencerminan dari sebuah bangsa terletak pada budaya. Orang bisa melakukan kesalahan besar atau kecil itu karena tidak memahami nilai-nilai budayanya. Kenapa munculnya korupsi, kolusi dan nepotisme? Ini sebagai akibat dari ketidaktahuan budaya nenek moyang kita karena nenek moyang yang merupakan perintis kebudayaan yang mewariskan kepada kita bukan budaya orang pencuri atau korupsi tetapi orang yang berbudaya adalah orang yang tahu tentang harga diri manusia dan lingkungannya. Apalagi kepada Tuhannya itu juga ada isyarat yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita yang biasanya disebut Jou Giki Moi. Ini sebuah pemahaman dalam leluhur yang sangat sacral dalam dinamika kehidupan saat itu.


Untuk itu budaya yang kuat apabila pemerintah dan seluruh stakeholder merasa memiliki daerah ini tanpa ada indikasi sebuah perbedaan baik suku, agama dan darimana dia berasal hal ini bila diwujudkan maka kita akan terkenal karena budayanya dan kita akan maju sebagaimana Bali maju karena budayanya. Hal ini menjadi sebuah pertanyaan bagi kita apakah kita mau merubah sebuah kondisi yang lugu ke kondisi yang supra fit serta menjadi tujuan wisata? Ini terpulang kepada pemerintah dan masyarakat Halmahera Utara dan tidak hanya dinas yang terkait yang bertanggung jawab tetapi seluruh stakeholder yang ada di kabupaten ini. Masyarakat bumi Hibualamo dengan keberagaman suku yang ada tentu memiliki budaya yang berbeda tetapi ini menjadi asset besar dalam menunjang program pemerintah khususnya pariwisata. Kebudayaan juga berfungsi sebagai alat perekat masyarakat Halmahera Utara untuk menunjang Go International 2010.

Ingat budaya Halmahera Utara adalah budaya yang religius dan dinamis dan selau berpijak pada dasar budaya yang heterogen. Hal ini memperjelas sikap hidup yang mengutamakan kebersamaan dalam perbedaan. Untuk menghindari agar tidak terjadi akulturasi budaya maka ada 4 hal yang perlu disikapi antara lain mempertahankan budaya sebagai alat perekat dalam membangun kebersamaan anak negeri Hibualamo. Sebagai anak negeri perlu melestarikan dan mengembangkan budaya sebagai pedoman dalam melakukan pembaharuan pembangunan dan kemasyarakatan. Menularkan budaya Hibualamo kepada anak cucu kita sehingga mereka tidak melupakan tatanan atau tradisi kita sebagai anak negeri Hibualamo. Membudayakan Halmahera Utara dapat dijadikan sebagai alat perekat suatu bangsa atau daerah khususnya Halmahera Utara dalam menata kebudayaan saat ini dan ke depan.


*) Merupakan artikel Buletin Pemda Kabupaten Halmahera Utara Edisi 17 Tahun II Oktober 2007.

KOMENTAR ANDA
Gete-gete: sanang skali.... kalu trnyata smua pnya kerinduan untuk melestarikan budaya halmahera utara. cuma 1 hal yang menjadi torang p kendla pada saat melastarikan torang p budaya.. anak2 remaja & anak2 mudah sekarang...!! banyak yang malu utk mnggunakan bahasa daerah dalam suatu percakapam yg non formal.. jadi sebelum budaya torang lestarikan dijenjang pendidikan, ada baiknya kalu dilakukan pembinaan secara khusus dlu kepada anak2 muda untuk turut berpartisipasi dalam upaya pelestarian budaya.... baru kemudian secara umum dipublikasikan dikalangan masyarakat luas...
Rajab Sukardi: Pembangunan harus mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi& golongan. Betul apa yang dikatakan bang Muksin.Saya akan lebih setuju lagi jika slogan tersebut benar2 diaplikasikan di pemda Hal-UT.Jadi bukan hanya sekedar teori.
Rajab Sukardi: Bahasa adalah bagian dari kekayaan suatu bangsa yang memiliki nilai estetika yamg sngat tinggi. setahu saya selama tinggal di tobelo, jarang sekali anak2 muda yang mengerti apalagi menggunakannya . saya sngat mendukung skali jika bahasa tobelo dimasukkan di dalam kurikulum sekolah AGAR BAHASA Tobelo lestari alias tidak punah. gmn mrs. edha, deal...?
Edmon .k: Untuk menjaga dan melestrikn Kebudayaan,serta mengembankan Budaya suatu Daerah,maka sangat perlu di lakukan sosialisasi muulai dari tingkat TK Sampai dengan masyarakat pada umumnya.Kenapa perluh di lakukan sosialisasi.Mengingat karena dalam Budaya itu,sesuatu benda atau gambar mempunyai makna tersendiri.salah satu contoh adalah Motif pada Pakaian batik yang kita gunakan sekerang ini.Tentu masyarakat pasti bertanya-tanya apa makna dan arti dari motif tersebut.maka saya sarankan agar dibuatkan satu Buku tentang Ragamhias Halmahera Utara.Saya yakin setelah dibuat buku dimaksut ,masyarakat lebih mengetahui tentang Budaya kita ini.
Pagu: Siapapun senang klu Budaya/adat istiadat dikembangkan didaerah kita... namun siapapun akan menyesal jika dipolitisasi oleh elite2 politik...
halaman [1] [2] [3] [4] [5]