MENGENAL DIVE SITE DI HALMAHERA UTARA (15-01-2009) Irwan RainuShareMasyarakat Hibualamo sudah sepatutnya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karuniaNya saja wilayah ini memiliki kekayaan atas alam bawah laut yang tak ternilai harganya. Sebagai wujud rasa syukur, sudah sepatutnya kita wajib menjaga dan melestarikannya.

Potensi akan alam bawah laut ini pula yang mendorong tim Thalassa Diving Center Manado pada Agustus 2008 untuk melakukan survei di perairan Halmahera Utara. Dari kegiatan itu berhasil didata sebanyak 49 titik selam yang tersebar di beberapa wilayah seperti di perairan Pulau Doi-Loloda Utara, Pulau Morotai, gugusan pulau-pulau kecil di depan Tobelo sampai ke Galela.
Titik selam atau dive site adalah suatu lokasi khusus yang dimaksudkan sebagai area menyelam. Suatu lokasi dikategorikan sebagai suatu dive site dikarenakan memiliki keistimewaan-keistimewaan akan alam bawah lautnya. Sudah tentu suatu dive site harus memiliki taman laut dengan berbagai spesies terumbu karang dan biota laut lainnya. Perlu diketahui bahwa keunikan jenis biota laut merupakan salah satu faktor yang sangat menarik perhatian para penyelam. Beberapa jenis biota laut bahkan memiliki daya tarik tersendiri karena unik dan hanya dimiliki oleh daerah tertentu. Hal ini pulalah yang selalu mendorong para penyelam untuk selalu mencari dive site baru untuk diselami.

Halmahera Utara yang kaya akan potensi lautnya dibuktikan sendiri oleh penulis ketika ikut terlibat dalam survei tersebut. Keanekaragaman terumbu karang dengan berbagai jenis dan warna dapat dijumpai di setiap dive site yang terdata. Jenis-jenis seperti soft coral, hard coral, gorgonion, sea fun yang berpadu dengan beraneka jenis ikan hias seperti anemone fish,surgeon fish,unicorn fish dan angel fish yang sedang asyik bermain di antara celah-celah bunga karang dapat ditemui di sana.
Dari ke-49 dive site itu, beberapa dive site bahkan tergolong unik. Sebut saja underwater volcano yang terdapat di perairan Teluk Lisawa-Galela dimana uap panas yang keluar dari dasar laut dapat dijumpai di sini. Lain halnya dengan di Pulau Tupu-Tupu. Di sana terdapat karang meja (table coral) berukuran besar yang berkombinasi dengan jenis coral lainnya. Perairan Pulau Doi di Loloda Kepulauan juga memiliki karakteristik yang sama. Hanya saja di sini juga terdapat gua dan terowongan dalam laut yang bisa menjadi nilai tambah. Di samping itu, jangan lupakan wrecks (bangkai peralatan perang) dari masa perang dunia II di perairan Pulau Morotai yang adalah barang langka dengan nilai jual tinggi mengingat dive site jenis ini hanya terdapat di beberapa tempat saja di dunia. Keistimewaan-keistimewaan inilah yang dapat menjadi aset pariwisata Halmahera Utara untuk bisa dipasarkan ke dunia internasional.

Sayangnya tidak semua dive site di Halmahera Utara masih memiliki taman laut yang asri. Akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab banyak dari taman laut potensial yang dijumpai dalam kondisi menyedihkan. Kesadaran masyarakat yang masih rendah menjadi persoalan pelik!
Di Halmahera Utara, penangkapan ikan dengan cara pengeboman, pembiusan sampai dengan penggunaan kompresor untuk memburu binatang-binatang langka seperti lobster dan penyu kerap dilakukan oleh masyarakat. Hal ini apabila dibiarkan akan merusak bahkan menyebabkan punahnya jenis biota di suatu dive site. Hal ini semakin diperparah dengan pengambilan benda-benda bersejarah perang dunia II oleh masyarakat setempat. Bahkan di Pulau Morotai, wrecks tersisa hanya pada kedalaman 40 meter saja.

Sangat disadari bahwa untuk melarang masyarakat melakukan tindakan pengrusakan tersebut memang sangatlah dilematis. Di satu sisi hal ini akan mempersulit mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup namun di sisi lain, tanpa tindakan tegas, kita seolah-olah membenarkan tindakan mereka. Dalam mengantisipasi hal ini maka perlu dilakukan tindakan pencegahan.
Ada beberapa langkah yang bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam mengatasi masalah ini.
- Melakukan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya yang berdomisili di daerah pesisir pantai, tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan khususnya alam bawah laut. Hal ini sebenarnya telah mulai dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan baik dalam bentuk kegiatan kampanye sadar wisata maupun sosialisasi pengamanan objek wisata.
- Membentuk suatu badan pengawas yang senantiasa melakukan patroli rutin di lokasi dive site.
- Membuat zona-zona yang mempunyai aturan tersendiri seperti:
- Zone Umum yang diperuntukan untuk masyarakat yang ingin memancing dan menangkap ikan.
- Zone Menyelam yaitu suatu zona yang diperuntukan untuk kegiatan menyelam dengan tidak memberikan ijin kepada masyarakat untuk melakukan kegiatan lain
- Zona Perlindungan yang tidak memperbolehkan aktifitas apapun dilakukan dengan maksud untuk memelihara terumbu karang dan biotanya.
Khusus untuk zone perlindungan dirasa sangatlah perlu mengingat banyak lokasi yang membutuhkan perlindungan jenis ini seperti di Pintu Dua, Pantai Wawama, Dodola Kecil-Morotai, sebagian Pulau Doi, Pulau Dagasuli, dan di beberapa pulau-pulau kecil di depan Tobelo.
Demikian tulisan ini dibuat berdasarkan kepedulian dan pengalaman langsung penulis dalam survei di lapangan dan semoga bermanfaat bagi pembaca.