.:: Home > Artikel
TAMPILKAN ARTIKEL ANDA BERTEMAKAN HALMAHERA UTARA DI SINI!
Kami menerima artikel bertema Halmahera Utara untuk ditampilkan di situs ini.
Artikel dapat berupa pemikiran ataupun pengalaman anda selama berada di Halmahera Utara.
Artikel anda dapat dipublikasikan setelah terlebih dahulu mendaftar sebagai user.
TOBELO, TOBELO, TOBELO
(16-09-2008)  Andreas Harsono


Tobelo adalah sebuah kota di ujung Pulau Halmahera. Ukurannya kecil bila dibandingkan kota-kota di Pulau Jawa. Ia tak lebih besar dari sebuah real estate ukuran kecil di Jakarta. Ia bisa dijangkau dengan mudah dari Manado langsung dengan pesawat Merpati, mendarat di daerah Kao, sekitar satu jam dari Tobelo.


Ada dua bank di Tobelo, BNI dan BRI, serta sebuah pasar dan terminal angkutan kota yang berantakan. Orang banyak jualan makanan di pusat kota, dari coto Makassar hingga ayam goreng Jawa.

Aku mengenal Tobelo ketika membaca buku Ibu Maluku: The Story of Jeanne van Diejen karya Ron Heynneman. Van Diejen seorang perempuan Belgia yang menikah dengan seorang administratur perkebunan Belanda di Tobelo. Ia tinggal di Tobelo antara 1920 dan 1942. Ceritanya sangat memikat, membuat aku jadi ingin melihat tempat-tempat dimana Van Diejen pernah bekerja dan membangun perkebunan kelapa.


Kini Tobelo adalah ibukota Kabupaten Halmahera Utara. Aku tinggal di Tobelo hampir seminggu November ini. Bicara kesana kemari, keliling kota cuma 20 menit, melihat kampus Sekolah Tinggi Theologia Tobelo dan Politeknik Padamara.

Aku juga bertemu dengan praktis semua orang penting di kota ini –kecuali mereka lagi keluar kota. Entah kenapa, aku suka dengan kota ini, mungkin karena pengaruh pasangan Alexander Davey dan Grace Siregar. Mereka bekerja di Tobelo dan menyewa rumah kayu Minahasa. Aduh enaknya, angin malam menerpa teras rumah. Alex bekerja untuk World Vision Indonesia. Grace seorang seniman, banyak membina hubungan dengan seniman Ternate, Tobelo dan Morotai.


Teluk Kao, dimana Tobelo terletak, pada zaman Perang Dunia II jadi pangkalan armada laut Jepang. Lautnya dalam. Pada zaman perang, ada lebih dari 2,000 kapal perang hilir mudik disini. Sebagian besar ditenggelamkan oleh pesawat terbang Amerika. Ada beberapa haluan kapal masih terlihat di Teluk Kao. Jepang juga membangun lapangan terbang besar dengan tujuh landasan.

Di Tobelo ada beberapa hotel. Aku tinggal di Villahermosa, yang terletak di daerah Wosia. Kamar bersih. Udara bersih. Harga Rp 100,000 per malam. Mereka juga sedia laundry. Pemiliknya, orang Tionghoa Tobelo, Heri Manonata, sangat membantu bila aku mau ketemu orang, naik gunung, snorkelling, naik gunung, cari mobil dan sebagainya.


Aku kira, Tobelo bisa jadi daerah tujuan wisata sing ciamik! Ada laut. Ada gunung. Ada sejarah.

Pusat kota sederhana. Tobelo termasuk kota yang banyak penduduk Kristennya. Aku melihat orang memakai kalung salib dimana-mana. Di pusat kota, juga sering terdengar lagu-lagu disco gereja. Amazing Grace dan Kumbaya rasanya menghantam telinga di pusat kota ini. Pada 1999-2001, Tobelo juga jadi pusat pertumpahan darah Kristen-Islam yang buruk sekali. Hampir separuh kota terbakar habis. Listrik tak menyala hampir empat tahun.


Menariknya, ia cepat sekali bangkit dari keterpurukan itu. Ada suasana terbuka yang wajar. Baik orang Kristen dan Islam mengatakan tak ada yang menang, tak ada yang kalah dalam peperangan itu. Mereka kini belajar untuk toleran satu dengan yang lain.

Ani Sawal, orang Ternate, menjual nasi kuning khas Ternate di pusat kota. Aku suka sekali nasi ini. Ia dicampur bakmi, ikan cakalang masak bumbu dan acar mentimun. Setiap pagi aku sarapan disini.


Hari ketiga, "Cik Ani" cerita pengalamannya saat kerusuhan. Rumah dan restorannya habis terbakar. Suaminya, orang Bugis, Tellong Haji Lombe, meninggal karena stres di Makassar. Anaknya, yang ikut berperang, kena bom dan kaki kanannya cacat. Ia menangis ketika cerita. Cik adalah bahasa Tobelo untuk Ibu atau Madame.

Pada 1980, Cik Ani buka rumah makan "Maro Ona" yang artinya "Sama Saja" dalam bahasa Galela. Dia jual nasi kuning, ikan bakar. Suaminya tukang jahit serta punya 36 becak. Pada Desember 2000, perang di Maluku menjalan ke Tobelo. Muslim lawan Kristen. Ceritanya seram.


Di pasar Tobelo, aku juga terpesona, sekaligus jijik, melihat orang menjual kelelawar. Paniki --masakan kelelawar-- tergolong kegemaran orang Tobelo. Namun cara membunuh kelelawar ini yang bikin aku jijik. Kelelawar hidup-hidup ini diambil dari keranjang dan dipukul kepalanya dengan kayu. Darah muncrat.

Aku juga belanja perhiasan besi putih asal Pulau Morotai. Kerajinan ini terkenal sekali. Besi putih diambil dari bekas-bekas pesawat terbang Sekutu yang dulu ditinggalkan di Morotai sesudah Perang Dunia II.


Pisang montok-montok. Kebanyakan sayuran dan buah-buahan datang dari daerah Galela, utara Tobelo, yang mayoritas penduduknya Muslim. Baik Tobelo dan Galela sebenarnya daerah campuran. Kampung Islam dan kampung Kristen berserakan dan berselang-seling.

Bila bisa naik mobil ke Duma, sebuah daerah yang indah di ujung Danau Galela, kita juga bisa berkunjung ke Gereja Masehi Injili di Halmahera cabang Duma. Namanya, GMIH Nita. Disini ada kuburan massal orang GMIH yang 201 orang mati dibunuh dalam suatu serangan dari Pasukan Jihad pada 19 Juni 2000. Mereka belakangan dimakamkan bersama-sama. Banyak pendatang berkunjung.

Di samping pemakaman ini ada replika KM Cahaya Bahari yang tenggelam seminggu sesudah serang Duma. Ada 100 warga Duma yang hendak mengungsi ke Manado ikut tenggelam. Ini adalah jumlah korban terbesar dalam pertikaian agama di daerah Maluku. Duma kehilangan lebih dari 300 warganya dalam pertikaian ini. Kini kebanyakan warga desa adalah janda dan anak-anak.


*) Penulis adalah seorang jurnalis yang baru saja menyelesaikan bukunya yang berjudul From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism. Lebih jauh mengenai penulis silahkan untuk mengunjungi http://andreasharsono.blogspot.com

KOMENTAR ANDA
Yany Munir: tobelo sangat cantik dan mempesona dulu lokasi kantor bupati bautang/tempat saya ambe kasbi deng pisang..ingat masa sekolah dulu dari loloda utara
Semfri Watunwotuk: kangen halmahera, kangen pulang ke tobelo
Leo: menurut tobelo itu sudah bagus tapi kita harus membuatnya lebih bagus lagi ok..
JEREMY TINGGINEHE: Opa saya dari ternate pernah bertugas di Tobelo kepala kantor Duane / Beacukai 1976-1980 dan papa saya tamat di SMA Gotongronyong Tobelo 1980 skarang SMAN Tobelo, banyak skali saudara kami tingggal di tobelo setelah kerusuhan 2000 ada digamhoku, wko, wosia dan dikota tobelo saya merindukan suatu ketika bisa datang di Tobelo. Tuhan memberkati Tobelo
Andreas: peningkatan dibidang kepariwisataan di kabupaten Halmahera Utara perlu dan sangat di tingkatkan dan pembanya jangan biarkan karena itu adalah aset daerah dan masyarakat halmahera utara umumnya.
halaman [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19] [20] [21]
POSTING KOMENTAR ANDA
Nama
Komentar