.:: Home > Artikel
TAMPILKAN ARTIKEL ANDA BERTEMAKAN HALMAHERA UTARA DI SINI!
Kami menerima artikel bertema Halmahera Utara untuk ditampilkan di situs ini.
Artikel dapat berupa pemikiran ataupun pengalaman anda selama berada di Halmahera Utara.
Artikel anda dapat dipublikasikan setelah terlebih dahulu mendaftar sebagai user.
SUKU TUGUTIL YANG BERSAHAJA
(03-03-2008)  Administrator

Share

Penulis: David Purmiasa & Herman Teguh (www.korantempo.com)

Di dalam kawasan usulan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata masih terdapat komunitas suku Togutil dan suku Tobelo yang hidup di hutan-hutan secara nomaden di sekitar hutan Totodoku, Tukur-Tukur, Lolobata, Kobekulo dan Buli.

Kehidupan mereka masih sangat tergantung pada keberadaan hutan-hutan asli. Mereka bermukim secara berkelompok di sekitar sungai. Komunitas Togutil yang bermukim di sekitar Sungai Dodaga sekitar 42 rumah tangga. Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu, bambu dan beratap daun palem sejenis Livistonia sp. Umumnya rumah mereka tidak berdinding dan berlantai papan panggung.

Suku Tugutil yang dikategorikan suku terasing tinggal di pedalaman Halmahera bagian utara dan tengah, menggunakan bahasa Tobelo sama dengan bahasa yang dipergunakan penduduk pesisir, orang Tobelo.

Menurut Simon Ipo, penunjuk jalan kami yang juga sebagai ketua Jemaat wilayah itu, tidak ada perbedaan berarti antara bahasa yang dia gunakan (Tobelo) dengan bahasa orang Tugutil, kecuali iramanya.

Kenyataanya, komunikasi antara Simon dengan orang-orang Tugutil sangat lancar, seperti tidak menunjukkan adanya perbedaan. Yang terlihat nyata berbeda, budaya dan ciri fisiknya.

Orang Tugutil penghuni hutan yang dikategorikan sebagai masyarakat terasing, sementara orang Tobelo penghuni pesisir yang relatif maju. Selain itu fisik orang Tugutil, khususnya roman muka dan warna kulit, menunjukkan ciri-ciri Melayu yang lebih kuat daripada orang Tobelo.

Ada cerita, orang Tugutil itu sebenarnya penduduk pesisir yang lari ke hutan karena menghindari pajak. Pada 1915 Pemerintah Belanda memang pernah mengupayakan untuk memukimkan mereka di Desa Kusuri dan Tobelamo. Karena tidak mau membayar pajak, mereka kembali masuk hutan dan upaya itu mengalami kegagalan. Dari sini lah rupanya beredar cerita semacam itu. Namun cerita ini rupanya tidak benar. Orang-orang Tugutil memang penghuni hutan sejati, dan sayangnya aku tidak sempat mendengar cerita apa-apa mengenai asal-usul mereka.

Di Totodoku, sekitar 9 atau 10 km dari daerah transmigrasi SP-2, di pinggir ruas jalan Subaim-Buli, tidak jauh dari sebuah sungai yang cukup besar kami menjumpai orang Tugutil.

Tempat itu berupa pemukiman yang terdiri atas beberapa belas bangunan beratap daun sejenis palem yang kontruksinya sangat sederhana sehingga lebih tepat disebut gubuk daripada rumah. Penghuninya, terutama kaum lelaki, sedang berada di dalam hutan, dan beberapa orang lelaki dan wanita tua yang nyaris telanjang; lelaki hanya mengenakan cawat sedangkan wanita bertelanjang dada.

Seorang pemburu tua yang kembali dari hutan, selain hanya bercawat juga membawa sebuah busur sepanjang kira-kira 2 meter dengan beberapa anak panah sepanjang kira-kira 1 meter, dan mata panahnya mereka buat sendiri dari sisa-sisa besi bangunan

Sebenarnya, masyarakat Tugutil bukanlah masyarakat yang primitif dan terisolasi. Mereka nampak akrab dengan tukang ojek yang mengantar saya. Ini menandakan bahwa mereka telah sering bertemu; entah karena ojek yang sering kesana atau mereka yang sering turun ke SP-2.

Meskipun kebanyakan rumah masih beratapkan daun palem, sebagian diantaranya sudah menggunakan balok dan papan olahan untuk tiang dan dinding.

Di dapur, tempat kami meletakkan barang, nampak sejumlah peralatan makan dan masak seperti lazimnya dapur, kecuali kompor. Sementara, di antara mereka yang telanjang dada ternyata ada beberapa yang segera berpakaian ketika hendak menemuiku.

Dari hasil obrolan, yang menarik adalah kenyataan bahwa beberapa penghuni pemukiman ini memiliki hubungan darah dengan pendatang asal Kepulauan Sangihe (Sulawesi Utara). Yang terakhir ini, katanya, datang ke situ pada 1958, ketika meletus pemberontakan Permesta di Sulawesi.

Kehidupan Orang Tugutil sesungguhnya amat bersahaja. Mereka hidup dari memukul sagu, berburu babi dan rusa, mencari ikan di sungai-sungai, di samping berkebun. Mereka juga mengumpulkan telur megapoda, damar, dan tanduk rusa untuk dijual kepada orang-orang di pesisir. Kebun-kebun mereka ditanami dengan pisang, ketela, ubu jalar, pepaya dan tebu.

Namun karena mereka suka berpindah-pindah, dapat diduga kalau kebun-kebun itu tidak diusahakan secara intesif. Dengan begitu, sebagaimana lazimnya di daerah-daerah yang memiliki suku primitif, hutan di daerah ini tidak memperlihatkan adanya gangguan yang berarti.


KOMENTAR ANDA
Mr.Ichad: Eksistensi Suku-suku yang berada di HALUT harus diperhatikan! jangan hanya sebuah nama...! kenapa suku-suku yang ada di HALUT tidak seperti suku yang ada p PAPUA, Kalimantan, Aceh, Bali dll?
Agung Nova: Pd dsr suku tugutil memang suku terasing,tp dr pola berpikirnya suku tugutil sgt modern.terbukti pnh ada salah satu org suku tugutil yg dpt penghargaan ttg cagar alam.aku salut sm org tugutil apa lg dgn ir.banare dia pejuang kebudayaan halut.i love u halut.by 1508
Stevie: *Suku Tugutil yang dikategorikan suku terasing tinggal di pedalaman.......dst *Orang Tugutil penghuni hutan yang dikategorikan sebagai masyarakat terasing.....dst Ralat: Mereka bukan Suku terasing tapi Suku Asli, Kita ini yang terasing yang sudah mengenal mordernisasi dan pendatang dari luar halmahera.
Yanuardi Syukur: memang banyak hal yang perlu diangkat... sesuatu yang sederhana bisa menjadi sedemikian berharga tergantung dari cara pandang kita, frame kita.. bagus kalo ada film tentang itu. dalam appocalyto, deskripsi tentang peradaban suku maya begitu menarik, nyata. siapa tau kita bisa buat film dari suku ini...
Bingung: Selama ini saya selalu mendengar cerita tentang suku Tugutil yg angker2. Jd artikel ini bagus sekali untuk konfirmasi.
halaman [1] [2]