.:: Home > Artikel
TAMPILKAN ARTIKEL ANDA BERTEMAKAN HALMAHERA UTARA DI SINI!
Kami menerima artikel bertema Halmahera Utara untuk ditampilkan di situs ini.
Artikel dapat berupa pemikiran ataupun pengalaman anda selama berada di Halmahera Utara.
Artikel anda dapat dipublikasikan setelah terlebih dahulu mendaftar sebagai user.
YANG UNIK YANG ENDEMIK
(09-01-2008)  Administrator

Share

Penulis: Fahrul P. Amama

Burung adalah indikator penting dalam menentukan daerah-daerah prioritas pelestarian alam. Pasalnya, satwa ini hidup di seluruh habitat daratan di seluruh dunia, peka terhadap perubahan lingkungan, dan taksonomi serta penyebarannya telah cukup diketahui. Sebagai indikator penting, kekayaan dan keragaman burung dapat digunakan sebagai dasar perbandingan antardaerah untuk menentukan prioritas utama konservasi. Daerah-daerah tersebut adalah tempat terkonsentrasinya jenis burung sebaran terbatas yang disebut Daerah Burung Endemik (DBE).

BirdLife International telah memetakan 221 DBE di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Nusantara yang memiliki 24 DBE merupakan negara dengan jumlah DBE terbanyak di dunia. Di skala nasional, daerah dengan DBE terbanyak adalah Papua dengan delapan DBE diikuti Maluku. Namun, DBE di Maluku paling unik unik karena semuanya terkonsentrasi di pulau-pulau kecil yang tersebar di antara Sulawesi dan Nugini.

Wilayah Maluku yang luas daratannya sekitar 70.230 km persegi terdiri atas dua kelompok kepulauan utama, yaitu kelompok Kepulauan Maluku Utara yang terdiri atas Morotai, Halmahera, Bacan, dan Obi; serta kelompok Kepulauan Maluku Selatan yang terdiri atas Buru, Ambon, dan Seram. Di luar kelompok kepulauan utama ada sebuah busur pulau-pulau kecil, yang disebut Busur Laut Banda. Barisan pulau-pulau kecil ini memanjang dan melengkung di sebelah tenggara, membentuk formasi tapal kuda. Busur pulau mencakup Kepulauan Kai serta pulau-pulau yang terisolasi seperti Mayu, Tifore, Kepulauan Banda, dan Manuk. Semua pulau-pulau ini secara administratif masuk Provinsi Maluku.

Spicy islands
Maluku sangat terkenal sebagai "spicy islands" karena selama berabad-abad telah menjadi lumbung rempah-rempah dunia dengan menghasilkan cengkeh (Eugenia aromatica), kemiri (Aleurites moluccana), kenari (Canarium indicum), pala (Myristica fragrans dan Myristica aryana).

Dalam hal keanekaragaman hayati, kepulauan ini sangat kaya tetapi belum banyak dieksplorasi. Padahal beberapa abad lalu Maluku kerap dikunjungi untuk ekspedisi biologi. Ekspedisi yang paling terkenal adalah kunjungan A.R Wallace yang diikuti dengan penerbitan buku klasik "The Malay Archipelago" (1869). Sebagian besar tempat yang dikunjungi Wallace adalah pulau-pulau di wilayah Maluku. Di Kepulauan inilah Wallace mengembangkan teori mengenai zoogeografi, memperoleh petunjuk penting bagi teori evolusi makhluk hidup, dan memberikan kontribusi besar dalam teori evolusi berdasarkan seleksi alam yang saat itu juga tengah dikembangkan Charles Darwin.

Dalam dunia ornitologi, Maluku menjadi wilayah yang sangat penting dari segi keragaman jenis burung. Dari 1.585 jenis burung yang terdapat di Indonesia, 672 jenis dapat kita temui di wilayah Maluku yang 91 diantaranya merupakan endemik Maluku. Lebih dari itu, Maluku terkenal identik dengan berbagai jenis nuri dan kakatua. Dari 77 jenis burung paruh bengkok di Indonesia, 32 jenis di antaranya dapat ditemui wilayah ini dan 11 di antaranya merupakan jenis endemik Maluku. Wilayah kepulauan ini juga terkenal dengan jenis-jenis burung gosong dari famili Megapodidae, yang suka menguburkan telurnya di bawah tanah. Dan dari 14 jenis gosong yang ada di dunia, enam diantaranya terdapat di Maluku.

Maluku Utara (E25)
Wilayah Maluku Bagian Utara merupakan daerah yang sangat kaya dengan keragaman jenis burung. Di wilayah ini terdapat 26 jenis burung endemik, jumlah yang sangat menakjubkan. Jenis-jenis endemik tersebut antara lain adalah:
1.Elang-alap maluku Accipiter henicogrammus
2.Mandar gendang Habroptila wallacii
3.Berkik-gunung maluku Scolopax rochussenii
4.Walik dada-merah Ptilinopus bernsteinii
5.Walik topi-biru Ptilinopus monarcha
6.Walik kepala-kelabu Ptilinopus hyogastra
7.Walik benjol Ptilinopus granulifrons
8.Pergam boke Ducula basilica
9.Kasturi ternate Lorius garrulus
10.Kakatua putih Cacatua alba
11.Wiwik maluku Cacomantis heinrichi
12.Bubut goliath Centropus goliath
13.Atoku maluku Aegotheles crinifrons
14.Cekakak biru-putih Halcyon diops
15.Cekakak murung Halcyon funebris
16.Tiong-lampu ungu Eurystomus azureus
17.Paok halmahera Pitta maxima
18.Kepudang-sungu halmahera Coracina parvula
19.Kapasan halmahera Lalage aurea
20.Kacamata halmahera Zosterops atriceps
21.Cikukua coreng-putih Melitograis gilolensis
22.Cikukua hitam Philemon fuscicapillus
23.Kepudang halmahera Oriolus phaeochromus
24.Cendrawasih gagak Lycocorax pyrrhopterus
25.Burung bidadari Semioptera wallacei
26.Gagak halmahera Corvus validus

Kelompok Kepulauan Maluku Utara meliputi Halmahera, Morotai dan Rau, Mayu-Tifore, Ternate-Kayoa, Widi, Bacan, serta Obi. Halmahera yang luasnya sekitar 18.000 km persegi adalah pulau terbesar kedua di Maluku. Dilihat dari udara, bentuk Halmahera sangat mirip dengan Pulau Sulawesi sehingga seperti miniaturnya. Kemiripan ini tidak hanya dari segi bentuk, tapi juga dalam hal asal kedua pulau ini yang sama-sama jadi busur pulau, bahkan fisiografinya.

Dengan keempat semenanjung berhutan yang masing-masing memiliki permukaan lahan khas, Halmahera menampilkan suatu keragaman habitat yang kompleks. Gunung Gamkanora (1.567 m), di semenanjung utara, merupakan puncak tertinggi Halmahera. Tanah vulkanis yang sangat subur di sini menjadikannya pusat utama industri rempah-rempah. Namun, karena populasi manusia yang semakin berkembang, banyak kawasan lahan vulkanis kehilangan hutannya, terutama di dataran rendah.
Seiring dengan berlangsungnya penebangan hutan di dataran rendah, hutan-hutan di perbukitan juga semakin terancam. Sebagian besar lembah yang memisahkan pegunungan utama Halmahera dengan beberapa tempat dahulu adalah rawa dan danau air tawar luas, tapi kini telah berubah menjadi lahan pertanian.

Batu Puti merupakan salah satu lokasi yang masih kaya burung. Di tempat ini masih dapat dijumpai bidadari halmahera (Semiopetera wallacei) jantan menari memamerkan antenanya untuk memikat betina. Selain beberapa dari jenis yang lebih mengagumkan dan lebih luas daerah sebarannya, jenis rajawali kuskus (Aquila gurneyi) dan julang irian (Rhyticeros plicatus) juga ada.

Obi adalah pulau kecil yang kondisi biologinya kurang dikenal, terletak di Maluku Utara bagian selatan. Pulau ini bentuknya agak mirip mata panah kasar, sebagian besar wilayahnya bergunung-gunung tetapi dataran pesisir di tepinya cukup lebar, khususnya di sisi barat dan timur. Pegunungan di tengah terdiri dari serangkaian punggung bukit yang panjang dan sempit serta lembah-lembah yang dalam dan menanjak sampai ketinggian 1.280 m di Gunung Silo. Pulau ini memiliki satu jenis burung endemik yaitu walik benjol (Ptilinopus granulifrons).


* Penulis bekerja di Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia) sebagai Social Marketing and Campaign Officer.
**) Merupakan artikel Majalah Burung Indonesia, edisi ke VI Juli 2007.


KOMENTAR ANDA
Yenie: karena keanekaragaman hayati kita kaya dan sngat unik jadi kita patut menjaganya dari kepunahan dan melestarikannya.
Ola: makasih buat infonya, sangat membantu dalam penyelesaian tugas saran: lebih bagus kalo ada gambarnya dan klasifikasinya
Yanuardi Syukur: bagusnya kalo ada semacam taman nasional yang di situ banyak burung, kayak di ragunan gitu... bisa ga ya?
halaman [1]