KARTINI LOLODA UTARA (07-08-2007) Farid S. ZuhriShareSetelah tertunda selama hampir tiga hari, akhirnya tim faskel kecamatan Loloda Utara yang dikomandani Muhlis Muin dan Burhan Said bisa berangkat juga. Tepatnya pada hari rabu, 27 Juni 2007 pukul 23.30 WIT.
Ditemani terpaan ombak dan angin malam pantai kota Tobelo yang hangat kedua tim faskel itu berangkat dengan menggunakan dua perahu berbeda jurusan: Loloda Utara daratan dan Loloda Kepulauan.
Mereka seharusnya dijadwalkan tiba di Tobelo (ibukota kabupaten Halmahera Utara) pada hari Minggu, 24 Juni 2007, bersama dengan tim faskel lain. Namun, setelah dilakukan konfirmasi dengan pihak pelabuhan ternyata keberangkatan kapal ke Loloda Utara hanya pada Sabtu dan Rabu malam. Jadi, selama tiga malam mereka harus “tinggal” di penginapan sederhana dengan sewa kamar Rp 55.000,-/malam. Harga ini tergolong murah karena rata-rata penginapan standar di kota Tobelo memasang tarif Rp 100.000,-/malam dan Rp 165.000,-/malam untuk kamar ber-AC.
Nasib lebih beruntung dialami dua tim dari Morotai Selatan Barat yang berangkat dua hari sebelumnya. Sekalipun tujuan kapal mereka tidak langsung ke pusat kecamatan (Wayabula), melainkan harus turun di desa Cio Geron, yang berada di ujung utara kecamatan Morotai Selatan Barat. Dari situ, mereka harus berjalan kaki atau menyewa ketinting (perahu kecil) menuju pusat kecamatan atau ke desa lokasi sasaran P2KP lain.
Tim Loloda Utara sendiri berjumlah tujuh orang, dari yang seharusnya sembilan orang (masih ada kekurangan dua orang faskel infrastruktur). Uniknya, dari tujuh orang yang berangkat, empat di antaranya adalah perempuan. Cerita menjadi menarik ketika pembagian tim Faskel KMW XIV berlangsung. Enam dari delapan orang yang ditempatkan di Loloda Utara mengundurkan diri. Mereka adalah satu orang SF dan lima faskel, yang kesemuanya laki-laki. Sedangkan yang masih bertahan adalah Muhlis Muin dan Nurjana Wahid.
Pengunduran diri mereka didasari pada informasi akan beratnya medan pada lokasi sasaran. Loloda Utara yang terletak di ujung timur Pulau Halmahera memang merupakan wilayah yang belum bisa ditempuh lewat jalan darat. Butuh kesediaan berjalan kaki berjam-jam membelah hutan dan bebukitan. Apalagi jika masuk bulan yang berakhiran “ber”: September, Oktober, November, dan Desember. Saat itu gelombang laut Maluku (samudera Pasifik) cukup besar, akibatnya kapal tidak dapat merapat di pantai sehingga penumpang harus turun sekitar 300 meter dari pantai, untuk kemudian berenang atau dijemput ketinting menuju ke daratan.
Setelah melalui bongkar pasang dan seleksi personel didapatkan hasil yang agak mengejutkan. Dari lima orang yang bersedia bergabung dengan tim Loloda Utara, tiga di antaranya adalah perempuan. Mereka adalah Rita Amir, Jahra Idris dan Salma Lahia, sehingga faskel perempuan di tim Loloda Utara berjumlah empat orang. Mereka inilah Kartini P2KP yang telah mengalahkan nyali ciut para laki-laki, yang sebelumnya mengundurkan diri.
Sehari sebelum berangkat mereka bertemu sekretaris camat Loloda Utara yang kebetulan sedang menjenguk keluarganya di Tobelo. Menurut sekretaris camat, kecamatan Loloda Utara memiliki operasional perahu motor, yang juga bisa digunakan oleh tim faskel. Kendalanya, di wilayah itu tidak ada penjual BBM. Akhirnya, kedua tim faskel mengumpulkan uang sejumlah Rp 600.000,- untuk membeli BBM, dan diangkut dengan kapal ke Loloda Utara. Selamat berjuang kawan-kawan! Buktikan perjuangan kalian tidak sia-sia.