EKSOTISME ALAM DENGAN UNTAIAN SEJARAH (18-07-2007) Wijaya LadampaShareKabupaten Halmahera Utara terletak Provinsi Maluku Utara, merupakan salah satu kabupaten hasil pemekaran yang terbentuk tanggal 31 Mei 2003 yang memiliki luas 24.983,32 km2 dengan 22 kecamatan dan 260 desa. Halmahera Utara beribukota di Tobelo, yang berjarak 138 mil laut dari Ternate, ibukota Provinsi Maluku Utara.
Kabupaten Halmahera Utara berada tepat di bibir Samudera Pasifik, dimana sebelah utara berbatasan dengan Samudera Pasifik, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Halmahera Timur dan Laut Halmahera, sedangkan sebelah selatan dan barat berbatasan dengan Kabupaten Halmahera Barat.
Dalam konstelasi wilayah, Halmahera Utara masuk dalam jazirah utara Pulau Halmahera yang mencakup pulau Morotai dan pulau-pulau kecil lainnya di bagian utara Pulau Halmahera termasuk Loloda Kepulauan. Untuk mencapai Kabupaten Halmahera Utara, dapat melalui jalur laut atau darat. Dari Ternate, dapat menggunakan kapal penyeberangan selama kurang lebih 1 jam dan diteruskan melalui perjalanan darat sekitar 4 jam menuju ibukota Tobelo.
Kabupaten Halmahera Utara telah lama dikenal memiliki potensi pariwisata yang tidak kalah dengan daerah lain dengan puluhan pulau-pulau kecil yang sangat mempesona. Potensi wisata yang ada antara lain bahari berupa taman laut yang kaya dengan biota laut, pulau-pulau kecil dengan pantai pasir putih yang indah dan air laut yang jernih, hutan, flora dan fauna yang beraneka ragam.
Didasarkan keinginan untuk menggali potensi wisata yang ada, tim Puspar UGM melakukan ekspedisi pada beberapa objek wisata yang terdapat di daerah ini. Selama beberapa hari, tim ekspedisi mendata beberapa potensi dan daya tarik yang ada pada objek-objek wisata di Kabupaten Halmahera Utara.
Tim Puspar UGM mengawali ekspedisi dari kota Tobelo, ibukota Kabupaten Halmahera Utara, yang juga direncanakan tim sebagai tempat menginap untuk sementara. Kota Tobelo sendiri merupakan kota yang terbilang sudah berkembang, dimana sudah banyak dijumpai bangunan fasilitas publik yang lengkap dan modern. Tim tiba dari Jogja pada saat malam sudah menggelayuti kota Tobelo, sehingga tim bisa menyaksikan keramaian malam di beberapa sudut kota Tobelo. Tim kemudian mencari penginapan di tengah kota, untuk beristirahat melepas lelah sambil mempersiapkan segala sesuatu untuk ekspedisi pada keesokan harinya.
Tujuan hari pertama tim adalah mengunjungi Pantai Luari yang terletak perbatasan antara Kecamatan Tobelo dan Kecamatan Galela. Pantai Luari memiliki pasir putih dan pemandangan alam yang menarik, dimana lokasi pantai Luari berhadapan langsung dengan Samudera pasifik. Konon, sebutan nama Luari berasal dari sejarah yang berada di pantai ini. Dahulu pernah terjadi perselisihan wilayah antar penduduk dua daerah di sekitar pantai ini, yang kemudian membutuhkan penyelesaian. Atas inisiatif dari para tokoh masyarakat setempat, maka mereka berkumpul di pantai ini guna membahas penyelesaian atas konflik yang terjadi. Mereka menyelesaikan persoalan di pantai ini sebagai tempat yang dirasa netral, sehingga permasalahan dapat diatasi. Karena mereka “melihat” permasalahan yang terjadi di tempat ini, maka penduduk setempat sepakat menyebut pantai ini sebagai pantai Luari, yang berarti melihat dari luar. Selain keindahan alam yang dimiliki pantai Luari, wisatawan atau pengunjung dapat bermain dengan alunan ombak pantai maupun berenang.
Setelah dirasa cukup mendata Pantai Luari, tim ekspedisi melanjutkan perjalanan menuju Telaga/Danau Duma. Danau Duma merupakan danau terbesar di Halmahera Utara, terletak di Kecamatan Galela dan dapat dijangkau sekitar 45 menit dari Tobelo. Danau Duma menawarkan panorama alam yang indah dan natural. Airnya jernih dan tenang sehingga cocok untuk berenang, memancing dan dayung. Selain itu, di danau ini juga terdapat usaha budidaya ikan air tawar yang dilakukan dengan membuat karamba-karamba di salah satu sudut danau. Tim juga sempat menikmati lezatnya sajian ikan bakar yang dipanen langsung dari danau. Tidak jauh dari Danau Duma terdapat Talaga Makete, Talaga Likonano dan Talaga Kapupu. Hari sudah mendekati sore saat tim kembali dari ekspedisi pada hari pertama, sehingga tim memutuskan untuk kembali ke Kota Tobelo sambil mempersiapkan ekspedisi melalui laut pada keesokan harinya.
Hari kedua bagi tim untuk meneruskan ekspedisi, tim berencana untuk mengunjungi Pulau Tagalaya dan Pulau Dodola yang tersohor karena keindahan alam bawah lautnya (baca : taman laut). Dengan menggunakan speed boat yang cukup laju, tim menuju ke Pulau Tagalaya yang tidak jauh dari kota Tobelo. Perjalanan ke Pulau Tagalaya memerlukan waktu sekitar 15-20 menit dari kota Tobelo. Tiba di Pulau Tagalaya, tim langsung disuguhi oleh pemandangan alam bawah laut yang terlihat jelas dari pinggir pantai. Beraneka jenis ikan, keindahan terumbu karang dan keelokan biota laut lainnya bisa ditemukan di alam bawah laut Pulau Tagalaya.
Tim sempat melakukan aktivitas snorkeling di sepanjang Pulau Tagalaya untuk menyaksikan panorama bawah laut tersebut. Setelah lelah melakukan snorkeling, tim juga sempat menikmati sajian ikan bakar dari hasil tangkapan nelayan setempat. Selain keindahan alam bawah lautnya, Pulau Tagalaya juga memiliki keunikan lain berupa pasir putih dan hutan bakau yang tumbuh di sekitarnya. Di sekitar Pulau Tagalaya, juga dapat ditemukan objek-objek wisata bahari lain seperti Pulau Rorangane, Pulau Zum-Zum dan Pantai Kumo. Tim juga sempat mengunjungi kawasan-kawasan tersebut untuk beberapa saat lamanya.
Tujuan perjalanan tim berikutnya menuju ke Pulau Dodola, tempat yang menjadi salah satu objek wisata di Halmahera Utara. Pulau Dodola terdiri dari 2 (dua) daratan yang dihubungkan dan dikelilingi hamparan pasir putih. Ketika air laut pasang, Pulau Dodola terbagi menjadi dua, yaitu Dodola kecil dan Dodola Besar. Ketika air laut surut, pasir putih yang ada menjadi “jembatan” indah yang membelah dua perairan.
Pasir putih di pulau Dodola juga memiliki keunikan, yaitu pasir putih yang halus pada bibir pantai yang menghadap ke Pulau Morotai dan pasir putih yang kasar pada bibir pantai yang menghadap ke Pulau Dodola. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan arus. Selain pesona alam pantainya, Dodola juga menyimpan sejarah pada masa perang kemerdekaan dahulu. Menurut pemandu setempat, Pulau Dodola digunakan sebagai tempat rekreasi oleh Douglas McArthur, seorang jenderal sekutu pada masa perang dunia II.
Setelah dirasa cukup untuk singgah di Pulau Dodola, tim kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Pulau Morotai. Dalam perjalanan menuju ke Morotai, tim melewati Pulau Zum-Zum. Pulau Zum-zum tergolong pulau kecil yang memiliki panorama alam pantai pasir putih berkerikil dan nilai historis yang tinggi. Pada masa perang kemerdekaan dahulu, Pulau Zum-zum digunakan sebagai tempat tinggal Jenderal Douglas Mc Arthur, pemimpin pasukan sekutu untuk kawasan Asia Pasifik pada masa perang dunia II. Goa pusat komando dan tempat pendaratan amphibi masih terdapat di pulau ini.
Tim tiba di Pulau Morotai saat hari sudah mendekati malam, sehingga tim memutuskan untuk bermalam di pulau ini. Keesokan harinya, tim mencoba memfokuskan diri untuk berkeliling di Pulau Morotai. Di hari terakhir ekspedisi, tim ingin menggali lebih banyak potensi yang terdapat di Pulau Morotai. Pulau Morotai berada di ujung utara Kabupaten Halmahera Utara, berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik. Luas wilayah Pulau Morotai adalah 2.474,94 km2 dan terbagi menjadi 5 kecamatan. Pulau Morotai menyimpan banyak kenangan tentang keberadaan tentara sekutu di masa perang dunia II, terutama sebelum pemboman kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang.
Di Pulau Morotai, tim banyak menemukan peninggalan sejarah pada masa perang dunia II. Diantaranya tujuh landasan udara peninggalan tentara sekutu di Morotai yang dikenal dengan sebutan Pitu Strip dan tank-tank amphibi peninggalan tentara sekutu. Pulau Morotai juga identik dengan sejarah dari Jenderal Divisi VII Angkatan Perang AS, Douglas Mc Arthur. Banyak jejak sejarah yang dibuat oleh Mc Arthur di Morotai, terutama tentang kepiawaiannya dalam memimpin angkatan perang AS dan sekutu melawan Jepang. Bekas-bekas mesin Perang Dunia II yang terdapat di Morotai dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan atau siapa saja yang berkunjung ke Pulau Morotai.
Selain peninggalan sejarah, terdapat pula objek wisata alam di Morotai yang tidak kalah menariknya dengan daerah lainnya. Tanjung Pinang yang terkenal dengan keindahan alam pantainya dan Pantai Wewemo merupakan beberapa objek wisata yang terdapat di Pulau Morotai. Tim banyak mendata potensi wisata yang ada di Pulau Morotai, terutama dengan arahan pengembangan wisata sejarahnya. Setelah merampungkan pendataan berbagai potensi wisata di Pulau Morotai selama 1 hari, tim meninggalkan Morotai menuju ke Tobelo kembali pada keesokan harinya.
Akhirnya tim berhasil merampungkan ekspedisi di Kabupaten Halmahera Utara, berkeliling mengunjungi objek-objek wisata alam yang indah menawan dan tempat-tempat bersejarah. Banyak cerita dan pengetahuan yang tim dapat selama melakukan ekspedisi.
Berlimpahnya potensi objek dan daya tarik wisata yang terdapat di Kabupaten Halmahera Utara dapat menjadi modal berharga bagi pembangunan pariwisata di bumi Hibualamo. Semoga nantinya pariwisata di Halmahera Utara dapat go international sesuai visi pembangunan pariwisata daerah. Maju terus pariwisata Halut!!!
*) Merupakan Catatan Ekspedisi Tim Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada di Kabupaten Halmahera Utara, Juni 2007. Tim Ekspedisi Pusat Studi Pariwisata UGM adalah Wijaya Ladampa, S. Hut. (Peneliti) dan Kurnia Hardjanto, S.Si., S.Pi. (Asisten Peneliti).