KAKARA, DESA BUDAYA TERTUA (09-07-2007) AdministratorSharePenulis: Altje A. Polakitan, S.Sos.
Bukan materi yang diperhitungkan tetapi nilai yang dibangun dari makna rumah adat yang menjadi ukuran. Menghidupkan serta mengukuhkan adat agar terpelihara dari generasi ke generasi menjadi tujuan pembangunan Halu Kakara, desa budaya tertua di Halmahera Utara.
Nilai-nilai kehidupan yang ada saat ini merupakan warisan dari budaya yang diletakkan oleh para leluhur. Karena pergeseran waktu dan berasimilasinya berbagai kebudayaan membuat budaya dari satu daerah memudar bahkan hilang dan tak dikenal oleh generasi berikutnya. Budaya merupakan tata cara dari satu kehidupan masyarakat yang disebut suku dan dilakukan sebagai ritual kehidupan.
Generasi yang baik harus mengenal jati dirinya melalui pemahaman budaya yang telah ditanamkan oleh para pendahulunya. Setiap manusia tentu terikat oleh suatu budaya karena manusia itu sendiri merupakan mahluk berbudaya. Peresmian rumah adat Halu Kakara adalah wujud dari upaya untuk menghidupkan kembali budaya agar terus terpelihara dari generasi ke generasi. Dari desa budaya tertua, kebudayaan Halmahera Utara diletakkan.
Mungkin belum banyak generasi saat ini yang memahami asal-usul Hibualamo. Terutama arti penting pulau Kakara dalam budaya masyarakat Hibualamo. Kakara saat ini hanya dikenal sebagai satu dari 260 desa yang ada di Halmahera Utara. Desa Kakara yang terletak di kecamatan Tobelo juga hanya tampak seperti desa-desa lain pada umumnya.
Walaupun terlihat biasa, desa Kakara mempunyai arti historis yang sangat mendalam dalam peletakan budaya Hibualamo. Dari pulau kecil yang berada tepat di depan kota Tobelo, kini generasinya sudah berkembang dan menyebar di bagian utara pulau Halmahera, Loloda dan Morotai.
Tercatat ada sepuluh keluarga besar yang bermigrasi ke daerah di seputar Halmahera yang kini penduduknya terikat dalam satu wilayah kabupaten Halmahera Utara. Kesepuluh Soa ini adalah Soa Modole ke talaga Lina, Soa Boy ke talaga Modole Selatan, Soa Pagu ke Kao Selatan, Soa Huboto, Soa Ulina, Soa Mumulati, Soa Gura, Soa Morodai ke Morotai, Soa Morodina ke Loloda dan Soa Tolodiko ke Kao State.
Kini anak-cucu para leluhur yang keluar dari pulau Kakara puluhan tahun silam sudah berganti dan berasimilasi dengan kebudayaan lain. Generasi saat ini harus mengetahui awalnya nenek moyang mereka berasal dari pulau Kakara. Menghidupkan kembali budaya yang selama ini terpendam untuk mengingatkan kembali keberadaan kita adalah satu. Dengan peresmian rumah adat ini, pemerintah mencoba untuk menghidupkan kembali budaya Hibualamo.
Ritual adat peresmian rumah adat Halu Kakara berawal dari kantor Bupati sebagai pemegang gelar adat Jikomakolano (dikukuhkan tahun 2001) yang mengenakan pakaian kebesaran tanpa mengenakan alas kaki. Hujan dan kabut gelap di bagian utara mengiringi langkah Jiko menembus hujan gerimis sambil berjalan beriringan dengan para tua adat menuju pelabuhan Tobelo. Ketika tiba di pelabuhan angin bertiup semakin kencang. Laut pun bergelora menyambut kedatangan sang Jiko untuk menyeberang lautan menuju desa budaya tertua di pulau Kakara.
Dalam perjalanan dari pelabuhan Tobelo menuju pulau Kakara rombongan diangkut oleh KM Mini Lega. Kapal Puskesmas keliling yang baru beberapa saat lalu diresmikan untuk melayani masyarakat di daerah perairan Halmahera Utara. Pelayaran ini sebagai pelayaran perdana KM Mini Lega. Selama dalam perjalanan, belasan perahu Katinting saling mendahului di kedua sisi kapal dengan diiringi irama tifa dan gong dan atraksi tide-tide ditampilkan di atas perahu. Suasana ini seakan mengambarkan kembali bagaimana suasana pertempuran yang dilakukan para leluhur kita yang menggunakan perahu Katinting berperang melawan para musuh.
Namun situasi kali ini berbeda, tergambar begitu senang dan antusiasnya masyarakat menyambut sang pembesarnya. Perahu-perahu Katinting dalam berbagai ukuran yang dihias, saling berlomba memperlihatkan kelihaiannya mengemudikan Katinting. Suguhan atraksi ini menarik perhatian rombongan yang menikmatinya dari atas kapal Mini Lega. Masyarakat menyambutnya dengan semarak, menyambut kedatangan pembesar yang datang berkunjung ke tempatnya.
Mendekati pulau Kakara, cuaca berangsur-angsur cerah dan laut pun teduh. Awan gelap yang menyertai dari pelabuhan Tobelo kini telah berpindah ke Selatan. Tiba di dermaga pulau Kakara, rombongan disambut oleh barisan pagar hidup para siswa sekolah dasar, pimpinan desa serta masyarakat yang berkumpul di dermaga. Diangkat dengan usungan, Ir. Hein Namotemo, MSP duduk di kursi kebesaran. Dibawa masuk ke rumah adat Halu didampingi oleh para tua-tua adat. Tepat dihadapan rumah adat Halu terdapat bangsal besar dengan meja panjang yang menyajikan beranekaragam hidangan untuk undangan dan rombongan.
Percaya atau tidak, setiap kali melakukan prosesi adat hujan pasti akan turun. Hujan akan mengiringi langkah sang Jikomakolano sebagai bentuk persetujuan alam.
*) Penulis adalah pelaksana redaksi Buletin Pemda Halut. Artikel diambil dari Buletin Pemda Halut edisi Januari 2007 dan merupakan sebuah catatan dari peresmian Rumah Adat Halmahera Utara.