ASAL-USUL DAN EKSISTENSI HIBUALAMO (02-07-2007) AdministratorSharePada awalnya nenek moyang kita yang berdomisili di talaga Lina dan sekitarnya dikelompokkan menjadi sembilan Soa. Kesembilan Soa itu kemudian memilih untuk meninggalkan tempat domisili asal mereka menuju ke suatu daerah baru yang mereka anggap lebih menjanjikan.
Dari sembilan soa dimaksud, lima soa diantaranya pergi menuju wilayah Kao dan empat lainnya menuju wilayah Tobelo. Pada tulisan ini penulis hanya akan memfokuskan pada empat Soa yang keluar menuju wilayah Tobelo. Keempat Soa itu adalah Soa Lina, Soa Huboto, Soa Momulati dan Soa Gura. Kelompok yang berasal dari empat Soa itu keluar menuju arah utara (O Koremie Uku yang artinya menuju arah angin utara) yang sekarang dikenal sebagai wilayah Tobelo.
Proses pencarian tempat tinggal baru dilakukan secara bertahap. Apabila keadaan di tempat baru tidak sesuai dengan harapan maka dengan sendirinya mereka akan kembali ke tempat semula. Hal ini telah dimusyawarakan sebelum mereka secara bertahap meninggalkan tempat domisili di talaga Lina dengan satu kesepakatan bersama bahwa setiap kelompok yang berpergian wajib membuat tanda di sepanjang alur perjalanan mereka (seperti menebang pohon dll) sebagai petunjuk jalan bagi kelompok yang masih tinggal. Hal ini dilakukan apabila lokasi tempat tinggal yang baru dianggap memuaskan sehingga kelompok yang masih tinggal dapat menyusul mengikuti tanda-tanda yang dibuat dengan harapan agar mereka dapat kembali bertemu dan hidup berdampingan lagi seperti sediakala.
Ada sesuatu yang menarik dalam perjalanan keluar itu, yaitu bahwa wakil-wakil dari keempat Soa itu, saat hendak berangkat, harus mempersiapkan panganan ketupat (kupa) dan lain-lain dan yang tidak kalah penting adalah gadoro atau iwi atau uri yang artinya rotan yang dibuat melingkar di pergelangan tangan masing-masing.
Dari talaga Lina, perjalanan dilakukan dengan melewati talaga Paca dan terus berjalan hingga tiba pada sebuah kali yang sekarang ini bernama kali Kua (O Kua Mangairi). Di sini mereka memutuskan beristirahat untuk makan dan minum bersama.
Sebelum perjalanan kembali dilanjutkan sang pemimpin mengajak kelompoknya untuk bersama-sama menamakan tempat mereka makan dan minum itu. Tempat itu lalu diberi nama Kupakupa yang terinspirasi dari banyaknya kulit ketupat (kupa) yang berserakkan di sekeliling mereka. Perjalanan pun lalu dilanjutkan ke arah utara sampai akhirnya tiba di sebuah lokasi yang dianggap aman dan memiliki panorama alam yang menarik.
Kehidupan ditempat yang baru ini berjalan baik hingga pada suatu kali mereka harus meninggalkan tempat itu akibat kemarau panjang yang menimbulkan kebakaran hebat di lokasi itu. Peristiwa itu sendiri dianggap sebagai suatu ancaman yang dapat mengancam kehidupan di lokasi itu.
Peristiwa Lahirnya Nama Hibualamo
Peristiwa terbakarnya lokasi domisili para moyang kita yang telah bersusah payah membuat rumah sederhana dan berkebun sebagai harapan masa depan mendapat perhatian khusus dari Sultan Ternate sebagai pelindung masyarakat di wilayah pemerintahnya. Peristiwa itu membuat Sultan Ternate segera mengadakan peninjauan ke daerah bencana. Singkatnya, orang-orang dari keempat keloampok Soa itu pun dituntun ke daerah utara hingga akhirnya mendiami suatu lokasi yang dipandang aman sebagai tempat tinggal.
Sebelumnya Sultan menamai lokasi yang terbakar hancur itu dengan sebutan "Gamhoku" artinya negeri terbakar. "Gam" artinya negeri dan "Hoku" artinya terbakar. Hingga kini negeri itu disebut "Kampung Gamhoku".
Perjalanan lanjutan pun dimulai sampai akhirnya nenek moyang dari keempat Soa itu tiba pada sebuah lokasi baru. Mereka memutuskan untuk menetap di situ yang oleh pemimpin dari keempat Soa diberi nama "tobeloho" yang artinya bertancap. Dalam arti lebih luas tobeloho berarti "Saya tidak akan kemana-mana lagi". Seiring pergantian waktu, lokasi baru tersebut kemudian lebih dikenal dengan sebutan "Gamsungi", Gam artinya negeri dan Sungi artinya baru.
Tekad mereka untuk kehidupan yang lebih baik tentunya memerlukan kesabaran yang dibarengi rasa kekeluargaan yang tinggi sehingga Sultan Ternate mengajak mereka untuk bersama-sama membangun sebuah tempat bernaung yang mampu menampung banyak orang. Sesuai kesepakatan dari keempat Soa, pembangunan sebuah rumah besar dengan nama "Hibualamo" pun dilakukan. Pada saat itu, bentuk bangunan Hibualamo yang relatif bundar dan sederhana sangat dipengaruhi oleh peristiwa melilitkan gadoro atau iwi atau uri di pergelangan tangan masing-masing.
Sultan Ternate sebelum meninggalkan daerah itu mengajak masyarakat untuk membuka kebun yang berada agak jauh dari lokasi Hibualamo arah utara dimana dalam penyampaian ajakan itu oleh Sultan dikatakan "Nima golaha Gura". Dalam perkembangannya, masyarakat mulai membuat rumah di sekitar area perkebunan sehingga jarang kembali ke Hibualamo.
Pendirian rumah-rumah pada tanah garapan bagian utara Hibualamo itu menjadi sebuah kampung yang sekarang disebut kampung Gura bersamaan dengan pendirian "Hibualamo Kecil" di Kakara dimana ketika Sultan Ternate mengadakan kunjungan ke Gamsungi biasanya selalu mengunjungi Kakara dengan acara penyambutan yang terfokus di Hibualamo Kakara. Sampai dengan generasi empat puluhan orang Kakara disebut orang Hibualamo Soa Gura.
*) Disarikan dari tulisan Clion K. Labada dengan judul "Asal-usul dan Eksistensi Hibualamo".