KENARI, TANAMAN LANGKA YANG TERANCAM (26-05-2007) RonnySharePenulis: John Mayaut
Pernahkah anda melihat tumbuhan kenari yang buahnya sebesar bola tenis, dan bagian kulitnya dapat menghasilkan damar? Bila anda ingin melihat dan menikmati kelezatan buah kenari langka tersebut, maka silakan datang ke perkampungan Wongongira di pedalaman Halmahera bagian utara.
Permukiman Wongongira di kabupaten Halmahera Utara merupakan salah satu lokasi binaan suku Togutil oleh Yayasan Kemanusiaan Pengembangan Suku Terasing (YKPST) Maluku.
Kenari langka yang dikenal kelompok suku Togutil Halmahera dengan sebutan "Hiburu" atau kenari raksasa itu, semula tumbuh liar di hutan belantara Halmahera, pulau terbesar di provinsi Maluku Utara.
Tak banyak orang yang mengetahui keberadaan tanaman langka yang kini terancam kelestariannya itu, mungkin karena lokasinya terlalu jauh dari Kecamatan Tobelo dan Kao.
Warga suku Togutil selama ini hanya memanfaatkan buah kenari raksasa tersebut untuk keperluan sehari-hari mereka, itupun dalam jumlah yang terbatas. Padahal, di sekitar pohon kenari tersebut menumpuk buah yang sudah kering tanpa dimanfaatkan atau diolah menjadi bahan makanan serta minyak goreng, kata pengurus YKPST Maluku Ny. Otha Soselissa kepada penulis.
Daging atau isi buah kenari raksasa tersebut cukup tebal dan berisi, sedangkan bagian kulit luarnya berwarna kuning kelabu mirip kulit kentang, namun tidak pernah dijual di pasaran. Uniknya lagi getah damar yang terdapat pada buah kenari raksasa ini berwarna putih, biasanya dipenggal-penggal bagian kulitnya kemudian dibakar dan nyalanya seperti lilin untuk menerangi rumah warga suku Togutil di malam hari.
Kenari biasa yang selama ini mereka jual di pasaran lokal, selain buahnya kecil dan kulitnya berwarna hitam saat panen, isi buahnya tidak seberapa dan agak tipis.
Kalangan suku Togutil awalnya menganggap sepele tanaman langkah tersebut padahal ukurannya hampir empat kali ukuran buah kenari biasa, papar tua adat suku Togutil di Wangongira, Lukas Gassa kepada penulis. "Namun, setelah diberitahu Ny. Optha bahwa kenari hiburu merupakan tanaman langka yang tak ada di tempat lain di dunia dan terancam punah akibat penebangan liar, kami warga suku Togutil di Wangongira kini berupaya menyelamatkan dan membudidayakannya di lahan perkebunan masing-masing," kata Lukas.
Ayah dari lima anak itu menimpali, "Kami punya lahan perkebunan yang luas, subur serta cocok untuk mengembangkan tanaman kenari hiburu sebagai tanamna langka di dunia. Kami yakin suatu saat daerah Wangongira dan sekitarnya di pedalaman Halmahera bakal menjadi pemasok utama kenari hiburu."
Kenari langka hiburu kini menjadi sasaran perhatian dan penelitian ilmuwan asing terutama dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa, karena mereka sering melakukan kegiatan penelitian ilmiah di pedalaman Halmahera.
Jenis kenari hiburu tidak ada di tempat lain di dunia, ujar Ny. Otha, mengutip pernyataan ilmuwan Amerika Serikat (AS) Adolp Bermens ketika melakukan penelitian ilmiah di pedalaman Halmahera. Karenanya perlu diselamatkan melalui usaha budidaya karena merupakan kebanggaan tersendiri di kalangan masyarakat terasing Togutil selaku pengawal rimba Halmahera, ungkap Otha.
Dia juga menyatakan, selain kenari hibur, warga suku Togutil juga mengembangkan tanaman umur panjang lainnya seperti cengkeh, pala, coklat, tembakau, kelapa, juga tanaman pangan dan holtikultura untuk kebutuhan hidup masyarakat di kawasan tersebut.
Prospek pengembangan usaha perkebunan tanaman umur panjang cukup menggembirakan karena tersedia lahan yang luas dan subur, tinggal peningkatan ketrampilan untuk pengolahan pasca panen dan pemasaran ke sentra pemasaran di Tobelo, ibukota Kabupaten Halmahera Utara.
Sebagian besar masyarakat Togutil yang dimukimkan di pulau Halmahera tertarik mengembangkan tanaman perkebunan terutama coklat, kelapa, cengkeh, serta kenari hiburu karena prospek pasarnya menjanjikan. Mereka juga aktif berburu kayu gaharu, rotan, damar, aneka jenis satwa liar dan burung karena diminati konsumen dalam negeri maupun mancanegara. Kendati hasil buruan harus dipikul dengan menempu perjalanan cukup jauh, baik berjalan kaki maupun menggunakan rakit melalui sungai, tapi tidak menyurutkan semangat juang warga suku Togutil untuk berpacu demi hari esok yang lebih baik.
Demi masa depan generasi mendatang warga Togutil yang berhasil dibina pihak yayasan (YKPST) Maluku, kini berjuang keras menyekolahkan anak-anak mereka ke berbagai jenjang pendidikan baik negeri maupun swasta untuk membangun Halmahera.
Selamatkan
"Saya dan beberapa rekan pengurus yayasan selama ini berupaya keras menyelamatkan tumbuhan kenari tersebut dari kegiatan penebangan liar maupun kegiatan eksploitasi hutan yang dilakukan para pengusaha pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang beroperasi di pulau terbesar di Maluku Utara itu," ujar Ny. Otha.
Selain itu, mereka membina dan melatih ketrampilan warga suku Togutil yang dimukimkan untuk mengolah dan memanfaatkan buah kenari menjadi minyak kenari maupun proses pengeringan buah kenari untuk dipasarkan ke daerah Tobelo, ibukota Kabupaten Halmahera Utara.
Hutan belantara Halmahera Provinsi Maluku Utara, selain kaya aneka jenis kayu bernilai ekonomis yang kini ramai dieksploitasi para pengusaha pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPHJ) maupun masyarakat, juga aneka jenis hutan bambu, rotan, damar, gaharu serta kenari.
Umumnya pohon kenari di pedalaman Halmahera kendati berusia ratusan tahun, namun berbuah lebat dan hasilnya belum dimanfaatkan secara maksimal oleh warga suku Togutil karena minimnya pengetahuan dan ketrampilan mengolah buah kenari menjadi aneka produk pangan yang laku di pasaran dalam negeri maupun ekspor.
Kayu kenari tergolong kayu mewah berkualitas yang jadi sasaran penebangan para pemegang HPH maupun para penebang liar untuk industri kayu lapis maupun kayu gelondongan karena tidak mudah dimakan rayap dan memiliki daya tahan cukup lama untuk bahan perabot rumah tangga.
Tingkat pertumbuhan kayu kenari di pedalaman Halmahera tergolong cukup baik, namun tanaman tersebut perlu diamankan dan diselamatkan dari kemungkinan kepunahannya akibat penebangan liar oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab demi kepentingan sesaat.
Adanya perhatian dan kepedulian masyarakat terasing suku Togutil untuk mengembangkan tanaman kenari, khususnya kenari hiburu di lahan kebun mereka atas bimbingan pihak yayasan (YKPST) merupakan suatu upaya nyata yang perlu mendapat dukungan Pemda Maluku Utara, pinta pengurus yayasan tersebut Drs Piet Pelupessy.
Potensi alam di sekitar kawasan Wongongira menjanjikan, baik di sektor kehutanan, perkebunan, pertanian, peternakan, perikanan air tawar, juga keragaman obyek wisata alam, sejarah dan budaya yang masih dipertahankan dan dilestarikan hingga kini.