.:: Home > Artikel
TAMPILKAN ARTIKEL ANDA BERTEMAKAN HALMAHERA UTARA DI SINI!
Kami menerima artikel bertema Halmahera Utara untuk ditampilkan di situs ini.
Artikel dapat berupa pemikiran ataupun pengalaman anda selama berada di Halmahera Utara.
Artikel anda dapat dipublikasikan setelah terlebih dahulu mendaftar sebagai user.
TONAMALANGI, SAKSI BISU PERDAMAIAN
(05-05-2007)  Ronny


Penulis: Widya (Travel Club) - Wisatanet.com

Jika suatu saat Anda berlibur ke Halmahera Utara, jangan lupa untuk mengunjungi daerah bernama Luari. Daerah tersebut, selain memiliki pesona alam yang indah, juga sebagai saksi sejarah kehidupan damai warga Halmahera Utara.

Hari ini, tak ada lagi perpecahan antarwarga di Halmahera Utara. Jika terjadi, warga akan menengok prasasti perdamaian yang kini nasibnya semakin kusam bak usianya yang sudah tua. Prasasti itu adalah Tonamalangi.

Luari merupakan sebuah daerah di mana dua buah pantai berbentuk teluk berhimpit di sebuah tanjung kecil. Hamparan pasir putih dengan laut yang berwarna biru serta berarus tenang bak sebuah surga yang tak terjamah. Apalagi dedaunan nyiur melambai–lambai di tiup angin sepoi–sepoi memberikan suasana teduh.

Namun Luari juga tak ternilai harganya bagi masyarakat Halmahera Utara. Dari tempat inilah tonggak perdamaian dikukuhkan. Tak hanya mendamaikan perpecahan masyarakat di masa lampau, tetapi juga saat masa kerusuhan SARA beberapa tahun yang lalu.

Adalah Teluk Tarakani di sebelah utara yang sekarang dikenal dengan nama Galela dan Jazirah Wayamato di sebelah selatan yang sekarang dikenal dengan mana Tobelo. Tujuh abad lalu, Jazirah Wayamato dipimpin oleh seorang raja bernama Kapita Horiwo dan wilayah Teluk Tarakani mempunyai pemimpin dengan gelar Kolano Sero. Terjadi kesalahpahaman yang berujung pada peperangan merebut wilayah kekuasaan.

Di kaki gunung Mamuya, terjadilah perang sengit antara kedua belah pihak. Namun banyak korban yang gugur di antara kedua belah pihak. Apalagi ditambah dengan gempa yang meretakkan tanah tempat mereka berperang hingga yang selamat hanya kedua panglima dari masing–masing wilayah. Melihat keadaan tersebut, keduanya sepakat untuk menyelesaikan persengketaan secara damai. Apalagi, selama perang berlangsung, tidak ada yang kalah atau menang di antara keduanya.

Di sebuah batu besar mereka menandai perdamaian itu dengan saling menyilangkan kaki dan menusukkannya dengan sebuah pedang hingga memancarkan darah keduanya sebagai tanda perdamaian dengan menyatunya darah mereka.

Tak hanya itu, untuk membagi wilayah mereka secara adil, mereka pergi ke suatu tempat bernama Luari dan memandang ke Gunung Mamuya. Di sana terlihat dengan jelas sebuah gunung dengan dua buah pantai yang seakan telah membagi wilayah masing-masing, sehingga di tempat itulah tonggak batas wilayah dan perdamaian awal mulanya ditegakkan.

Sekarang tempat di mana batu besar itu berdiri diberi nama Tonamalangi yang berarti batas tanah. Sedangkan tempat mereka membagi kedua wilayah diberi nama Luari yang berarti melihat dari luar. Sayangnya, letak batu besar Tonamalangi sekarang telah bergeser akibat pembangunan jalan raya. Bupati Halmahera saat ini, Ir. Hein Namotemo berencana membuat suatu monumen bersejarah di daerah tersebut dengan memindahkan batu itu ke tempat yang semestinya agar bisa dikenang dan dikunjungi warga setiap saat.

Memang secara turun temurun para tetua adat kedua wilayah mengadakan ritual perdamaian agar tidak terjadi lagi perpecahan yang merugikan banyak pihak. Namun sayang, pada era orde baru, ritual semacam itu dilarang akibat dihembuskannya isu PKI.

Setelah terjadinya kerusuhan SARA menimpa wilayah Halmahera Utara, barulah para tetua–tetua adat kembali mengadakan ritual adat mereka. Mereka membawa kayu bakar dari masing–masing wilayah serta membakar bersama–sama di tanjung kecil di ujung pantai Luari untuk mengingatkan kembali perdamaian yang pernah dijalin oleh leluhur mereka sekitar 700 tahun yang lalu.

Hingga kini, pemerintah daerah setempat sedang mengembangkan pantai Luari menjadi salah satu obyek wisata di Halmahera Utara. Di sana, selain belajar sejarah perdamaian, pelancong juga bisa menikmati indahnya pesona alam pantai Luari. Batu Tonamalangi berjarak 1 kilometer dari pantai Luari. Dapat ditempuh oleh angkot dari kota Tobelo, menyewa sebuah taksi atau ojek Rp. 10.000,-.


KOMENTAR ANDA
Ronny: DR Anhar.T Selamat bergabung...
DR Anhar Tonamalangi: assalamu alikum sebuah tulisan yang cukup menarik terimah kasih yang kepada penulis.
Ronny: Tmbhn itu cantieeeek 'n wangi moga orangnya jga sprti itu tapi jang ikut sifat tmbhn itu,,,,,hahahhaha
Commeli: Pa2 rony,,,, tu nma bkn smbrng nma Coz yg tau cma org2 yg brglut di bidang Botani. Aplgi bunga dri tu tnman cntk n' wngi jdi dpe org jga he.e.e.e.e.e. Tpi yg psti tu nma aslnya dri Tblo jdi bngga donk punya daerah yg bnyk tmbhn.
Ronny: Commeli...itlah nama sebuah tanaman yg ......apa yach.hick...hick...hick
halaman [1] [2] [3]