HALMAHERA UTARA GO INTERNATIONAL MELALUI PENGEMBANGAN PARIWISATA ANDAL (31-03-2007) Williams JesajasShareHalmahera Utara go international, merupakan salah satu visi Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Utara yang sangat visioner dalam melihat masa depan Kabupaten Halmahera Utara. Dengan potensi yang dimiliki Halmahera Utara sebenarnya go international bukan merupakan visi yang tak mungkin digapai. Dengan berbagai potensi seperti hasil bumi tambang mineral dan potensi energi yang tersebar di seanteru Kabupaten Halmahera Utara merupakan salah satu potensi andalan kabupaten Halmahera Utara dalam memakmurkan masyarakatnya, selain itu potensi wisata baik wisata alam hingga wisata sejarah yang dimiliki kabupaten Halmahera Utara juga merupakan salah satu potensi dalam menggapai visi go international, tentunya jika didukung dengan pengembangan dan pengelolaan serta pemanfaatan yang baik oleh Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara.
Mengutip pendapat Freddy Roeroe bahwa menjual kabupaten Halmahera Utara di provinsi Maluku Utara untuk go international jauh lebih mudah daripada menjual daerah-daerah lain di Indonesia (Freddy Roeroe, 2004). Tentunya pendapat ini berdasarkan potensi-potensi yang dimiliki Kabupaten Halmahera Utara. Berbicara tentang go international, salah satu potensi yang dimiliki kabupaten Halmahera Utara dalam mencapai visi ini adalah letak strategis yang dimiliki kabupaten Halmahera Utara khususnya pulau Morotai yang merupakan pulau yang berbatasan dengan Filipina dan juga berbatasan langsung dengan samudra Pasifik, yang berarti kemudahan aksesbilitas go international.
Namun jika kita melihat kondisi real yang ada di Kabupaten Halmahera Utara, apakah kabupaten ini cukup siap dengan go internatonal sedangkan masih terdapat daerah-daerah terisolir di kabupaten Halmahera Utara, selain itu disparitas yang tinggi antara kota kabupaten dengan wilayah hinterland merupakan tantangan terbesar yang dimiki kabupaten Halmahera Utara dalam mewujudkan visi go international.
Sebuah alternatif pengembangan pulau Morotai sebagai salah satu wilayah andalan dalam peta go international pemerintah kabupaten Halmahera Utara, dalam rangka mempersempit disparitas yang tinggi dan pembangunan wilayah-wilayah terisolir di pulau Morotai melalui pengembangan potensi atau sumber daya alam yang dimiliki pulau Morotai.
Potensi wisata andalan yang dimiliki pulau Morotai yakni potensi wisata alam dengan kawasan tujuan wisata alam andalan yakni pulau Dodola yang terkenal indah akan panorama alamnya dan keindahan taman lautnya dan pulau Zum-Zum yang merupakan pulau kecil dengan panorama alam pantai yang berbatu serta pulau-pulau kecil dengan hamparan pasir putih dan terumbu karang yang indah. Serta Potensi Wisata Sejarah dengan memanfaatkan nama besar seorang Panglima Divisi VII AS Jenderal Douglas MacArthur pada saat Perang Dunia II yang mewariskan peninggalan-peninggalan perang seperti tujuh landasan pacu pesawat terbang (runway), bangkai pesawat dan kapal perang, tank-tank perang, meriam serta goa-goa persembunyian dan yang tak kalah pentingnya yaitu cerita-cerita sejarah menarik yang tentunya dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung di pulau Morotai.
Dengan mensinkronisasikan antara kedua potensi andalan ini menjadi salah satu paket wisata alam dan sejarah dapat menjadi salah satu alternatif pengembangan potensi wisata yang dimiliki pulau morotai, secara teknis pengembangan wisata sejarah dapat dilakukan sebagai berikut.
Sebagai langkah awal, pengembangan pulau Morotai sebagai kawasan pariwisata sejarah dan alam dapat dilakukan dengan memetakan kawasan yang berpotensi menjadi kawasan wisata sejarah dan juga kawasan-kawasan yang berpotensi menjadi kawasan wisata alam. Untuk lebih jelasnya, pemetaan atau zoning kawasan yang berpotensi menjadi kawasan pariwisata di pulau Morotai dapat dilihat pada peta rencana pengembangan pulau Morotai
Rencana pengembangan kawasan Morotai terbagi atas 3 zona, yaitu zona A yaitu kawasan dengan potensi sebagai kawasan wisata sejarah, zona B yaitu kawasan dengan potensi sebagai wisata alam, dan zona C yaitu wilayah dengan potensi wisata alam dan wisata sejarah.
Zona A dengan potensi sejarah diantaranya pada kawasan ini terdapat situs-situs sejarah berupa 7 landasan pesawat pitu srip yang merupakan landasan pesawat militer buatan tentara AS dan sekutunya. Selain bandara pitu strip terdapat pula peninggalan-peninggalan sejarah berupa pesawat-pesawat dan tank-tank peninggalan perang. Pada kawasan ini direncanakan pembangunan museum perang pasifik sebagai trade mark Zona A.
Zona B dengan potensi wisata alam berupa pemandangan alam pesisir pantai dan pulau-pulau kecil dengan panorama alam yang indah, selain itu pemandangan bawah laut (undersea) seperti terumbu karang juga merupakan salah satu potensi wisata alam di kawasan ini. Kawasan ini direncanakan sebagai lokasi wisata alam dan wisata bawah laut dengan kegiatan diving dan jet sky sebagai kegiatan unggulan pada kawasan ini.
Zona C merupakan kawasan dengan potensi wisata alam dan wisata sejarah, pada kawasan ini terdapat potensi wisata sejarah berupa tanjung Dehegila yang pada waktu perang dunia II digunakan sebagai pelabuhan militer oleh tentara AS dan sekutunya. Selain pelabuhan militer terdapat juga bangkai-bangkai kapal perang milik tentara jepang yang karam dan sisa-sisa peralatan perang seperti meriam. Pada zona ini juga terdapat pulau Zum-Zum yang merupakan tempat pendaratan kendaraan tempur amphibi pasukan AS dan sekutu, di pulau ini juga terdapat pulau terdapat goa pusat komando yang merupakan tempat tinggal Jenderal MacArthur pada waktu genting. Pada zona C terdapat potensi wisata alam berupa hamparan pulau-pulau kecil dengan pulau andalan yaitu pulau Dodola yang merupakan pulau yang dikelilingi pasir putih, pulau ini terdiri dari dua daratan yang dipisahkan oleh laut pada waktu pasang, dan pada waktu air surut pulau ini menyatu. Kawasan ini direncanakan sebagai kawasan wisata yang mensinergikan antara wisata alam dan wisata sejarah, dengan wisata andalan berupa kegiatan menapaki jejak-jejak perang dunia II serta kegiatan diving untuk melihat panorama bahari (undersea) dan bangkai-bangkai kapal perang yang karam waktu perang.
Kegiatan wisata di pulau Morotai dilakukan dengan melakukan satu paket perjalanan wisata sejarah dan wisata alam dengan rute wisata yaitu dimulai dengan wisata sejarah pada zona C dengan tujuan wisata tanjung Dehegila diteruskan pada zona A dengan potensi andalan yaitu landasan pesawat pitu strip dan museum perang pasifik selanjutnya menuju Zona B dengan wisata alam dan wisata bawah laut dengan kegiatan diving dan jet sky, dan kemudian berakhir pada zona C dengan tujuan wisata pulau Dodola.
Selain mensinergikan potensi wisata alam dan wisata sejarah menjadi paket wisata, pembangunan jalan lingkar di pulau Morotai merupakan alternatif dalam menjangkau daerah-daerah terisolasi di pulau Morotai, serta dengan mengaplikasikan Growth Pole theory/teori Kutub Pertumbuhan dengan pembangunan pusat-pusat kegiatan pariwisata di Pulau Morotai dapat mempersempit disparitas atau kesenjangan wilayah di pulau Morotai dan kabupaten Halmahera Utara seutuhnya. Dengan mengembangkan pulau Morotai sebagai salah satu kawasan andalan pariwisata di Halmahera Utara niscaya visi Halmahera Utara go international bukan menjadi mimpi bagi masyarakat kabupaten Halmahera Utara.
*) Penulis adalah Mahasiswa Teknik Planologi STTNAS Yogyakarta dan Anggota Divisi Pengembangan SDM Ikatan Mahasiswa Keluarga Hibualamo-Halmahera Utara
email: willi_bozhs@yahoo.com