POTRET PARIWISATA HALMAHERA UTARA (03-03-2007) Alfatah SibuaSharePotret pembangunan pariwisata Halmahera Utara di tahun 2006 dan memasuki tahun 2007 perlahan mulai menampakkan wajah manis di tengah maraknya para wisatawan lokal, nasional maupun mancanegara yang melakukan traveling ke tempat-tempat wisata. Kunjungan para wisatawan ini menjadi harapan sekaligus tantangan bagi daerah ini untuk berbenah diri dalam mengelola potensi obyek-obyek wisata.
Menurut Kepala Bagian Destinasi Departemen Pariwisata dan Kebudayaan, kawasan Halmahera Utara terdiri atas gugusan pulau-pulau kecil yang dikelilingi oleh pantai dan semenanjung dengan panorama alam yang indah. Kaitannya dengan hal ini, pada beberapa waktu yang lalu hadir Sekretaris Jenderal Pariwisata dan Kebudayaan, Sapta Nirwandar bersama timnya, untuk melakukan survei potensi bawah laut yang dimiliki Halmahera Utara. Survei dilakukan di seputar perairan pulau Tagalaya, pulau Bobale dan pulau Morotai.
Hasilnya, potensi terumbu karang kita sebenarnya tidak kalah menarik dengan yang ada di taman laut Bunaken Manado atau Raja Ampat Papua. Potensi bawah laut ini juga pernah disentil oleh harian Kompas edisi Minggu, 14 Mei 2006, dengan topik Mutiara di Bibir Samudera (Pearl of Pacific). Surga baru di salah satu ujung utara kepulauan Indonesia yang tepat berada di tepian bibir samudra Pasifik. Bagai kertas putih yang belum tertoreh tinta. Bersih murni?., itulah Halmahera Utara dengan potensi pariwisata yang menjanjikan.
Obyek wisata lain yang dikunjungi, pulau Dodola di Morotai, selain menawarkan keindahan alam yang masih sangat alami, juga menyimpan kenangan sejarah perang dunia II yang tidak pernah terlupakan. Di tempat inilah Jenderal Mac Arthur, pimpinan pasukan sekutu di Asia Pasifik, mengatur strategi perang untuk melumpuhkan kekuatan pasukan Dai Nipon (Jepang). Tempat ini juga dipakai sang jenderal untuk mematangkan rencana pelepasan bom atom di Hirosima dan Nagasaki. Pulau Zumzum sebagai tempat persembunyian Jenderal Mac Arthur selama berada di Morotai serta Air kaca, tempat sang jenderal biasanya mandi, adalah obyek wisata menarik lainnya yang bisa dikunjungi di daerah ini.
Benang sejarah yang dimiliki negeri ini, meminta Pemerintah Daerah Halmahera Utara khususnya Dinas Pariwisata untuk lebih bekerja keras dalam melakukan terobosan-terobosan guna mewujudkan Halmahera Utara sebagai salah satu daerah tujuan wisata (tourist destination). Apalagi trend Halmahera Utara Go International 2010 yang dicanangkan oleh pemerintah daerah saat ini tengah menjadi isu menarik. Kata-kata ini bukanlah sebuah slogan biasa melainkan sebuah tantangan dan perjuangan yang harus diwujudkan dengan kerja keras dan kerja sama yang baik antara pemerintah daerah dengan stakeholder yang ada di daerah ini.
Halmahera Utara Go International sudah pasti menyertakan industri pariwisata di dalamnya. Sebagai contoh, Bali terkenal di mancanegara kerena pariwisatanya. Berdasarkan catatan, kunjungan wisatawan ke Bali antara tahun 1993 s.d. 2003 banyak didominasi oleh para wisman asal Jepang. Halmahera Utara dengan potensi pariwisata dan sejarah yang kaya tidak mustahil akan mengalami booming di tahun 2010 nanti, dengan catatan sektor ini benar-benar mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah setempat.
Sejarah Jepang dan Sekutu di bawa kendali AS di Morotai tempo dulu, adalah sebuah kekuatan pengembangan Pariwisata saat ini dalam mewujudkan Halmahera Utara Go International 2010. Persoalanya terletak pada komitmen bersama antara pemerintah, swasta maupun masyarakat dalam menginterpretasi fenomena ini.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Halmahera Utara, Drs. Esra Anu, pembangunan kepariwisataan di bumi hibualamo di tahun 2006 masih jauh dari harapan karena ketersediaan dana yang sangat terbatas sehingga program-program yang terlaksana hanya berada dalam skala yang paling kecil, yakni pembinaan kesadaran budaya dan usaha kepada para mitra usaha perhotelan, disamping juga melakukan promosi pariwisata daerah melalui pameran-pameran berskala nasional dan media Internet. Pembangunan sarana wisata di lima tempat (tanjung Duma, teluk Somola, pantai Luari, pantai Kupa-Kupa dan pulau Kumo) pun hanya sebatas pembuatan MCK dan payung-payung peneduh.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Halmahera Utara mengharapkan agar Pada tahun anggaran 2007 pemerintah pusat dan daerah berkomitmen untuk pengembangan pariwisata dengan menempatkan anggaran yang sesuai kebutuhan. Hal ini dikarenakan untuk membangun sektor pariwisata dibutuhkan biaya yang sangat besar. Selebihnya, kearifan dalam menentukan langkah ke depan akan menjadi potret bagi generasi kita di masa mendatang. Semoga!