.:: Home > Artikel
TAMPILKAN ARTIKEL ANDA BERTEMAKAN HALMAHERA UTARA DI SINI!
Kami menerima artikel bertema Halmahera Utara untuk ditampilkan di situs ini.
Artikel dapat berupa pemikiran ataupun pengalaman anda selama berada di Halmahera Utara.
Artikel anda dapat dipublikasikan setelah terlebih dahulu mendaftar sebagai user.
WANGONGIRA, JALAN MASIH PANJANG!
(21-02-2007)  Desius Mangembulude

Share

Pagi itu, 11 Maret 2005 pukul 07:00, sang surya baru mulai menampakkan wajahnya di balik mega dan udara masih terasa dingin. Tim kerja Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Halmahera Utara bergegas mempersiapkan seluruh keperluan dalam petualangan lintas alam. Dengan menggunakan 2 mobil dan 2 sepeda motor, tim yang berjumlah 15 orang dan dipimpin oleh Kepala Bidang Pariwisata mulai bergerak dari Tobelo, ibukota kabupaten Halmahera Utara, menuju ke arah selatan.

Perjalanan kali ini mengambil rute desa Paca-desa Wangongira. Lokasi pertama yang dikunjungi adalah desa Paca yang berjarak ± 18 km dari Tobelo. Di Paca terdapat sebuah obyek wisata danau yang cukup luas dan sangat indah. Danau ini memiliki air yang bening. Keadaan sekitarnya pun sangat tenang. Masyarakat setempat menyebutnya Talaga Paca. Talaga Paca terletak tidak jauh dari desa Paca. Hanya berjarak sekitar ± 5 m saja.

Dari Paca kami melanjutkan perjalanan menuju desa Wangongira yang melalui desa Togolioa. Dari Togolioa kami bergerak ke arah barat melalui sebuah jalan tanah yang lebarnya ± 4 m dan berwarna merah-kecoklatan. Kami menyusuri jalan tersebut sepanjang ± 10 km. Jalanan yang becek menyebabkan perjalanan dengan kendaraan tidak bisa dilanjutkan. Ketua tim memutuskan untuk meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki.

Waktu telah menunjukkan pukul 12:00 siang. Perut kami mulai terasa lapar. Kami pun beristirahat di situ dan makan bersama. Pukul 13:00, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju desa Wangongira. Dengan berjalan kaki, kami mulai menyusuri hutan antara desa Togolioa dan desa Wangongira. Beruntung hari itu tidak hujan. Dua hari yang lalu hujan turun di daerah ini sehingga jalan tanah yang kami lalui belum kering betul.

Jauh sudah kami berjalan. Tidak seorangpun dari kami yang sebelumnya pernah ke desa itu. Seorang anggota tim bertanya pada salah seorang penduduk desa Wangongira yang kebetulan berpapasan dengan kami di jalan. "Apakah desa wangongira masih jauh?" Orang tersebut mengatakan masih agak jauh. Saya mulai berpikir dan berkata pada teman di samping saya kalau perjalanan masih panjang.

Kira-kira setelah 1 jam berjalan beberapa anggota tim mulai terlihat kelelahan. Kebanyakan dari mereka adalah para wanita yang berjumlah 5 orang. Kami saling memberikan semangat kepada sesama anggota tim.

Tepat pukul 15:00 kami tiba di suatu tempat yang merupakan tempat transaksi antara penjual dan pembeli buah langsat. Ketua tim bertanya pada salah seorang penjual apakah desa Wangongira masih jauh? "Sudah dekat", jawab si penjual sambil menyarankan agar kami sebaiknya mengambil jalan sebelah kiri untuk mempersingkat waktu. Dari tempat itu jalan ke desa Wangongira memang bercabang dua.

Jalan kiri adalah jalan pintas yang menuju desa Wangongira. Kondisi jalan itu agak berbahaya karena selain rute jalan yang melalui lereng gunung, jalannya juga dibuat hanya dengan cangkul sehingga untuk melewatinya harus dengan ekstra hati-hati. Sekitar 30 menit perjalanan, kami akhirnya tiba di puncak gunung desa Wangongira. Pemandangannya sangat indah karena dari tempat kami berdiri tampak desa mungil yang dikelilingi oleh pegunungan dan hutan belantara. Rasa lelah akibat perjalanan panjang seolah terbayar lunas!

Sebenarnya ada apa dengan desa Wangongira? Desa Wangongira menyimpan sebuah fakta unik. Desa ini dibelah oleh sebuah aliran sungai yang deras dengan mata air yang cukup besar dan memiliki air yang sangat jernih. Di sungai itulah tumbuh tanaman padi yang akarnya menancap kuat di dasar sungai yang berdasar pasir dengan kedalaman ± 70 cm.

Padi ini tumbuh pada sungai yang memiliki aliran air yang deras. Saat tumbuh padi yang masih berada di dalam air itu akan terlihat seperti mengikuti arus sungai. Namun ketika bulirnya mulai keluar, batang padi tersebut akan tumbuh tegak keluar dari dalam air sungai. Anehnya bulir padi akan terburai di atas permukaan air sungai, tapi tidak copot dari tangkainya.

Kami mulai mengambil beberapa gambar. Penduduk desa Wangongira menamakan sungai itu Molulu yang artinya tergelincir. Menurut legenda, dahulu kala ada seorang perempuan yang pulang dari kebun dengan membawa sekeranjang padi yang digendong di punggung (saloi). Perempuan ini ketika sampai di pinggir sungai tergelincir dan jatuh ke sungai. Padi yang ada dalam saloi itu pun terbawa oleh arus sungai yang deras. Perempuan ini hilang, tapi padi tadi kemudian tumbuh dan hidup sampai sekarang.

Tepat pukul 17:00 kami berpamitan dengan penduduk desa. Ketika kami mulai berjalan, tiba-tiba hujan turun. Kami masih harus melewati jalan tebing yang curam dan berbahaya. Jalan menjadi sangat licin dan itu sangat merepotkan. Dalam kondisi seperti ini, saya bertanya dalam hati mampukah tim ini kembali dalam keadaan selamat?

Perjalanan masih jauh dan kondisi jalan semakin becek. Melaluinya dengan berjalan kaki saja sudah sempoyongan, apa lagi dengan kendaraan, pikir saya. Dan apa yang saya takutkan ternyata terjadi juga sewaktu tiba di tempat dimana kendaraan tadi kami diparkir. Mobil kami sudah tidak ada di situ. Ternyata ketika turun hujan ada yang mencoba mengeluarkan mobil tersebut menuju desa Togolioa. Namun di tengah jalan mobil terperosok dalam lumpur sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan. Mobil harus ditinggalkan karena hari sudah mulai gelap, kira-kira pukul 18:15. Dan mobil? Mobil itu nanti pada keesokkan hari baru ditarik dengan traktor.

Sementara anggota tim yang lain berjalan kaki menuju desa Togolioa, saya mengendarai sepeda motor. Betapa sulit mengendalikan motor karena sebentar-sebentar terseok lalu jatuh di tanah yang becek. Sementara jarak yang harus ditempuh masih cukup jauh ± 4 km. Memang kalau tidak hujan, maka perjalanan akan lebih nyaman dilakukan dengan kendaraan.

Kondisi ini membuat saya berkata pada seorang teman. Jika seperti ini, bagaimana dengan masyarakat desa Wangongira? Mereka hanya hidup dari hasil pertanian tradisional. Kalau kondisi jalan seperti ini, bagaimana memasarkan hasil pertanian mereka? Alat tranportasi hanya mobil angkutan umum jenis mikrolet. Dan bila hujan turun, butuh waktu lama supaya permukaan jalan menjadi kering. Itupun kalau matahari bersinar dengan baik. Kondisi ini membuat angkutan transportasi tidak berani mengambil resiko.

Inilah kendalanya, sebab bila jalan sudah baik, pasti desa ini akan menjadi sebuah desa yang sangat mempesona karena menyimpan keunikan tersendiri yaitu padi yang dapat tumbuh dalam sungai yang berarus deras. Belum lagi panorama alam pegunungan dengan hamparan hutan belantara yang luas. Inilah salah satu peluang dan juga sebuah tantangan bagi anak-anak Hibualamo. Jalan memang masih sangat panjang!


Artikel lain dari penulis yang sama:
>>  Danau Duma yang Menjanjikan
KOMENTAR ANDA
Ronny: Panorama yg indah jangan sampai tergilas oleh derasnya pembangunan. tkx
Dodorobe: hiks... jadi saru..eh haru deh!!! yang tulis artikel kok jadi melankolis puitis begini...hiks..mantap!
Makao: "cerita pendek" yang sangat bagus.
Kapita: Untuk JJM, saya setuju kalau transportasi jalan ke semua pelosok Halmahera Utara harus dibuka karena tanpa transportasi yang baik pariwisata akan 'memble'. Tapi kayaknya untuk pembuatan/perbaikan jalan itu bukan wewenangnya Dinas Pariwisata. Tapi Dinas Pariwisata tetap bisa berkomunikasi dengan dinas terkait untuk memberi masukan.
JJM: Good work !!! Dinas parawisata khan udah lihat2 tuh, kalau gitu secepatnya perbaiki jalan menuju desa itu. Emang butuh biaya yang besar tapi ingat sesuai statment Bupati yang mengatakan Halut Go Intrnsional 2010 sudah sharusnya tempat-tempat seperti desa wangongira di kembangkan. Ujung2nya juga khan bisa mendatangkan pemasukan bagi daerah. Dinas Parawisata harus menetapkan target !!! Jangan hanya pergi jln2 aja. Jangan mau kalah sama Dinas Pendidikan yang telah menetapkan target untuk menyambut Halut Go Internsionl 2010. Just that I can say. Go go go People of Halmahera Utara. Hotu yeahhhh !!!! By JJM_CHRISENDO@yahoo.co.id
halaman [1] [2]