.:: Home > Artikel
TAMPILKAN ARTIKEL ANDA BERTEMAKAN HALMAHERA UTARA DI SINI!
Kami menerima artikel bertema Halmahera Utara untuk ditampilkan di situs ini.
Artikel dapat berupa pemikiran ataupun pengalaman anda selama berada di Halmahera Utara.
Artikel anda dapat dipublikasikan setelah terlebih dahulu mendaftar sebagai user.
SISA PERANG YANG JADI KERAJINAN
(07-10-2006)  Administrator

Share

Penulis: Ferry (www.travelclub.go.id)

Tidak tanggung?tanggung, 7 landasan pesawat terbang dibangun di wilayah ini sebagai peninggalan PD II. Tidak hanya landasan pesawat, perlengkapan tempur lainnya seperti tank, panser, pesawat terbang, mobil, bunker hingga persejataan termasuk bom tersebar di seluruh provinsi Maluku Utara.

Di Morotai, peninggalan perang tersebut dapat ditemui berserakan baik di kebun penduduk, di dalam tanah maupun di dasar lautan. Namun yang menarik di Pulau Morotai ini, peninggalan perang tersebut diubah menjadi kerajinan pernak?pernik yang menarik.

Ternyata perlengkapan tempur tersebut berbahan dasar besi putih yang mengandung unsur logam mulia sebesar 0,8 persen. Hal itu mengakibatkan ribuan peninggalan PD II diangkut dan dipotong?potong dan ditempa menjadi produk kerajinan.

Disebutkan oleh penduduk setempat, pada tahun 70 -an hingga 90-an terjadi pengangkutan peninggalan perang secara besar-besaran tidak hanya yang di darat tetapi juga mengambil dari dasar laut. Pengambilan perlengkapan perang tersebut juga mendapat restu dari pemerintah baik pemda setempat maupun pemerintah pusat jaman orde baru saat itu.

Adalah Naji Paturo (54), seorang pengrajin senior yang memimpin usaha kerajinan besi putih bernama Marimoi Souvenir. Bersama dengan 60 orang pengrajin asuhannya, Naji menghasilkan berbagai produk kerajinan. Mulai dari cincin, gelang, kalung. Bahkan ada yang dipesan khusus oleh TNI seperti tongkat komando, pisau komando, lencana berbentuk lambang kesatuan, samurai hingga peralatan dapur seperti centong nasi maupun codet untuk menggoreng. Semua produk itu dihasilkan dari penempaan potongan bangkai pesawat maupun perlengkapan perang lainnya. Ada yang dari lantai pesawat, dinding luar pesawat maupun knalpot pesawat.

Harganya pun lumayan menggiurkan. Untuk sebuah pisau komando dihargai Rp500 ribu, samurai Rp1 juta, peralatan dapur Rp250 ribu. Sedangkan kalung, cincin maupun gelang antara Rp35 ribu hingga Rp500 ribu. Melihat harga yang cukup besar tak heran jika sebagian besar warga desa Daruba, kecamatan Morotai Selatan bekerja sebagai pengrajin besi putih sisa PD II.

Berkat kerja kerasnya, Naji yang belajar sebagai pengrajin sejak duduk di sekolah tingkat SMP itu bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp25 juta perbulan. Sebagai pengrajin sekaligus memasarkan hasil produknya sendiri, Naji mengalami kesulitan dalam permodalan dan menjangkau daerah pemasaran yang lebih luas. Saat kerusuhan berunsur SARA membumihanguskan bumi Halmahera Utara, banyak hasil produksinya maupun peralatan produknya yang dijarah perusuh. Bahkan persenjataan peninggalan PD II dijarah dari tempat?tempat peninggalan dan dipakai untuk membuat rusuh. Kini, usai peristiwa itu, penghasilan Naji hanya berkisar Rp5 juta saja.

Dengan pendapatan yang berkurang hingga puluhan persen, Naji bersama pekerjanya yang kebanyakan berasal dari pemuda putus sekolah berusaha bangkit kembali. Merekapun berjuang dari nol dengan bekerja sesuai pesanan konsumen. Beda dengan sebelumnya, Naji dan pekerjanya biasa membuat kerajinan apa saja, karena masih memiliki modal yang didukung bahan baku yang melimpah.

Saat ini, kerajinan yang mereka terima biasanya sesuai dengan model yang diminta konsumen. Awalnya pemesan datang sambil membawa contoh maupun gambar desain produk yang dipesan, baru Naji membeli bahan baku secara borongan sedapatnya dari penyelam yang memotong bangkai?bangkai perlengkapan perang dari dalam laut. Jika beruntung, Naji bisa mendapatkan bahan baku hingga 1 gerobak. Jika tidak, satu karung pun sudah untung.

Meski memerlukan semua bahan baku yang ada, namun Naji tetap milih-milih. Jika bahan baku tersebut masih utuh, dia pantang memotong-motongnya. Alasannya sederhana, sebagai cagar wisata. "Jujur saja, kalau pesawat yang masih utuh, saya juga tidak mau menghancurkannya. Sebab itu aset Pulau Morotai. Siapa tahu nanti ada orang yang datang ke tempat kita untuk mencari peninggalan perang dunia," ujarnya polos.

Memang, seharusnya peninggalan PD II di Morotai jangan sampai dihancurkan, baik yang masih utuh maupun yang sudah rusak. Pasalnya, peninggalan tersebut dapat menjadi aset wisata sejarah yang tak ternilai harganya. Apalagi di Indonesia tidak banyak tempat yang menjadi PD II . Sementara untuk pengrajin sendiri, sudah seharusnya mencarikan jalan bagi perkembangan kerajinan Morotai.

KOMENTAR ANDA
Ronny: blm terlambat utk menyelamatkan peninggalan sejarah... walaupun sdh buanyak yg dipakai utk menjadi mata pencaharian (bikin rante end perabot rumah tangga) klu tdk sekarang maka peninggalan tsb menjadi "Kanangan yg terindah" ha ha ha ....
Tukang Kritik: Betul, pemerintah harusnya bergerak cepat menyelamatkan aset2 sejarah di sana. Jangan sampe cerita tentang Morotai tinggal cerita.
JJM: Peninggalan Perang Dunia yang terdapat di Pulai Morotai merupakan aset negara yang amat penting. Tapi karena belum ada koordinasi dari instasi terkait maka aset-aset tersebut kurang atau tidak sama sekali diperhatikan. Kasihan kan kalau generasi selanjutnya tidak bisa melihat langsung, bukti sejarah yang ada di daerah Halut tercinta kita hanya karena masalah sepele aja !!!! :{
halaman [1]