.:: Home > Artikel
TAMPILKAN ARTIKEL ANDA BERTEMAKAN HALMAHERA UTARA DI SINI!
Kami menerima artikel bertema Halmahera Utara untuk ditampilkan di situs ini.
Artikel dapat berupa pemikiran ataupun pengalaman anda selama berada di Halmahera Utara.
Artikel anda dapat dipublikasikan setelah terlebih dahulu mendaftar sebagai user.
MENEROPONG DINAMIKA KEHIDUPAN DI BUMI HIBUALAMO DARI LENSA BUDAYA
(20-08-2012)  Theo S. Sosebeko

Share

Meneropong dinamika kehidupan di bumi Hibualamo dari lensa Budaya membutuhkan kearifan, kesabaran dan kerendahan hati. Untuk mengembalikan kesenjangan moral politik dipanggung demokrasi, membutuhkan ketenangan dan kematangan berpikir di dalamnya.

Dasar pijak penyelesaian dan perenungan, untuk kembali menemukan jati diri sebagai orang Halmahera Utara saya angkat dari Firman Tuhan, sebagai peletak dasar masyarakat adat mula-mula untuk dapat berkaca diri dan menemukan kembali peradaban hidup yang beradab dalam tatanan budaya untuk hidup semakin bijak dan arif dalam isarat kearifan local


Adam adalah manusia pertama yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1 : 26). Adam dalam bahasa Ibrani disebut Adama yang berarti terbuat atau diciptakan dari tanah. Adam dan Hawa adalah masyarakat adat dunia mula-mula. Kepada mereka Allah memberikan mandat: Beranak cuclah, bertambah banyak, penuhilah bumi, taklukanlah dan berkuasalah. (Kej. 1 :28).

Dalam mewujudkan mandat Allah ini tidak semuda dari apa yang difirmankannya. Cobaan, godaan, iri dan dengki menjadi busana hidup dan tuaiannya. Adam tidak berdaya ketika diperdayakan oleh Hawa. Juga Hawa tidak bertahan ketika rayuan manis si iblis menghampirinya. Iblis tidak sanggup dan mampu melihat kesenangan, kebahagiaan, kedamaian dan kesentosaan manusia dimana Allah dapat berbicara secara langsung.

Buah dari ketidaktaatan dan ketidaksetiaan inilah manusia terusir keluar dari Taman Eden (Kej. 3, 4, 5, 23, 24). Hidup diluar Eden dan putusnya hubungan dengan Allah sebagai awal dari aktivitas pikiran manusia tanpa tuntutan Allah. Manusia lalu mencoba menemukan jati diri nya kembali dalam gambar Allah tapi tidak mendapatkannya lagi. Akhirnya manusia mengolah pikirannya sendiri dan sebagai hasil pikirannya disebut budaya. Konsep budaya inilah sebagai pegangan hidup turun temurun dengan berpegang dan berpedoman pada fenomena atau peristiwa alam.

Alam yang didalamnya: udara, tanah, air, tumbuhan dan mahluk hidup lainnya akhirnya memberikan kearifan lokal menjadi sosok guru utama. Melaluinya manusia dapat membaca tanda-tanda zaman sekaligus menjadikannya sebagai lambang-lambang kedamaian, kemakmuran, sakit-penyakit, bencana/petaka serta kematian.

Berikut ini beberapa contoh tanda dan lambang di dalamnya tersirat kearifan-kearifan lokal:
  • Jika terjadi hujan di suatu tempat dan tercurah terus menerus dari sisi budaya atau adat tanah dan daerah tersebut pasti ada terjadi sesuatu dan belum terungkap. Setelah terungkap hujan pun berhenti.
  • Jika kematian di suatu tempat terus berjalan pada hitungan dua, tiga dan seterusnya. Dibalik dari semuanya itu ada sesuatu yang harus digumuli, diteliti dan diselesaikan.
  • Jika kesehatan, ketenangan, kedamaian dan keamanan di suatu tempat sulit teratasi, mengisaratkan bahwa ada sesuatu yang harus diselesaikan mungkin ada kesalahan atau pelanggaran-pelanggaran yang harus diperbaiki. (tasalah boboso).
    Jika pada saat pemakaman jasad seseorang lalu kita berjanji bahwa akan memindahkan atau membawa kembali kekampung halamannya badannya akan sebagian tidak akan hancur karena menunggu dan menagih janji untuk ………………………………
  • Jika kita telah terlanjur berbicara mencerca atau menghina seseorang dan tidak mau berdamai sampai mati maka akan sulit menghembuskan nafas terakhir karena kematian membutuhkan kedamaian dan pengampunan.
  • Nako ma ena ma gotawa eko ma uhowa de imasi uho, obadu asa kapamake, ma uho ipolote (rakyat binasa) ekolah ma gugu itepi. (yang bersangkutan mati) artinya Jika tidak punya karunia untuk memimpin lalu memaksakannya dua alternatif akan terjadi yang bersangkutan mati atau rakyat binasa.
  • Jika seseorang menghina atau caci maki menantu perempuan (modoka) dihadapan orang banyak atau didengar oleh orang lain, cercaan itu harus didenda karena telah melangkahi etika adat sehingga tidak biadab lagi.
  • Jika seorang anak menantu lalu secara sengaja atau tidak, menyebut nama orang tua mantunya di muka umum dia telah melanggar etika budaya untuk itu dia harus membayar dendanya (menyebut saja didenda apalagi mencerca dan memukul).
  • Jika seseorang tidak menghargai pemimpinnya lalu menghina, mencerca dan meludahi di muka orang banyak, dia bagaikan anjing yang tak bertuan dan kehilangan etika adat sehingga menjadi biadab. Murka akan menjadi bagian hidupnya (siapa menghina raja mendatangkan petaka bagi dirinya).

Hal-hal yang telah disebutkan di atas adalah kearifan-kearifan lokal yang tidak tertulis namun diyakini dan itu benar-benar terjadi. Dalam mewujudkan suatu kesepakatan atau perdamaian dapat diselesaikan secara budaya atau adat untuk membersihkan, mengaku dan bertobat (nanga sasi de nanga demo bilasu pa gora de nanga sininga de nanga rohe bilasu podebi. Pomawasu de pomatoduba okawasa de Ojou Awi simaka).

Dalam menyikapi dinamika kehidupan di negeri Hibualamo dari kacamata budaya dengan mengacu pada tanda dan lambang-lambang, sesungguhnya kita telah berada diambang degradasi budaya dan moral serta etika yang sangat kronis. Di kala orang tua tidak mengenal anaknya lagi atau sebaliknya serta saudara tidak mengenal sanak saudara lagi, dan juga tidak mengenal pemimpinnya lagi. Petaka ini jika tidak dihentikan atau diselesaikan secara adat dan pemimpin yang telah mendapat mandat atau yang telah dikaruniakan (cocatu) memimpin dan menegakkan keadilan. Hulu parang akan pecah akibatnya rakyat akan binasa. Lebih parah lagi jika alam yang menegakkan keadilan, maka murka alam atau bencana tidak dapat dielakkan lagi. Beberapa peristiwa yang telah melanda negeri ini lewat angin yang menghancurkan rumah dan memusnahkan dusun kelapa adalah isyarat untuk kembali. Menemukan kembali jati diri sebagai orang Halmahera yang berbudaya dan beriman.

Jika adat istiadat ditiadakan, orang yang meniadakan akan menjadi biadab dan tidak tahu membedakan lagi mana yang baik dan mana yang jahat. Dalam pikirannya selalu membenarkan dirinya sekalipun salah dan tidak sanggup dan mampu melihat keberhasilan atau kesuksesan orang lain, karena itu semuanya dianggap kotor dan curang tanpa melihat usaha dan upaya orang dalam keberhasilannya. Dia mencoba menegakkan keadilan dan kebenaran justru dia sendirilah yang mendemonstrasikan ketidakadilan dan ketidakbenaran dalam hidupnya. Hati dan pikirannya penuh dengan dengki, iri dan dendam serta tipu daya. Ketika Hukum Karma berlaku baginya, langkahnya tinggal menuju kuburan. Siapa menanam badai akan menuai puting beliung dan siapa yang menanam angin akan menuai topan).

Dalam mengembalikan kebesaran budaya, dan kearifan lokal serta keluhuran nilai etika dan estetika juga kharisma tanah, ulayat dan masyarakat adat membutuhkan kesungguhan hati untuk mewujudkan kembali nilai-nilai religius budaya sebagai peradaban hidup di negeri ini. Untuk menyembuhkan hati yang terluka, jiwa yang tersayat dan tubuh yang tercerca serta harkat dan martabat yang terhina dari kata yang tak berbudi dan bermoral itu maka tidak ada jalan lain yang harus diperbuat selain menegakan keadilan atau angin akan menuntut kebenaran serta air akan meminta kejujuran. Manusia dan makluk hidup lainnya akan menuntut balas. Bila hati dan perasaan awak di negeri ini telah mati. Allah pasti berkenan atas semua malapetaka. Kepada siapa Allah akan bertindak jika kepadanya diperhadapkan perkara: Ada seorang dalam hidupnya selalu berpikir untuk hidup demi kepentingan orang banyak, hingga lupa kepentingannya sendiri. Ada seorang lagi selalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga lupa kepentingan orang banyak. Sekali kelak keduanya menuntut keadilan dalam perbuatan dihadapan Allah. Dari perkara ini kepada siapakah Allah berpikir?

Untuk menuntaskan semuanya ini ada tiga damai yang harus dilaksanakan:
  • Berdamai dengan alam (karena kita telah mengambil, merusak dan mencemarkannya).
  • Berdamai dengan sesama (karena kita telah mencerca, menghina, menghukum dan mendendam).
  • Berdamai dengan Allah (karena kita telah menghilangkan rupa Allah dalam diri kita dan telah mengoyahkan jubah kemuliaan serta mencemarkan kekudusanNya)

AJAKAN (SIGARO)
Marilah kita beramai-ramai dan berjejal-jejal serta berderet-deret sambil bergandengan tangan menjadikan adat-istiadat menjadi wahana keutuhhan agar negeri kita menjadi tempat yang berdamai sejahtera. (Hinolah ngone porame-rame de porubu-rubu pofato de po fara pomakidiko naro-naro posimokoko nanga adati de nanga galipi ia nanga soa de nanga doku ka idadi o dame de o sohi majongihi)

Budayakanlah tata krama, sopan santun, etika dan estetika serta moral sebagai bunga-bunga hidup agar damai dan sejahtera menjadi busana hidup. Tata dan hiasilah negerimu dengan roh kearifan lokal agar rukun dan damai menjadi piala hidup, serta rajutlah tali persaudaraan dengan temali adat-istiadat dalam kebhinekaan agar utuh dan satu.

Langkah-langkah Rekonsiliasi Adat:
  • Temu Bicara Pengambil Inisiatif
  • Duduk Bersama dengan Tetua Adat I (Penyampaian maksud dan pembahasan perdamaian secara adat)
  • Duduk Bersama dengan Tetua Adat II (Pembahasan dan penetapan prosesi adat)
  • Penetapan Person Tetua Adat Pembawa Bobeto
  • Penetapan waktu dan tempat
  • Penyediaan Perangkat Perdamaian
  • Pelaksanaan Sasi de Nangka Demo Pa Gora (Pemulihan)
  • Pomateke Kagalusiri
  • Odame De Osihi Ina Dogoge



KOMENTAR ANDA
Annida: Like that....
Adnan Alham: nima si dodi ahi (hati-hati)de keadaan mana naga,to sinanano gena nanga doku de nanga soa gena ma keadaan he isisa, mamisal gena o ngpa-ngopa ma duuru mana naga o demo galela de O demo Tobelo gena yanako kawa, nako posi babanding de O doku eko osoa manuka O Indonesia ka gena ona manga demo i sidadi O sakolah ka yo si doto "Bahasa daerah ;jawa,sunda,batak,Padang dll di jadikan kurikulum MULOK(Muatan Lokal di ajarkan di sekolah-sekolah), magenalo O adat de O kibiyasaan (O bobaso,denge-denge,toku de o wela, sodha de o sisi de kia batolo ta nano gena ngopa-ngopa ma du uru mana gena teka-teka ya wosa de ya nako kawa, so upa niya mau ka ni moderen tapi nanga tingka laku pa wosa.
Adnan: asal upa ni si bebeda o doku eko osoa moi de osoa moi
Irawanti Koitoly: aku suka ini,,mantap....
halaman [1]