.:: Home > Artikel
TAMPILKAN ARTIKEL ANDA BERTEMAKAN HALMAHERA UTARA DI SINI!
Kami menerima artikel bertema Halmahera Utara untuk ditampilkan di situs ini.
Artikel dapat berupa pemikiran ataupun pengalaman anda selama berada di Halmahera Utara.
Artikel anda dapat dipublikasikan setelah terlebih dahulu mendaftar sebagai user.
GURAKA, MINUMAN PENUH SENSASI
(19-11-2011)  Bayu R. Langga

Share

Selepas makan malam, pada hari ke-2 di Tobelo, teman mengajak keliling kota Tobelo. Mulai dari pusat kota kemudian dilanjutkan dengan menyusuri jalan-jalan. Tampaknya keramaian hanya terjadi di pusat kota, di luar itu jarak rumah satu dengan lainnya agak jauh, selebihnya banyak tanah kosong atau kebun luas. Suasananya sungguh tenang, jauh dari keramaian seperti di kota besar khususnya di Jawa. Waktu menunjukkan pukul 20.32 WIT tetapi terkesan sudah larut.


Disela-sela perbincangan tentang pekerjaan, teman saya menawarkan untuk mampir ke sebuah warung langganannya. "Ayo kita minum Guraka!", ajaknya. "Guraka? apa itu?" saya bertanya. "Nanti tahu sendiri" timpalnya. "Ok siapa takut" saya menjawab sekenanya sambil tertawa. Saat memasuki warung kami memilih meja tengah dari 4 meja yang tersedia. Tidak banyak pengunjung di warung tersebut, artinya kami dapat segera memesan tanpa antrian.

Masih dalam kepenasaran saya coba menebak-nebak seperti apa Guraka itu. Namanya saja sudah menunjukkan sesuatu yang seram, apalagi wujudnya. "Jangan-jangan ini minuman keras tradisional Tobelo?" saya bertanya. "Bukan pak, ini minuman bersensasi ..." teman saya memberi petunjuk dan tampaknya tahu betul tentang kepenasaran saya. Kita lihat saja nanti, sensasi apa yang bakal muncul.

SENSASI PANAS
Setelah menunggu hampir 20 menit, datanglah pelayan warung menghantarkan 2 gelas besar minuman berwarna coklat tua. Spontan saya sentuh gelas tersebut meskipun masih di atas baki. "Upsss ..." saya segera menarik jari karena terkejut. Ternyata saya merasakan sensasi panas pada ujung jari saya. Dugaan kami minuman ini memang diracik bersamaan dengan air hingga mendidih. Pertanyaan saya mengapa untuk menyajikan 2 gelas saja memerlukan waktu cukup lama. Jawabannya adalah penjual harus merebus air plus jahe parut dan gula aren terlebih dahulu hingga mendidih kemudian disaring sebelum disajikan. Alasannya, agar racikan jahe dan gula tadi menyatu.

SENSASI PEDAS MANIS
Setelah menunggu beberapa saat sambil sesekali melipat tangan di dada untuk menahan dingin angin malam, saya pun memulai dengan mengambil sendok dan mengaduk. Setelah yakin panasnya mereda saya coba merasakan dengan sendok. Sensasi pedas jahe, manis gula aren dan susu melebur menjadi satu. Tambahan susu membuat tekstur jahe menjadi halus dan lembut. Tanpa menunggu lama saya coba sendok kedua. Sensasi panas, pedas dan manisnya semakin terasa. Bagi yang tidak suka manis bisa pesan dengan sedikit gula atau tanpa susu kental manis. Tapi agaknya citarasa ini sudah terbiasa bagi saya yang berasal Jogja karena sebagian besar makanannya bercitarasa manis. Tidak sabar dengan sendok, saya coba dengan meneguk sambil meniup agar panas berkurang. Benar sekali panas pedas jahenya semakin terasa, alhasil keringatpun mulai membasahi kening, sementara tubuh mulai terasa hangat.

SENSASI GURIH TABURAN KENARI
Sekilas minuman ini hampir sama dengan 'wedhang jahe' di Jawa, bedanya terletak pada gula dan kekentalannya. Kalau di Jawa kebanyakan menggunakan gula pasir dan cenderung cair. Tapi perbedaan prinsip adalah pada taburan kenari di atasnya. Tekstur rasa kenari yang gurih renyah saat dikunyah membuat kita merasa sedikit melupakan pedas, panas dan manisnya Guraka. Bagi masyarakat Maluku Utara, kenari sudah lekat dengan kehidupan sehari-hari khususnya pada kuliner khas Halmahera Utara. Teguk demi teguk yang dirasakan semakin nikmat saja rasanya. Waktu pun terus berlalu sementara sensasi kenari yang tergigit semakin menambah unik citarasa selain panas, pedas dan manis.

DITEMANI PISANG GORENG & SAMBAL
Air Guraka tidak disajikan sendiri tetapi ditemani dengan sepiring pisang goreng dan sambal. Sempat saya bertanya kepada penjualnya "Pisang apa ini?". "Mulubebe" jawabnya. Menurut penjelasan teman karena bentuknya yang panjang mirip sekali dengan mulut/paruh bebek. Pisang goreng ini bukan seperti gorengan dibalut tepung, tetapi lebih mirip kripik dan tipis. Cara memakannya adalah dengan mengoleskan sambal. Sensasi asin dan pedas menjadi satu setelah dihantam manis dan panas sebelumnya.

INGIN MENCOBA GELAS KE-2
Ternyata pisang dengan harga 10.000 rupiah perpiring ini selalu menjadi teman setia kala minum air Guraka. Cukup dengan 6.000 rupiah kita sudah bisa mendapatkan 1 gelas dengan tambahan susu. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.15 WIT yang artinya kami harus segera pulang untuk istirahat. Tubuh yang semula dingin karena tiupan angin laut menjadi hangat setelah meneguk 1 gelas. Karena sudah kenyang maka untuk mencoba gelas ke-2 tidak kesampaian. "Besok atau lain waktu kita coba lagi ..." teman saya menghibur. Saat sampai ke hotel, masih bisa dirasakan kehangatan pada tubuh ini. terbayang semua sensasi panas, pedas, manis dan gurih yang ditawarkan oleh segelas Guraka. Layaklah jika minuman ini disebut minuman yang penuh sensasi.

Artikel lain dari penulis yang sama:
>>  Bentor, Bukan Sekedar Becak Bermotor
KOMENTAR ANDA
Mr Formula: asal aman dan tidak berformalin ayo aja...kekeke
Andreas Satyo: Membayangkan rasanya, sepertinya sedasyat Namanya,. "GURAKA"
Bayu R Langga: Terima kasih mr. Admin artikel telah dimuat.
halaman [1]
POSTING KOMENTAR ANDA
Nama
Komentar