BATUNYA DIAMBIL, LOKASINYA BERUBAH JADI RUMAH WARGA (03-09-2011) AdministratorSharePenulis:
Ardi Tomagola
Sumber: Radar Halmahera, 27 Agustus 2011
Ketika melintas di desa Gamhoku cobalah menengok ke atas bukit pasti anda akan melihat sebuah bangunan rumah tanpa cat dan fondasi dengan tinggi sekitar 2 cm. Rumah ini ternyata dulunya adalah benteng peninggalan pasukan Portugis saat menguasai daratan Halmahera.
Kondisi bukti sejarah akan pengusuran para penjajah di tanah Hibualamo itu kini tampak sudah bukan benteng lagi. Batu putih yang merupakan bahan dasar pembangunan benteng pun, perlahan-lahan habis diambil warga hingga menyisakan fondasi yang kemudian oleh warga dibangun rumah.
Akibatnya benteng yang seharusnya dijaga akhirnya hilang bentuknya. “Dulu ada petugas (dari Pemkab Halut) yang datang lia, tapi karena benteng so tinggal fondasi terpaksa dorang traurus”, terang Naomi Magpal (75) warga desa Gamsungi yang merupakan saksi mata yang hidup di zaman Portugis.
Saat berbincang-bincang dengan Radar Halmahera, Naomi menceritakan benteng itu benar dibangun tentara Portugis itu saat pertama kali menginjakkan kaki di daratan Halmahera.
Wanita paruh baya kelahiran Sanger tahun 1936 itu pernah merasakan bagaimana hidup dalam kondisi desingan peluru dan meriam saat terjadi pertempuran antara Belanda atas Portugis.
Dia mengisahkan, benteng peninggalan Portugis itu sebelum berdiri kokoh, utuh dan berbentuk bundar yang tinggi panjangnya sekitar 10x5 meter. “Benteng itu dorang (Portugis) bikin pake batu putih, ambe di laut”, kisahnya. Namun sayangnya wanita yang kini hidup sebatang kara itu mengaku sudah tak ingat tahun berapa benteng itu dibangun dan namanya pun juga telah hilang dari ingatannya akibat terkikis usia.
Tetapi menurutnya, benteng itu dibangun saat ia masih kecil dan pernah melihat bentuk benteng itu. “Bentuk bulat”, akuinya.
Dikisahkannya, setelah benteng itu dibangun pasukan Portugis, beberapa tahun kemudian terjadi penyerangan yang dilakukan oleh tentara Belanda. Invasi Belanda itu dilakukan lewat jalur laut, dengan menggunakan kapal perang yang berada di depan pantai Gamhoku.
Saat itulah terjadi perang cukup hebat. Desa Gamhoku pun dihujani peluru dan tembakan meriam. “Perang saat itu Belanda menang karena Portugis pe peluru abis jadi dorang kari maso utang trus jadi moro”, kisahnya.
Setelah berhasil menguasai Gamhoku, Belanda pun kemudian menduduki benteng itu dan melakukan ekspansi lebih luas hingga seluruh daerah Halmahera dan membentuk sistem pemerintahan pertama di Gamhoku sebelum Tobelo dengan nama Kecamatan Gamhoku. “Kecamatan pertama itu di desa ini dan itu dibentuk oleh Belanda”, tambahnya.
Sebenarnya nama Gamhoku itu pemberia Portugis dengan sebutan Gamuku. Namun setelah Belanda dan merebut kekuasaan nama itu kemudian diganti dengan nama Gamhoku. “Nama desa ini Portugis deng Belanda yang kase nama”, katanya.
Wanita tua yang masih aktif berkebun itu menjelaskan nama Gamhoku artinya kampong angus karena sebelum Portugis masuk, pernah terjadi peperangan sehingga diberi nama oleh Portugis Gamuku, nama itu kemudian dirubah oleh Belanda lantaran menurut dia Belanda memberikan nama yang sama karena melihat kondisi desa saat itu terbakar api. “Dulu perang cuman tembakan peluru dan meriam”, kisahnya.
Sayang, memasuki abad ke 21, benteng peninggalan Portugis itu hilang lantaran kurangnya perhatian. “Orang datang ambe dia pe batu biking rumah jadi so tar dapa lia, skarang cuman tinggal fondasi yang so tatutup tanah”, tambah Adriana pemilik lahan itu.
Bahkan bukit tempat berdirinya benteng itu saat ini telah dibangun rumah yang tak lain pemilik lahan itu. Meski begitu masih terlihat sisa-sisa batu putih di atas bukit itu.