.:: Home > Artikel
TAMPILKAN ARTIKEL ANDA BERTEMAKAN HALMAHERA UTARA DI SINI!
Kami menerima artikel bertema Halmahera Utara untuk ditampilkan di situs ini.
Artikel dapat berupa pemikiran ataupun pengalaman anda selama berada di Halmahera Utara.
Artikel anda dapat dipublikasikan setelah terlebih dahulu mendaftar sebagai user.
ASAL MULA SUKU TOGUTIL DI BUMI HALMAHERA
(02-12-2010)  Theo S. Sosebeko


Berawal dari maksud mencari rempah-rempah, tanah Maluku yang terkenal akan cengkeh dan pala menjadi incaran bangsa Eropa yang lalu berlomba-lomba datang untuk menguasainya.


Pada tahun 1546, Portugis mulai menyisir setiap pantai dan pulau yang ada di bumi Maluku Utara. Teluk Galela tidak ketinggalan. Tahun 1570 Sultan Khairun diracuni oleh Portugis saat sedang melangsungkan perundingan. Putranya, Sultan Babullah bersumpah untuk mengusir Portugis keluar dari benteng-benteng mereka dan secara gencar mengincar dan mengempur setiap kubu pertahanan portugis termasuk yang terdapat di Mamuya yang tidak tercatat dalam sejarah.

Peristiwa ini banyak memakan korban di pihak Portugis. Bantuan kapal yang datang juga tidak lepas dari incaran. Salah satu kapal besar yang berlayar menyusuri kali Tiabo, pada waktu itu sebagian lembah Galela masih tergenang air, akhirnya karam di daerah Dokulamo yang berada pada posisi 3 Km dari kali Tiabo dan 9 km dari tepi pantai. Saksi mata sekaligus pemilik lahan, Alm. Yulianus Senyenyi, pernah berkisah bahwa ketika dirinya sedang mengolah lahannya dirinya menemukan bangkai kapal berukuran panjang 30 depa atau sekitar 45 meter dan lebar 9 depa (15 meter).


Sayangnya rongsokan bangkai kapal tersebut habis dimakan karat dan sebagian besar besinya telah diangkut hingga tidak tersisa lagi. Tempatnya karam bahkan saat ini sudah ditanami kelapa. Daerah tersebut oleh penduduk desa Dokulamo dinamakan daerah Kakapal.

Kapal Portugis tersebut masuk ke hulu Tiabo untuk menghindari pengejaran pasukan Korakora Sultan Ternate. Sayangnya mereka bernasib sial karena meskipun berhasil meluputkan diri namun pasukan Alifuru di pedalaman Galela telah menanti. Pertempuran pun tak dapat dielakkan lagi.


Pada serangan pertama, pasukan Portugis dengan senjata apinya berhasil memakan banyak korban di pihak Alifuru. Hal ini memaksa pihak Alifuru untuk mundur sembari mengatur kekuatan dan siasat tempur baru.

Serangan kedua pun dilakukan, namun kali ini tidak lagi menggunakan kekuatan fisik dan kontak senjata. Pasukan Alifuru menggunakan lebah sebagai kekuatan untuk melumpuhkan musuh. Serangan ini membuat pasukan Portugis yang berada baik di kapal maupun di darat menjadi kalang kabut ketika kawanan lebah datang dari berbagai arah untuk menyerang mereka.


Sengatan lebah-lebah ini ternyata menimbulkan banyak korban di pihak Portugis. Upaya penyelamatan dilakukan dengan api dan belerang serta serangan balik dengan tembakan yang membabibuta, membuat pasukan Alifuru mundur dan menghindar dari peluru-peluru nyasar. Mundurnya pasukan Alifuru digunakan oleh Portugis untuk segera meninggalkan kapal dan daerah Dokulamo menuju arah selatan. Mereka bermukim di daerah Gunung Hum dan kemudian menamakan daerah tersebut Rum yang mengisyaratkan bahwa daerah itu adalah tempat tinggal orang-orang yang berasal dari Rumawi.

Orang-orang Portugis di daerah Hum/Rum tidak dapat tinggal dengan tenang dikarenakan orang-orang Galela sering mengusik ketentraman mereka. Mereka pun kemudian memilih hijrah ke daerah Tobelo dengan menepati bebukitan Karianga arah selatan daerah Wangongira, Kusuri, lembah Kao, batang sungai kali Jodo menuju arah Tetewang. Perpindahan ini mempertemukan mereka dengan sesama bangsanya yang bernasib serupa di sekitar Pasir Putih yang kapalnya karam.


Sebagian dari mereka menetap dan menyatu dengan masyarakat setempat. Untuk menghilangkan jejak sebagai orang Portugis mereka pun belajar bahasa Tobelo dan berusaha keras menghilangkan aksen bahasanya. Mereka kemudian hidup bergaul dengan orang Tobelo dan Kao yang pada akhinya membuat kebanyakan orang Togutil berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Tobelo Boeng dan Modole. Upaya-upaya ini dilakukan untuk menghindari kejaran pasukan Ternate dan Alifuru terhadap sisa-sisa orang Portugis di Maluku Utara yang lari ke hutan.

Pada perkembangannya, orang-orang Portugis ini kemudian hidup dengan cara berpindah-pindah ke daerah yang mereka anggap lebih aman sambil tetap berkembang biak. Populasi mereka diketahui menempati hutan di selatan Halmahera Utara sampai ke hutan Wasilei di Halmahera Timur. Mereka senang tinggal ditepian sungai. Rumah mereka terbuat dari kayu bulat beratapkan daun rumbia atau daun woka tanpa dinding. Pola makan mereka adalah dengan menyantap makanan mentah atau dimasak dengan cara dibakar dengan bambu. Air kebanyakan mereka minum langsung dari sungai.


Perawakan suku Togutil yang belum kawin campur adalah seperti orang Portugis pada umumnya. Mereka berperawakan tinggi besar, berkulit putih dan berhidung mancung. Anak-anak perempuan mereka cantik-cantik dengan bola mata yang berwarna bening-keabuan. Pola hidup mereka masih sangat bergantung pada hasil alam. Makan dari buah-buahan, umbi-umbian, pucuk-pucuk daun muda dan dari hasil buruan binatang hutan dan ikan sungai.

Ketergantungan mereka pada alam membuat mereka memiliki pola hidup nomaden. Setelah persediaan umbi-umbian dan buah-buahan serta hewan menjadi berkurang mereka akan berpindah ke daerah baru. Demikianlah sehingga mereka kemudian dikenal sebagai pemilik hutan Halmahera mengingat merekalah yang pertama menjelajahi dan menempati hutan Halmahera.

Pola hidup suku Togutil yang sudah berbaur dengan masyarakat dapat dilihat dari kemampuan mereka dalam bercocok tanam umbi-umbian dan buah-buahan serta tanaman tahunan sehingga hidupnya tidak lagi berpindah-pindah tempat. Mereka juga sudah dapat menggunakan alat-alat pertanian dan berbusana dengan baik.

Suku Togutil kini bukanlah suku terasing tapi lebih merupakan suku asli penghuni rimba Halmahera. Butuh perhatian, kepedulian dari berbagai pihak untuk mengangkat harkat dan martabat hidup mereka layaknya masyarakat Halmahera lainnya. Caranya bukan dengan membangun perumahan bagi mereka di tepian pantai dan lalu memaksa mereka keluar dari hutan sehingga kita dapat merampok semua kekayaan hutan yang telah mereka tinggalkan tanpa mempertimbangkan sebab akibat.

Rumah yang dibangun akan tetap menjadi kosong karena pada dasarnya mereka bukanlah orang pesisir. Hutan adalah istana hidup sedangkan pesisir pantai adalah petaka hidup bagi mereka yang disebut Togutil.

KOMENTAR ANDA
Rajab Sukardi: tulisan ini cukup mengobati saya atas kerinduanku terhadap bumi halmahera. thanks bung theo. saya asli jawa tapi kecil dan bersekolah di dodaga thn80an.banyak kawan2ku anak2 pedalaman. mereka cukup baik and cukup cerdas. soal asal muasal mereka iitu yang masih kabur. tulisan bung theo cukup bagus, hanya saran saya agar lebih banyak di dukung bukti sejarah yang banyak agar lebih meyakinkan. salam sejahtera untuk sobat2ku di tobelo & dodaga. dariku di bandar lampung.sumatera.
Rajab Sukardi: sewaktu kecil di dodaga aku punya banyak kawan2suku togutil. mereka cukup cerdas. meski aku asli orang jawa tapi aku lancar beriteraksi dngan mereka. bahasa mereka bahasa tobelo. setahuku di haltim ada suku maba. kenapa orang2 togutil hanya berbahasa tobelo. jadi menurutku suku togutil bukan dari portugis. ayo putra2halmahera, siapa yang mampu menelusuri asal-usul suku togutil, mereka juga aset lho...
Lio: maaf crita diatas tdk ada referensi sm skali,.tdk ada keterangan waktu sm skali,tdk jelas ini hasil penelitian atau cm kabar burung..tdk jls kategori sejarah atau mitos/crita rakyat,..apa wkt itu sdh ada kapal besi?setahu saya blom ada kapal besi jaman baabullah, kalaipin betul itu bangkai kapal lebih mgkin peninggalan PD II(HOAX),potugis tdk sama dangn Romawi (HOAX)...maaf
Witno Ngongare: meis: emangnya saat ini suku togutil tidak sama dgn kita? mereka udha sma kyk kita suda sring bersama" anak desa...... btul kita layani sprti klian layani aku,,,, hahahahaha
Meis: perlu di perhatikan suku togutil supaya menjadi warga yg bisa seperti kita. ttp layanilah mereka,,, hotu ye,,,
halaman [1] [2] [3]