.:: Home > Artikel
TAMPILKAN ARTIKEL ANDA BERTEMAKAN HALMAHERA UTARA DI SINI!
Kami menerima artikel bertema Halmahera Utara untuk ditampilkan di situs ini.
Artikel dapat berupa pemikiran ataupun pengalaman anda selama berada di Halmahera Utara.
Artikel anda dapat dipublikasikan setelah terlebih dahulu mendaftar sebagai user.
MENGENAL BEBERAPA JENIS RUMAH ADAT DI HALMAHERA UTARA
(24-08-2010)  Administrator

Share

Sumber: Magda (www.liputanindonesianews.com)

Rumah adat adalah rumah utama yang dimiliki oleh masyarakat Hoana Ngimoi sebagai simbol kekerabatan, pusat pertemuan dan tempat penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual yang telah diwarisi sejak para leluhur. Ada empat jenis rumah adat di Kabupaten Halmahera Utara yaitu :

1. Rumah Adat Tobaru (Salu)
Rumah adat Tobaru yang bernama Salu artinya “bertahan”, rumah ini berbentuk delapan sudut dengan ornament binatang yang dianggap sakral dan biasanya diukir pada mafana rumah dan tiang-tiangnya. Bertolak dari arti namanya yakni “bertahan”, maka masyarakat Tobaru masih menjunjung tinggi nilai-nilai hukum adat yang berkaitan dengan fungsi rumah adat itu sendiri.

Rumah adat ini biasanya digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah tertentu yang berkaitan dengan aturan-aturan adat yang dilanggar oleh masyarakat. Dengan demikian jika setiap persoalan yang diselesaikan di rumah adat tersebut selalu diakhiri dengan pemberian sanksi/denda adat (Bobangu) agar perbuatan mereka tidak terulang kembali.

2. Rumah Adat Galela (Bangsaha)
Rumah adat Galela yang bernama Bangsaha berasal dari kata “Bangi ma soha” artinya alas atau dasar bangunan. Rumah ini berbentuk delapan sudut dengan ornament ukiran binatang pada mafana (bumbungan) dan tiang-tiangnya. Pemahaman masyarakat Galela yang bermukim di daerah pedalaman (hoana morodina) masih sama dengan masyarakat Tobaru, hanya fungsi rumah ini selain penyelesaian pelanggaran adat juga sebagai rumah pertama yang dibangun oleh masyarakat ketika menempati sebuah kampung (goge). Sehingga setiap hasil usaha perdana seperti membangun rumah atau panen, selalu dilakukan upacara adat di dalam bangsaha.

Sedangkan masyarakat Galela luar yang bermukim di pesisir (Hoana morodai) rumah adatnya tetap berbentuk segi delapan, namun ornamennya menggunakan ukiran perahu pada tiap mafana rumah dan tiang-tiangnya. Pemahaman masyarakat Galela luar lebih menempatkan bangsaha sebagai tempat pertemuan untuk kepentingan bersama (bari) dan usaha bersama (jojobo). Rumah adat Bangsaha di Galela sering juga disebut Sibualamo artinya sabua besar.

3. Rumah Adat Loloda (Salu)
Rumah adat Loloda yang bernama Salu artinya kekuatan, rumah ini berbentuk segi delapan namun dengan mafana rumah yang berbentuk lancip (suai), dengan ornament perahu pada mafana dan masing-masing tiang. Salu lebih banyak terdapat di Loloda pedalaman dalam bagian selatan. Fungsinya hampir sama dengan rumah adat Salu di Tobaru dan Bangsaha di Galela pedalaman. Dengan demikian pemahaman masyarakat Loloda, Tobaru dan Galela pedalaman terhadap fungsi rumah adat hampir sama. Hal ini disebabkan wilayah penyebaran komunitasnya saling berinteraksi dan hal itu ditandai dengan dialek yang hampir sama (dialek kadina), sehingga komunitasnya dari sisi geologis menjadi satu (hoana morodina). Rumah adat Salu di Loloda juga sering disebut Sabuagilamoko artinya sabua besar.

4. Rumah Adat Tobelo (Halu)
Rumah adat Tobelo bernama Halu berarti “diangkat” atau ditinggikan. Rumah ini berbentuk segi delapan untuk masyarakat Tobelo pedalaman. Ornamentnya berbentuk ukiran binatang pada mafana dan motif anyaman pada tiang-tiangnya. Untuk masyarakat Tobelo pedalaman, rumah adat ini berfungsi sebagai tempat untuk mensyukuri berbagai hasil panen yang diperoleh oleh masyarakat (Hoana Lina, Gura, Huboto, Momulati). Sedangkan untuk masyarakat Tobelo luar, rumah adat ini berfungsi sebagai tempat pertemuan untuk membicarakan kepentingan bersama (hirono) dan usaha bersama (jojobo) tetapi juga sebagai pusat higaro, sehingga rumah adat ini juga disebut Hibualamo yang artinya sabua besar (Hoana Lina, Gura, Huboto, Mumulati, dan Boeng).

KOMENTAR ANDA
ALI MAKSUM FONAE: SAYA MAU HALUT JADI DAERAH YANG PENTING DI MALUKU UTARA.SAYA MAU PELABUHAN TOBELO DI PERBAIKI KARENA SEIL MOROTAI SUDAH DEKAT....?
ALI MAKSUM FONAE: SAYA MAU YANG PENTING OKE
Ryady Lahasani: tobelove : rumah adat tobelo merupakan peninggalan tete moyang orang halut,maka perlu dilestarikan kalau lebih berkesan mendingan gambarnya, biartorang dirautau juga selalu ingat tobelo.
Tobelove: Betul betul betul
Jelei: Rumah adat ini lebih bagus kalau ada fisualnya (gambarnya)Supaya dapat dinikmati lebih baik oleh para arsitek yang fokus pada rumah tradisional.
halaman [1] [2]