.:: Home > Artikel
TAMPILKAN ARTIKEL ANDA BERTEMAKAN HALMAHERA UTARA DI SINI!
Kami menerima artikel bertema Halmahera Utara untuk ditampilkan di situs ini.
Artikel dapat berupa pemikiran ataupun pengalaman anda selama berada di Halmahera Utara.
Artikel anda dapat dipublikasikan setelah terlebih dahulu mendaftar sebagai user.
14,29 KM MAMUYA-DUKONO
(02-09-2010)  Eben Haezer BA

Share

Setelah cukup lama memendam keinginan untuk mendaki Dukono melalui jalur Mamuya, akhirnya saya berhasil melakukannya pada Agustus 2009. Bersama seorang teman Irlandia dan dua orang pemandu lokal asal desa Mamuya kami sangat berambisi menaklukan Dukono.


Sebenarnya kami berencana untuk memulai pendakian pada pukul 07.00. Hanya saja keterbatasan sarana angkutan umum dari Tobelo ke Mamuya menyebabkan kami harus terlantar selama hampir 2 jam menunggu. Baru pada pukul 09.00 ada mobil penumpang ke Mamuya yang mengangkut kami.

Di Mamuya atas bantuan seorang warga kami lantas menemui pemandu kami, Mr. Petrof yang tinggal di dekat gereja tua. Katanya beliau adalah pemandu terbaik di desa itu. Tanpa perlu lama berbasa-basi perjalanan pun kami mulai.


Sepanjang perjalanan kami banyak memperoleh info mengenai Dukono. Mr. Petrof mengatakan bahwa sejak masih anak-anak dirinya sudah sering naik-turun Dukono sampai-sampia dia tak ingat lagi jumlahnya. Dari dirinya pula saya memperoleh informasi bahwa nama Dukono berasal dari kata dalam bahasa Galela yang berarti gunung api.

Perjalanan ke Dukono saat itu memang berat. Hujan yang tidak turun selama beberapa hari menyebabkan vegetasi hutan dipenuhi abu gunung dan siap mengotori anda dengan sedikit saja sentuhan. Hal terburuk dari situasi ini selain menjadi kotor adalah anda akan kesulitan bernafas.


Rute Mamuya-Dukono sejauh 14,3 Km saat itu kami tempuh dalam waktu hampir 7 jam. Sekitar 11.13 Km darinya adalah dengan melewati perkebunan penduduk dan hutan dengan medan yang relatif datar. Sisanya sekitar 3 Km adalah pendakian yang sesungguhnya.

Bagi anda yang ingin mempersingkat jarak sampai dengan 5,4 Km dapat menggunakan ojek yang dapat disewa dari penduduk Mamuya. Dengan mobil anda bahkan bisa menghemat jarak hingga 8,4 Km.


Ada pengalaman menarik sewaktu kami tengah berada di hutan. Ketika itu kami melihat seekor ular yang sedang bergelantung di pohon di samping jalan yang kami lalui. Sayangnya ketika kami sedang asyik mengambil gambar tiba-tiba tanpa ampun ular itu langsung di tebas oleh pemandu kami. Tak pelak hal itu membuat teman saya menjadi kaget dan marah. “Mengapa membunuh ular…?? Tidak ada ular beracun di Halmahera!!” protesnya.

Setelah berjalan sejauh 11 Km melewati hutan, kami tiba di suatu area berpasir yang dinamakan Pasir Besar. Dari sini kubah Dukono baru mulai nampak. Saya katakan mulai nampak karena sewaktu melewati hutan anda tidak akan melihat kubahnya sama sekali.


Sekitar 30 menit lepas dari area Pasir Besar terlihat suatu rangka rumah-rumahan di lokasi yang umumnya digunakan untuk mendirikan tenda. Pada musim hujan sejatinya di sini terdapat danau mini yang airnya dapat dimanfaatkan. Hanya saja sewaktu kami berada di sana kondisinya kering. Setelah mendirikan tenda kami lantas mencari tempat yang lebih tinggi untuk menantikan momen matahari terbenam di belakang kubah Dukono.

Bermalam di Dukono dengan ketinggian yang hanya 1185 dpl tidak akan membuat anda kedinginan. Hanya saja anda harus tetap waspada terhadap tikus-tikus agresif yang ada di sana.


Pagi-pagi sekali seperti yang sudah direncanakan kami mulai mendekati kubah Dukono. Dari lokasi kemah sampai ke pinggiran kawah masih berjarak sekitar 1,7 Km. Pagi itu Dukono tampak tenang. Namun saat kami hampir mencapai tepian kawah tiba-tiba Dukono kembali bererupsi. Erupsi abu yang pertama di hari itu.

Mendekati kawah di saat Dukono sedang menyemburkan material abu membutuhkan kehati-hatian ekstra. Dengan arah angin yang berubah-ubah, anda harus menjauhi kawah saat angin bertiup ke arah anda jika tak ingin mandi abu. Setelah sekitar 40 menit naik-turun lalu kemudian naik lagi kami akhirnya berhasil mencapai pinggiran kawah Dukono.


Selama 2 jam berada di sana kami menyaksikan aktifitas yang terjadi di dalam kawah Dukono. Pijar api dan lontaran batu disertai suara gemuruh terkadang membuat saya menjadi ngeri sendiri. Belum lagi bau belerang tajam yang membuat tenggorokan menjadi lebih cepat haus.

Berada di puncak sembari menikmati panorama alam memang memberikan kepuasan tersendiri. Sejauh mata memandang ke arah timur tampak gunung Mancile, Balusu dan Mamuya berderetan. Menurut pemandu kami, di hari yang cerah kita bahkan bisa melihat puncak Gamalama. Sayangnya sewaktu berada di sana saya hanya melihat puncak Ibu, Gamkonora dan Gunung Supu di Loloda.


Turun dari kubah dan setelah beristirahat sejenak kami lantas bersiap untuk turun gunung. Dalam perjalanan pulang sempat kami sesekali berhenti untuk menikmati segarnya air kelapa muda yang disediakan pemandu kami.

Dengan rute tempuh yang panjang, perjalanan ke Dukono memang salah satu yang paling melelahkan buat saya. M. Rietze, seorang pecinta gunung api asal Jerman yang pernah mendaki pada 2009 bahkan mengatakan bahwa hasil dari pendakian Dukono adalah suatu petualangan gila yang tidak akan dilewatkan begitu saja. Hal ini menunjuk pada keadaan betapa kotor dan hausnya dirinya kala itu. Selengkapnya mengenai sharing M. Rietze silahkan mengaksesnya di alamat www.tboeckel.de/EFSF/efsf_wv/indonesia_09/Indonesien_09_II/Indonesia_2009_II_e.htm.

Jalur Mamuya atau Ruko?
Meskipun jarak tempuh Dukono melalui Ruko (14,33 Km) dan Mamuya (14,29 Km) hampir sama namun keduanya akan membawa anda tiba pada lokasi dan panorama yang sama sekali berbeda. Berbeda dengan jalur Mamuya yang masih memiliki rute yang jelas, pada jalur Ruko terkadang anda masih harus membersihkan semak belukar yang menutupi jalan. Hal ini disebabkan jalur Ruko bukanlah jalur yang umum dilalui.

KOMENTAR ANDA
Syarif.D.A.Sambuaga: I was born in Posi2 Loloda.I am now in Medan North Sumatra. I stll remember my childhood in Tobelo, Galela-the view is very beautiful. Iam sure one day I'll be able to go back there.
Hadi Bastiong: Ini merupakan anugrah yang kuasa saya mengharapkan agar generasi muda sadar akan daerahnya yang begitu kaya akan potensi alamnya, sebagai generasi yang mawas dan sadar terhadap kelestarian alamnya. Jangan haya bisa mengeritik, tapi harus bisa berbuat yang terbaik bagi negara ini khususnya Halmahera Utara. Ini merupakan kesempatan bagi generasi muda yang berminat di bidang pariwisata, untuk menunjang semua ini saya harapkan kepada semua generasi muda agar mengenal daerahnya terlebihdahulu, bagaimana kita biasa memandu kalau kita saja belum mengenal daerah kita.
Togolino: Segala puji bagi tuhan semesta alam,,, kisah yg yg menarik, syarat dgn informasi.. thanks brother.. putra daerah dieberang sellau menanti informasi terbaru.. mohon sharing.
Ali Maksum Fonae: kota tobelo memang so bagus tapi dia pe pelabuhan kase bagus karna seil moroti so modatang.jadi tobelo jadi pintu gerbangnya morotai
Wawan Kurniawan: saya redaktur halaman plesir Malut Post, sebelumnya saya minta izin untuk memuat tulisan serta foto anda, di halaman wisata alam, sesai kaidah jurnalistik, saya akan menggunakan nama penulis beserta alamat WEB lengkap. Demikian saya sampaikan, semoga wisata Halmahera Utara bisa lebih dikenal masyarakat Dunia pada umumnya dan Maluku Utara pada khusunya. Terima kasih..
halaman [1]